Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 112


Penampilannya sempat membuat Thomas terlena sejenak.


Harus diakui, Winda sangat cantik, bahkan kecantikannya merupakan tipe yang begitu menggoda.


Winda berjalan ke hadapan Thomas, aroma parfum yang lembut menjalar masuk ke dalam rongga hidung Thomas.


"Wow, kamu cantik sekali!"


Begitu melontarkannya Thomas langsung menyesal. Dia berniat mengatakan sesuatu yang lain, namun Winda sudah tersipu dan berkata dengan lirih, "Terima kasih."


Oke, wanita ini memang sangat cantik, tapi kalau mau dibandingkan sama gue mah...


Milka berpikir dalam hati, akhirnya dia menemukan sebuah alasan yang masuk akal: Huh! Belagu banget sih? Gue lebih muda dari dia, entar gue makin cantik dia makin tua kayak nenek-nenek.


"Oh iya... Dek Milka, bukannya kamu harus naik?"


Thomas menunjuk ke atas.


Bukannya dia tidak suka dengan Milka, melainkan karena ada yang ingin dibicarakan dengan Winda.


"Huh! Gue juga males ngeladenin lu!" Milka memasang wajah mengejek, lalu masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.


Begitu melihat Milka pergi, Thomas juga merasa lega. Dia menoleh dan berkata pada Winda sambil tersenyum, "Baiklah, sekarang hanya ada kita berdua, ada masalah apa bicaralah, atau... mau bicara di ruang VIP?"


Wajah Winda kembali merona dan berkata, "Mending kita bicara di luar saja."


"Boleh." ucap Thomas dengan wajah tersenyum.


Sehingga mereka berdua keluar dari Tasty dan berjalan santai di trotoar jalan. Namun, ketika berjalan sampai di bawah pohon di mana kalung itu tersangkut, Winda menghentikan langkahnya.


"Begini Thomas, ada satu hal... yang harus kukatakan padamu."


Setelah ragu sesaat, Winda memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya, meskipun Thomas mungkin akan mengabaikannya setelah dia mengatakan hal ini.


"Ok, aku dengerin kok." Thomas mengangkat bahunya dengan acuh.


Winda mengetatkan bibirnya, lalu berkata, "Thomas, begini, Ivan Chandra adalah adikku..."


"Oh..." Thomas sempat tercengang sejenak, lalu berkata dengan heran, "Kamu itu kakaknya Ivan? Kok gak mirip!"


"Kami... kakak beradik sedarah tapi beda ibu." Winda menghela nafas, lalu melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya, aku menemuimu karena ingin membicarakan satu hal..."


Kemudian, Winda menceritakan tentang Ivan yang terbaring dengan luka parah, juga Jacquin yang meminta bantuan Markus, beserta niatannya untuk membalas Thomas.


"Oh, ternyata ini." Thomas mengangguk dengan tenang, lalu tersenyum, "Bukan masalah besar, tapi terima kasih."


Winda melihat Thomas tidak perduli dengan apa yang dia ceritakan, sontak merasa panik, "Thomas, mungkin kamu masih belum paham situasinya, Markus itu seorang mafia, dia juga pemegang saham terbesar di Bright Property, kamu harus lebih berhati-hati."


"Beneran gak apa-apa, dia juga udah nyuruh orang buat nemenuin aku." ucap Thomas.


"Apa? Kamu..." Winda terlihat bingung, namun dia tetap berkata dengan cemas, "Thomas, mungkin kamu tenang karena keluargamu memiliki kekuasaan dan menahannya. Tapi kekuasaan dia juga besar, naga gak mungkin menekan ular, 'kan? Aku takut dia bakal gunain trik kotor, Markus ini licik."


Ada banyak hal yang tidak bisa dia jelaskan secara singkat, apalagi statusnya merupakan sebuah rahasia. Thomas sama sekali tidak ingin Winda mengetahuinya.


