Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 123


Ketika dia masih berada di atas pohon, Thomas masih merasa biasa saja.


Tapi, ketika dia sudah turun dari pohon dan berjalan mendekat, Thomas baru menyadari kalau macan tutul ini sebesar anak sapi!


"Astaga! jangan mendekat... kalau kamu maju lagi, aku, aku akan teriak!"


Thomas menghadang di depan Winda, wajahnya pusat pasi dan tidak hentinya melangkah mundur.


Meskipun dia baru saja mencapai tahap kedua ilmu tenaga dalam, berada ditahap penyebrangan dasardimana seluruh meridian sudah dilancarkan, namun tahap penyebrangan dasar dia berbeda dengan petarung lainnya.


Jika harus menghadapi macan tutul ini, Thomas sama sekali tidak percaya diri.


Namun macan tutul ini sepertinya memahami apa yang Thomas katakan, dia langsung berdiri diam dan tidak bergerak lagi.


Kemudian dia tengkurap di tanah sambil menjilati cakar juga tubuhnya.


Dan pada saat ini sebuah gerakan yang begitu familiar terasa dari belakangnya.


Thomas langsung bergidik dan menolah, dan detik berikutnya dia mendapati ada seorang gadis yang berusia 15 tahunan yang berjalan ke arahnya dengan santai.


Wajahnya begitu cantik, pakaiannya sederhana, kakinya mengenakan sepatu bahan, rambut yang dkepang kebelakang, juga menggendong sebuah ransel usang.


Terlihat seperti murid SMP angkatan tahun 70-an.


"Siapa kalian?" tanya gadis itu dengan bingung.


Keeingat dingin Thomas mengalir, lalu berkata dengan suara gemetar, "Jangan emndekat, di sini adalah seekor macan tutul!"


Saat ini dia sama sekali tidak sempat berpikir anak gadi ini muncul darimana.


"Macan tutul?" gadis itu memiringkan kepalanya, tatapannya mendarat di Thomas dan Winda lalu mendarat di macan tutul.


"Jun, kemari."


......


Ketika Thomas sedang tercengang, macan tutul berdiri perlahan, sambil berjalan ke arah gadis itu dengan ekor yang bergoyang.


Ketika dia sampai disamping gadis itu, dia lansgung duduk dengan jinak.


Bahkan menjilati lengan gadis itu dengan akrab.


Thomas tercengang sambil dagunya nyaris jatuh, "Kamu, kamu, kamu siapa?!"


"Aku adalah penjaga hutan di wilayah ini, kamu sendiri siapa?"


Gadis itu mengamati Thomas dan Winda, ekspresinya terlihat aneh, seharusnya tidak mungkin ada turis yang muncul di sini.


"Kami adalah turis, tidak sengaja terpencar dari tim." Thomas sadar dan asal membuat sebuah alasan.


Kondisi yang sebenarnya tidak mungkin dia katakan, pada saat ini dia sudah merasakan ada yang tidak beres.


Gadis yang usianya masih begitu kecil bisa begitu akrab dengan seekor macan tutul, ini sungguh hal yang sangat aneh.


Ditambah lagi dia muncul di tempat yang terpencil seperti ini.


Penjaga hutan? diusia yang begitu kecil mana mungkin menjadi penjaga hutan.


Tanpa sadar dia berpikir kalau ini adalah daerah kekuasaan Keluarga Hermawan, dan gadis ini kemungkinan anggota Keluarga Hermawan.


Dan ucapan gadis ini menunjukkan kalau tebakan Thomas memang benar.


"Katanya semalam ada dua orang pencuri yang datang, jangan-jangan kalian berdua orangnya..."


Meskipun suara gadis ini sangat lirih, namun Thomas mendengarnya.


Kali ini Thomas yakin 100 persen.


"Hei, siapa namamu?" tanya gadis itu.


Thomas menenangkan diri dan berkata: "Namaku Thomas Widjaja, Dia Winda Chandra, kami benar-benar..."


Tiba-tiba gadis itu langsung membelalakkan matanya.


"Kakak ipar?!"


"Apa?"


Panggilan kakak ipar ini langsung membuat Thomas tercengang.


"Gak, kamu pasti salah mengenali orang ya kan!"


Gadis itu bertanya dengan wajah terkejut, "Memangnya kamu bukan Thomas Widjaja?"


"aku orangnya."


"Kamu punya seorang calon istri yang namanya Jenika Hermawan, itu kakakku!"


"Kakak ipar, aku adalah Joanna Hermawan!"


Thomas: "..."


Winda melirik Thomas dengan ekspresi aneh, ada perasaan cemburu yang muncul samar-samar dalam hatinya.


Orang ini punya calon istri, kenapa dia tidak tahu.


