Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Aku Bukan Pencuri


Wedy yang melihat ini segera mengikuti dengan wajah tegas.


Setiap gedung asrama putri dijaga oleh seorang security wanita, sehingga setiap kali ada gerakan, dia akan menjadi yang pertama diberitahu.


Dan mahasiswa yang kuliah di Trijaya didominasi oleh anak-anak yang punya latar belakang keluarga.


Tentu saja setiap sekolah memiliki murid yang seperti Freya dan Thomas, meskipun tidak termasuk miskin, namun sama sekali tidak bisa bersaing dengan anak lain.


Sehingga masalah di antara para murid, kalau yang hanya pertikaian kecil akan diabaikan oleh security, kalau terlalu parah, baru akan dilaporkan.


Dan security wanita malah merasa kejadian hari ini sedikit berbeda.


Ketika terdengar suara pertengkaran dari atas, dia takut akan membuat masalah sehingga sengaja naik untuk melihatnya.


Melihat itu adalah seorang mahasiswi miskin yang sedang dikeroyok, dia langsung merasa lebih lega, dia hanya meneriaki mereka untuk formalitas, lalu kembali turun.


Siapa yang menyangka tidak sampai setengah jam, kedua orang petinggi sudah datang ke asrama putri dengan tergesa-gesa, membuatnya menundukkan kepala tanpa berani berkutik.


Sampai kedua petinggi naik, dia belum sempat merasa lega, sebuah mobil hitam yang begitu garang dan keren berhenti tepat di depan asrama putri.


Mobil ini tidak terlihat seperti mobil mewah yang bisa dinaiki sembarang orang, security wanita itu kembali merasa cemas: jangan-jangan ada hubungannya dengan kejadian tadi!


dia belum selesai mencerna pemikiran ini, turun seorang pria dan wanita dari dalam mobil, lalu berjalan dengan wajah yang mengerikan ke dalam gedung asrama putri.


Membuat security wanita itu ketakutan sampai ingin rasanya mengundurkan diri saja.


......


Ketua Dekan Pak Junaedi Prayoga naik ke lantai 4 dengan wajah tegas.


Security wanita ini sama sekali tidak berani melanggar ucapannya, dia langsung menahan kelima mahasiswa yang terlibat.


Begitu dia masuk dan melihat, yang pertama dia kenali adalah Kimberly, juga Freya yang habis dipukuli sampai badan juga wajahnya biru-biru.


Tentu saja Junaedi ingat kedua orangtuanya sudah meninggal, tinggal di dalam asrama, namun menjadi mahasiswa yang paling berprestasi.


Junaedi ingat dulu ketika masih menjadi mahasiswa, keluarganya tidak kaya, dia juga orang yang pernah mengalami masalah serupa, oleh karena itu dia sangat menjaga Freya, kalau tidak dia tidak akan membantu Freya mendapatkan dua beasiswa dan membebaskan semua biayanya di kampus.


Melihat kamar asrama yang berantakan, juga Freya yang terluka parah, Junaedi langsung paham apa yang sedang terjadi. Murid miskin, sudah pasti akan direndahkan oleh temannya.


Dan dia langsung tahu, yang membuat Thomas murka adalah masalah yang sedang dihadapi Freya.


Saat ini, Wedy berhenti di belakang Junaedi, dia berkata dengan acuh, “Pak dekan, ini hanya pertikaian kecil, masing-masing anak hukum skors saja cukup, aku rasa ini bukan masalah yang besar.”


“Huh! Masalah ini tidak bisa disudahi begitu saja! kekerasan di lingkungan kampus, aku harus menyelesaikannya dengan sikap yang tegas!” Junaedi menoleh dengan kesal, lalu melirik Kimberly yang memasang wajah biasa saja dan berkata dengan tegas.


“Oh, hehe, Pak dekan, kalau begitu apa yang akan Anda lakukan?” senyum Wedy begitu sinis.


Junaedi seolah tidak merasakannya, “Malam ini aku sudah melapor pada direksi, orang yang memimpin keributan ini akan di Drop Out!”


Ekspresi wajah Wedy langsung berubah, “Pak Jun, sepertinya ini keterlaluan, kalau kamu bersikeras ingin melakukan hal ini, maka aku juga akan meminta penjelasan!”


Bagaimana mungkin dia tidak tahu, yang memimpin keributan ini adalah cucunya sendiri!


“Kalau begitu kita lihat saja nanti!”


Junaedi memang sangat kesal, ini bukan hanya karena Thomas, melainkan juga karena mahasiswa berprestasi miliknya malah diganggu dan dikeroyok oleh Kimberly.


“Haha, baiklah, aku sudah tidak sabar menantikannya.” Wedy tersenyum dengan wajah acuh, lalu berkata pada Kimberly, “Kimi, ayo, kita pulang dulu, urusan yang lain, ada kakek yang mengurusnya untukmu!”


Kalau tidak terjadi hal seperti ini, dia masih bisa menyambut Junaedi dengan wajah tersenyum, namun karena semua sudah dibeberkan, maka dia tidak merasa perlu berpura-pura lagi.