Setelah berpikir sejenak, Thomas berkata, "Oke, makasih kamu udah ngingetin, aku bakal lebih berhati-hati."


Winda hanya menghela nafas.


Dia bisa merasakan, Thomas sama sekali tidak cemas akan hal ini. Namun yang bisa dia lakukan hanya ini karena dia tidak mampu menghentikan apa yang dilakukan oleh Markus.


Dia tidak bisa membiarkan Thomas dalam bahaya, bagaimana kronologi kejadiannya dia juga tahu secara garis besarnya.


Thomas memiliki seorang calon istri yang sudah membatalkan pertunangan dengannya, seorang wanita bernama Wanda Ningrat.


Lalu entah kenapa pada akhirnya dia menjadi pacar Ivan.


Kemudian karena selembar kontrak, ayah Wanda ingin memeras uang 2 triliun dari Bright Property.


Ivan menangkap Martin Ningrat untuk memancing Wanda datang. Setelahnya dia berniat jahat, tapi berhasil digagalkan oleh Thomas.


Kebetulan Thomas membawa seorang gadis, selagi anak buah Markus sedang memukuli Thomas, dia menikam Ivan.


Ternyata... dia sudah punya pacar lagi...


Pikirannya terhenti, Winda merasa agak kecewa.


"Intinya, kamu harus hati-hati."


"Hm." Thomas mengangguk.


"Hm." Winda juga mengangguk.


"Hmmm."


Tiba-tiba Thomas merasa canggung, karena dia masih belum bisa menemukan topik pembicaraan lanjutannya.


"Hmmm."


Dalam hati Winda berpikir, apa yang ingin dibicarakan sudah tersampaikan. Apa aku harus pulang sekarang?


"Hmmm."


Mateng! Gue meski ngomong apa nih? Thomas panik.


"Hmmm."


Winda hanya merasa wajahnya terasa panas.


"Hmmm..." bibir Thomas melengkung.


"Hmmm..."


Winda merasa sebal namun juga lucu.


Pada akhirnya, Thomas tidak lagi bertahan, dan melihat jam tangan digitalnya. Lalu, dirinya berkata dengan wajah memerah, "Baiklah, kita jangan ahmm ehmm lagi, sudah malam, bagaimana kalau aku antarkan kamu pulang?"


"Hmmm..."


"Hmmm... oh enggak! Ikut aku, lewat sini."


Thomas menggeleng lalu berbalik ke arah parkiran basement.


Winda segera mengikutinya.


Matanya tanpa sadar tertuju pada jam tangan Thomas yang harganya hanya sekitar empat ratus ribu rupiah.


"Oh iya, Thomas, jam tangan milikmu ini kelihatannya lumayan."


Winda ingin mencari topik pembicaraan, dan di sisi lain dia juga merasa penasaran.


Jam tangan digital ini sudah model lama, sepertinya ini jam tangan yang dibeli beberapa tahun lalu. Lebih cocok dipakai oleh anak SMA, namun jam tangan ini sama sekali tidak sesuai dengan status Thomas.


Terlalu ketinggalan jaman.


"Oh, yang kamu maksud jam tangan ini?" Thomas menggerakkan tangannya dan  berkata, "Jam tangan ini adalah hadiah ulang tahunku saat masih SMA, ayahku yang membelikannya."


"Kalau begitu jam ini pasti sangat berart bagimui." ada rasa iri yang muncul dalam hati Winda.


"Iya, ini adalah hadiah ulang tahun terakhir dari beliau, tidak lama setelahnya, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil."


Tampak ekspresi Thomas seketika terlihat murung.


"Maaf, aku tidak tahu." Winda menjadi lebih berhati-hati.


"Tidak apa-apa, hal itu sudah lama berlalu." ucap Thomas sambil tersenyum.


Mereka berdua tiba di parkiran basement, Thomas mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan menekal tombol kunci, lampu King Kalman berkedip beberapa kali.


Begitu melihat mobil King Kalman di hadapannya, Winda begitu terkejut.