"Kakak ipar, kenapa tidak mengabari kalau mau datang, aku sangat hafal daerah sini, aku bisa menjadi pemandu wisatamu!"


Joanna begitu senang.


Selama satu bulan ini dia bertanggungjawab menjaga hutan ini, beberapa terakhir ini hampir membuatnya gila, sekarang kebetulan bertemu dengan Thomas, ini sungguh membuatnya senang.


Akhirnya ada orang yang bisa diajak bicara.


Thomas hanya merasa aneh karena tiba-tiba muncul seorang adik ipar.


Namun dia sama sekali tidak curiga ucapan Joanna palsu.


Dari paras Joanna, samar-samar dia bisa melihat bayangan Jenika, mereka memang benar kakak beradik.


"Joanna... uhm, senang berkenalan denganmu." Thomas tersenyum dan berkata, "Oh iya, itu, aku masih ada sedikit urusan, aku pergi dulu."


Setelah mengatakannya Thomas langsung berbalik, dia memberikan isyarat pada Winda lalu pergi dengan cepat.


Namun baru berjalan sepuluh langkah, suara Joanna yang dingin terdengar dari belakang Thomas, "Jun, hadang mereka!"


Kemudian Thomas melihat sebuah bayangan hitam yang melesat dari atas kepala mereka dengan iindah, lalu mendarat tepat di hadapan mereka.


Langkah Thomas langsung tersentak dengan keringat dingin yang mengucur.


Bukankah tadi masih baik-baik saja!


Apa-apaan ini?"


"Kakak ipar, kamu mau kemana?"


Tangan kiri Joanna memegang sekuntum bunga kuning dan berjalan perlahan, mata yang begitu jernih terlihat begitu licik.


"Aku masih ada urusan penting sehingga harus segera kembali... oh iya, Jo, Joanna..." wajah Thomas memperlihatkan senyuman palsu yang dipaksakan, "Tolong bantu aku menyampaikan pesan untuk kakakmu, ayahmu, ibumu... oh iya juga kakekmu ya, bilang lain kali aku akan datang menengok mereka."


"Kakak ipar, aku sudah menjaga hutan di gunung ini selama 20 hari lebih, rasanya bosan sekali, bolehkah kamu menemaniku mengobrol?" ucap Joanna dengan suara yang manis dan manja.


Thomas melirik macan tutul lalu tersenyum, "Joanna, aku benar-benar ada urusan penting..."


"Kalau benar demikian, baiklah." ekspresi wajah Joanna langsung berubah lalu berkata dengan nada dingin, "Tapi kakak ipar, aku beritahukan satu hal padamu terlebih dahulu ya, setiap kali aku merasa tidak senang, Jun pasti ingin memakan orang loh."


......


"Eeeeh..."


"Tiba-tiba aku ingat kalau urusanku sepertinya tidak terlalu penting, aku bisa tetap tinggal dan mengobrol denganmu kok." ucap Thomas sambil tersenyum.


"apa aku bilang, kakak iparku itu orang yang baik." Joanna mengangguk dengan puas, lalu menepuk punggun Jun sambil berkata, "Ayo, aku pergi kalian ke rumah pohon."


Setelah mengatakannya, Joanna membawa Jun sang macan tutul pergi.


Thomas menoleh dan memberi isyarat pada Winda.


Saat ini Winda baru sadar, dia hanya tersenyum dan mengikuti Joanna, ketika melewati Thomas dia hanya berkata dengan sinis.


"Adikmu sangat keras kepala, tidak disangka adik iparmu juga tidak jauh berbeda."


Thomas membuka mulutnya dan seketika kebingungan harus mengatakan apa, dia tdiak tahu harus menjelaskan apa pada Winda.


Winda terlihat begitu tenang, namun sebenarnya dalam hatinya sudah penuh dengan gejolak sejak semalam.


karena dunia ini tanpa sadar berubah menjadi sangat sulit dia pahami.


Joanna membawa Thomas dan Winda berkeliling di dalam hutan, dia tidak hentinya memberikan berbagai pertanyaan pada Thomas.


Sementara Thomas sama sekali tidak fokus, membuatnya sering bingung menghadapinya.


Sampai mereka bertiga tiba di depan rumah kayu.


Thomas tercengang.


Winda juga tercengang.


Karena di atas rumah kayu ini, ada seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun yang berdiri dengan tangan, sekujur tubuhnya memancarkan aura yang sangat kuat.


Dia hanya melirik ke bawah dari ketinggian seperti itu, seolah merendahkan dunia dan menatap Thomas juga Winda dengan tatapan datar.


Setelahnya dia berkata dengan nada tidak senang, "Joanna, siapa mereka?"