Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Peringatan Ringan


"Wanda, aku tidak mengerti apa yang sedang kamu katakan." jawab Thomas secara singkat.


"Thomas, jangan kira aku tidak tahu. Kamu membuntuti kami, tujuannya hanya karena ingin mendapat jawaban pasti dari ayahku, iya kan?"


Wanda tersenyum dingin dan berkata, "Sekarang ayahku ada di hadapanku, kalau kamu masih penasaran, kamu bisa langsung menanyakannya!"


”Wanda, aku rasa kamu terlalu percaya diri, kami datang ke sini untuk makan. Apalagi semua sudah berlalu, aku tidak ingin membicarakannya lagi."


"Kamu? Datang untuk makan? Memangnya kamu sanggup?!" tawa Wanda terdengar begitu dingin, dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Thomas.


"Aku memang datang untuk makan, mengenai sanggup atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu." Thomas melirik Wanda sekilas, dia merasa wanita ini sungguh angkuh.


Mereka hanya kebetulan bertemu, Restoran Tasty ini juga bukan milik mereka, atas dasar apa dia tidak boleh datang?


Di sisi lain, Martin juga merasa tidak senang.


Kalau di waktu lain, mungkin dia masih bisa memutuskan untuk bicara baik-baik dengan Thomas, namun malam ini dia ada janji dengan Tuan Chandra. Di saat yang begitu menentukan, dia tidak ingin ada yang mengacau.


"Thomas, karena sudah bertemu, maka kita bicarakan saja dengan jelas. Kuakui, memang Keluarga kami yang mengingkari janji terlebih dahulu, namun aku tidak menyangka kamu bisa membuntuti kami hanya karena ini, kamu sungguh keterlaluan." Sebagai orang yang lebih tua, nada bicara Martin terdengar lebih tegas.


Dia tidak ingin melontarkan kata-kata yang kasar pada putra asuh teman baiknya ini. Namun, karena sikap Thomas ini sudah benar-benar menyulut amarah Martin.


Kalau Thomas terus seperti ini, dan membuat Tuan Chandra merasa tidak senang, maka masa depan juga bisnisnya akan berantakan sepenuhnya.


Dulu saat bisnisnya gagal dan mengumumkan dirinya bangkrut, dia selalu berpikir untuk mencari kesempatan baru agar bisa kembali bangkit. Sekarang kesempatan sebesar ini sudah berada di hadapannya, bagaimana mungkin dia membiarkannya lewat begitu saja.


"Om Martin, aku rasa Om benar-benar salah paham." Thomas mengetatkan bibirnya.


Ucapan Martin ini sekali lagi membuat Thomas merasa begitu kecewa. Dulu dia sungguh bodoh, akhirnya dia bisa melihat wajah asli keluarga ini hari ini.


Kalau bukan karena sedang menunggu Dimas, dia sudah pasti berbalik dan langsung pergi. Bicara dengan mereka hanya akan menyia-nyiakan tenaganya saja.


"Thomas, cukup sampai di sini saja, kamu adalah anak yang baik, ingat untuk berada di jalan yang benar. Mengenai masalah ini, aku tidak berharap berakhir dengan jalur hukum."


Martin menghela nafas dan menepuk bahu Thomas dengan pelan. Ini adalah nasihat, juga merupakan peringatan.


Martin sudah memutuskan, kalau Thomas tidak mendengar nasIhatnya dan masih terus mengganggu Wanda. Maka dia akan menuntut Thomas berdasarkan prosedur hukum yang ada.


"Om Martin masih ingin menuntut kakakku? Apakah kalian sekeluarga tidak punya hati nurani?" Luna yang sejak tadi diam langsung marah begitu mendengar ucapan Martin.


Dia sempat mendengar cerita Thomas sebelumnya, sehingga dia tahu garis besar kejadiannya. Namun dia menyadari kenyataannya jauh lebih parah dari apa yang Thomas ceritakan.


Ekspresi wajah Wanda langsung berubah, dia ingin maju namun ditahan oleh Martin. "Apa yang ingin kalian kalian lakukan, membuat onar juga harus lihat tempat." ucap Martin dengan wajah tegas.


"Thomas, aku adalah teman ayahmu sejak lama di militer, kami juga sahabat, aku tidak ingin membuat hubungan kedua keluarga menjadi buruk karena hal ini. Keluarga kami memang salah terlebih dahulu, namun apa yang kamu lakukan hari ini sudah melanggar privasi, kamu masih mempunyai seorang ibu untuk dijaga, aku bisa memaafkanmu kali ini, namun aku berharap kamu bisa berhenti sampai di sini, dan juga urus adikmu dengan benar."


Martin baru selesai mengatakannya, ponsel Wanda langsung berdering. Dia berjalan ke samping untuk menerima telepon, dan kembali dengan wajah cemas.


"Pa, Ma, Tuan Chandra menunggu di lobby restoran, ayo kita masuk, malas meladeni orang seperti mereka!" Dia melirik kedua kakak beradik ini dengan tatapan merendahkan, lalu menggandeng Martin dan Milan masuk ke dalam restoran setelah mendengus dingin.