Dia juga tahu kalau Thomas kaya, namun dia tidak menyangka dia akan sekaya ini.


Biasanya memiliki sebuah mobil sport seharga 6 miliaran saja sudah bisa dipamerkan. Apalagi ini bukan mobil sport, melainkan sebuah mobil Super SUV.


Dari sebuah mobil, kita akan bisa memahami sifat seseorang secara gamblang.


Sehingga ini memberikan nilai plus bagi Thomas di mata Winda.


Setelah membuka pintu mobil, Winda masuk, dan dia dibuat terkejut sekali lagi.


Dia bukan hanya seorang wanita yang gila kerja sampai heran melihat mobil mewah yang dihiasi oleh berbagai permata pada bagian atapnya, bahkan memancarkan bermacam kilauan warna warni.


Instingnya mengatakan, kilau warna warni ini berasal dari permata asli!


Ditambah emas yang melapisi bagian dalam mobil, Winda menghitung secara asal, mobil ini harganya kurang lebih sekitar 20 Triiliun.


Tebakannya tidak beda jauh dari harga aslinya. Tapi, dia tetap memastikan dengan bertanya, "Mobil ini pasti tidak murah ya?"


"Oh, gak kok." Thomas tidak ingin menyebutkan harga yang sebenarnya, jelas terlihat dia sangat rendah diri.


Namun ucapan ini bermakna lain di telinga Winda.


Dia langsung menyadari suatu hal, yaitu latar belakang keluarga Thomas, kemungkinan besar jauh lebih kaya dibandingkan dengan Bright Property.


Kalau tidak Thomas tidak mungkin mampu membeli mobil ini.


20 Triliun bukanlah angka kecil.


Dalam hati Winda merasa sangat terkejut.


Malam hari, lalu lintas tidak ramai, tidak sampai 20 menit Thomas sudah mengantar Winda sampai ke apartemennya.


Sebelumnya Thomas bekerja sebagai seorang kurir, dia tahu wilayah ini ditinggali oleh pekerja kantoran, dan tentu saja dia juga tahu kalau Winda tinggal sendiri.


"Baiklah, sudah sampai." Thomas menghentikan mobil dan berkata dengan wajah tersenyum.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang."


Winda membalas senyumnya, namun dia langsung teringat suatu hal.


"Oh iya, waktu itu kamu membantuku menemukan kalung, aku belum berterimakasih padamu. Kalau sempat aku ingin mentraktirmu makan, gimana?"


"Mungkin...aku ga akan ada waktu lagii!" ucap Thomas sambil menggaruk kepalanya dengan berat.


Dia ingin pergi, tetapi dia sudah berjanji pada Luna untuk berlibur ke Bali. Ditambah lagi dia tidak tahu berapa lama waktu liburannya.


"Kamu sibuk banget ya ternyata?" Winda merasa agak kecewa.


Dia juga tidak paham apa yang sedang dia rasakan dan harapkan.


Thomas tidak berpikir panjang, sehingga menceritakan rencana liburannya.


"Jadi mereka semua masih di Tasty, besok pagi langsung berangkat."


"Oh begitu..." Winda memaksakan senyuman meskipun kecewa, lalu berkata lagi, "Kalau begitu nanti saja saat kamu sempat."


"Baiklah."


"Hmmm, bye."


Winda melambaikan tangan lalu berjalan masuk ke apartemen.


Pada saat bersamaan, dia juga merasa ragu.


Winda, tipe wanita agresif.


Dengan keagresifan dirinya, dia berhasil mendapatkan kedudukkan yang begitu tinggi di Bright Property meskipun dia adalah putri Adrian Chandra.


Tidak butuh waktu lama, Winda sudah memutuskan. Dia kembali dan mengetuk jendela mobil Thomas.


Jendela mobil terbuka, Winda berkata dengan tegang, "Thomas, gimana kalau naik dulu ke apartemenku untuk mengopi sebentar?"