Wedy mendengar ada seorang tuan muda kaya yang mendonasikan dana dengan nilai yang sangat besar pada saat HUT Trijaya! Lalu dia memeriksanya, namun sama sekali tidak menemukan catatan yang mendetail.


Dia langsung mengira Junaedi korupsi, menerima suap dalam jumlah yang sangat banyak! Sehingga malamnya dia langsung menghadap ke direksi dan mengutus orang untuk menyelidikinya.


Intinya, karir Junaedi akan segera berakhir, mungkin dia bukan hanya akan diminta mengundurkan diri, bahkan akan dipenjara!


Namun, ketika dia menggandeng tangan Kimberly dan bersiap untuk pergi. Malah terdengar suara yang begitu dingin dan tegas dari arah pintu masuk gedung asrama, “Untuk sementara waktu, tidak ada yang boleh pergi.”


Thomas segera menoleh dan melihat, ternyata seorang anak muda.


Dia mengira Thomas adalah mahasiswa di Trijaya, sehingga membentak dengan kesal, “Kenapa? Kamu jurusan mana? Beraninya ikut campur urusanku, apakah kamu tidak tahu siapa aku?”


Thomas tersenyum dengan dingin dan berkata, “Pak Wakil dekan Wedy Jemian, masalah ini bahkan belum dijelaskan, Anda malah mau pergi, sepertinya ini kurang pantas.”


“Ini…” Wedy tercengang, kalau dipikir-pikir ada benarnya juga.


Junaedi yang melihat ini juga merasa lega, akhirnya dia datang juga, kalau tidak dia sungguh tidak tahu harus bagaimana mengurus masalah ini.


Sekarang dia sungguh menantikan perkembangan masalah ini.


Junaedi bisa memastikan satu hal, Thomas bukan hanya kaya, tetapi juga punya kemampuan, dia sungguh menantikan pelajaran yang akan diberikan oleh Thomas untuk Wedy.


Thomas berjalan ke hadapan Freya, begitu melihat luka di tubuhnya, senyum dingin langsung mengembang di sudut bibirnya.


Ini hanya luka luar, terlihat begitu mengerikan namun tidak parah, namun rasa sakitnya tetap tidak bisa terelakkan.


Thomas jongkok lalu bertanya dengan suara pelan, “Ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan, aku yang aku mengurusnya.”


Freya menatap Thomas dan berkata dengan tenang, “Kimberly melihat aku memakai baju yang dipinjamkan Luna untukku, langsung mengatakan kalau aku pencuri, aku sudah mengatakan kalau aku bukan pencuri, malah aku yang dipukuli. Uhm… gaun ini juga dirobek… nanti setelah aku mendapatkan uang beasiswa, aku akan mengganti yang baru untuk Luna.”


“Hehe, bukankah hanya sebuah baju, tidak perlu diganti.”


Setelah mengatakannya, Thomas berdiri dan memberi isyarat pada Luna, Luna yang melihat ini segera mendekat dan menenangkan Freya.


Thomas tersenyum dan bertanya, “Baiklah, Pak Wedy, asal muasal masalah sudah Anda dengar secara langsung, jadi bagaimana keputusan Anda?”


“Karena masalah ini hanya sebuah kesalahpahaman, masih bisa gimana lagi? Bukankah semua akan selesai kalau mengganti uang berobatnya!” Wedy ditanya sampai terbata-bata, rasa kesal dalam hatinya semakin dalam, dia menatap Thomas dengan dingin dan tatapan merendahkan sambil bertanya, “Nak, siapa kamu? Jurusan apa?”


“Wedy Jemian, apakah kamu masih berniat membalas? Kukatakan padamu, dia adalah…” Junaedi belum menyelesaikan ucapannya, Thomas sudah memotong ucapannya.


“Pak dekan, kita kesampingkan masalah ini terlebih dahulu, karena penyebab masalahnya sudah ditemukan, maka urusan lainnya akan aku urus besok.” Ucap Thomas dengan senyum dingin.


Wedy merasa ada yang tidak beres, kenapa mahasiswa ini bisa bicara dengan Junaedi dengan nada bicara seperti itu? Dan Junaedi ini juga terlihat begitu sopan.


Namun dia segera menepis pemikiran ini, dia kesal sampai tertawa, “Baiklah, kalau begitu aku ingin tahu sehebat apa kamu!”


Thomas mengangguk, lalu memapah Freya bersama dengan Luna, kemudian meninggalkan asrama ini.


“Huh, tidak tahu diri!” Wedy tersenyum dingin, lalu berbalik dan berkata, “Kimi, ayo kita pergi!”


Saat ini Kimberly sedang mengunyah permen karet, melihat Freya yang pergi, dia kembali berniat jahat, dia melangkah dengan cepat dan sengaja menginjak tumit Freya.


Freya sama sekali tidak siap, gerakan yang begitu mendadak membuatnya berteriak dengan kencang dan terjatuh!