"Kakak!" Luna sungguh dibuat kesal sampai menghentakkan kakinya.


"Sudahlah, tidak ada gunanya banyak omong dengan mereka." Thomas hanya menatap kepergian mereka bertiga dengan dingin, lalu berkata dengan datar, "Bagaimanapun Om Martin adalah sahabat ayah semasa hidup, kita cukup menahannya saja, kalau sampai masalah ini menjadi besar dan terdengar oleh ibu, jantungnya tidak akan kuat."


Kalau bukan karena mempertimbangkan hal ini, Thomas sudah pasti mengamuk di sana.


Begitu Luna mendengarnya, dia langsung terdiam. Namun dia tetap bergumam dengan kesal, "Apakah kamu akan membiarkan mereka menginjakmu seperti itu?"


Thomas masih belum menemukan jawaban yang tepat, dia sudah melihat sosok Dimas di kejauhan. Meskipun pakaian santainya begitu sederhana, namun tubuhnya yang mencapai 2,1 meter sulit untuk tidak menarik perhatian orang.


Dimas berjalan ke hadapan Thomas, pertama dia menyapa Luna. Lalu membungkuk hormat, "Tuan muda."


"Tuan muda? Siapa yang tuan mudamu?" Luna melihat ke kanan dan ke kiri dengan penasaran.


  ......


"Tuan muda, aku adalah utusan Tuan besar Levian."


  ......


 "Tuan muda, Tuan besar Levian berpesan, mulai hari ini, aku yang akan bertanggung jawab tentang keamananmu."


  ......


"Tuan muda?"


  ......


”Thomas?" Dimas melihat ke arah Luna dengan wajah cemas, lalu berkata, "Gawat, jangan-jangan kakakmu terlalu syok?"


  ......


Thomas tidak bicara sepatah kata pun, siapa yang menyangka Dimas adalah orang yang diutus oleh kakeknya untuk menjadi pengawalnya.


Thomas merasa sedikit terkejut, namun dia tidak merasa heran, karena dia adalah seorang cucu orang kaya, tentu saja dia membutuhkan seorang pengawal yang melindunginya.  


Dan pada akhirnya Thomas menghela nafas dengan pasrah, “Ayo, kita masuk dulu.”


Lobby restoran, meja resepsionis. Ketiga anggota Keluarga Ningrat dan Ivan sedang bicara dengan manager Restoran Tasty.


Ivan ingin memesan ruang VVIP, namun dia mendapati ruang yang dia inginkan sudah dipesan oleh orang lain.


“Manager, aku rasa kamu tidak mungkin tidak tahu siapa aku, apakah tidak bisa diurus? Kamu juga tahu aku sering datang ke sini, termasuk tamu kehormatan di sini!” Ivan sangat tidak senang.


Dia adalah putra Direktur Bright Property, bagaimana mungkin dia bisa membiarkan hal ini terjadi, apalagi yang dia undang hari ini bukan hanya Keluarga Ningrat saja, hanya mereka yang tiba terlebih dahulu saja.


Manager tetap memasang senyum yang ramah, sebenarnya dia sudah terdesak sampai tidak bisa melangkah mundur lagi.


Menghubungi pelanggan yang sudah memesan ruangan dan bernegosiasi dengan mereka untuk mengganti ruangan bukan hal yang tidak mungkin, namun ada satu syarat, mereka harus mengetahui siapa yang memesan ruangan itu terlebih dahulu, baru mereka bisa maju.


Bright Property memang perusahaan terpandang di dunia bisnis. Namun di seluruh Jakarta…


Perusahaan besar tidak hanya Bright Property saja.


Kalau dia tidak lebih hati-hati dan gegabah, bagaimana kalau menyinggung seorang tokoh yang kuat. Bukankah posisi managernya ini akan langsung raib ditelan bumi.


Kalau menolak Ivan, dia juga akan kesulitan.


Kacau, bagaimana ini? Manager ini dibuat kebingungan sampai berkeringat dingin.


Tepat pada saat ini, Thomas, Luna juga Dimas tiba di depan meja resepsionis.


“Aku sudah memesan ruangan, tolong dicek.”


Martin sekeluarga dan Ivan menoleh ke arah Thomas secara bersamaan. Terutama Wanda, matanya membelalak besar, dia sungguh tidak percaya kalau Thomas mampu makan di restoran ini.


Tidak ada orang yang tahu gaji Thomas lebih jelas darinya, selama ini dia selalu meminta uang pada Thomas dengan menghitung berapa jumlah gajinya dengan tepat.


Bisa-bisanya dia makan di sini hari ini? Wanda tiba-tiba merasa Thomas hanya sengaja ingin pamer di hadapannya saja.


Orang miskin ini bahkan tidak mempedulikan harga dirinya sama sekali… Wanda hanya bisa tersenyum dingin.


Thomas mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkan pesan yang dia terima kepada manager restoran, lalu berkata, “Sebelumnya aku memesan ruang VVIP, mohon antarkan kami.”