
Awalnya ribuan mahasiswa yang berada di bawah panggung sudah mulai bergunjing tentang apa yang terjadi di atas podium.
Ucapan Junaedi kali ini sontak membuat mereka semua mengatupkan mulutnya dengan rapat.
Pembukuan palsu ini, bukankah ini sama dengan korupsi?
Seketika, seluruh lapangan langsung menjadi begitu hening.
Seiring dengan ucapan yang dilontarkan, tubuh Wedy juga tersentak tanpa dia sadari.
Kemudian dia berbalik dan berteriak dengan penuh amarah, “Junaedi Prayoga! Saya sudah tidak mempermasalah masalahmu lagi, kamu masih mau apa lagi!”
Setiap dana yang keluar masuk di universitas dipegang oleh Wedy.
Meskipun dia sangat berhati-hati, namun dia tahu pasti, keganjilan dalam pembukuan itu akan langsung terlihat begitu diperiksa
Sehingga dia sama sekali tidak yakin apakah Junaedi benar-benar telah menangkap basah perbuatannya atau tidak.
Dia tidak akan mengakui hal ini apapun yang terjadi, kalau tidak, yang menunggunya bukan hanya dipecat, mungkin hukuman penjara pun akan sulit dia hindari.
“Hehe, kamu tidak mempermasalahkan, itu karena kamu sadar sudah gagal memfitnahku.” Junaedi menghela nafas, nada bicaranya perlahan menjadi dingin, “Urusan yang lain aku tidak ingin membahasnya lagi, tetapi apakah kamu pikir hanya kamu yang punya persiapan, dan aku tidak punya persiapan sama sekali?”
Pada saat ini ekspresi Wedy sungguh kacau, terlihat pucat namun penuh emosi.
“Kalau hari ini kamu tidak mendesakku ke jalan buntu, mungkin aku masih dengan senang hati berpura-pura pikun… kawan, naiklah dan jelaskan sedikit.”
Junaedi memberi isyarat ke bawah panggung.
Berikutnya.
Seorang pak tua yang berpakaian sederhana dengan postur tubuh tidak tinggi berdiri dari kursi penonton perlahan.
Dia merapikan pakaiannya dan berjalan ke atas podium.
Pandangan ribuan mahasiswa langsung tertuju di pak tua itu, termasuk Wedy, kedua petinggi yang dia datangkan juga.
Tidak ada yang tahu siapa pak tua ini, namun semua yakin, orang ini sudah pasti tidak sesederhana penampilannya.
Tiba-tiba Wedy merasa masalah besar sudah berada tepat di hadapannya.
Si Junaedi punya persiapan? Yang dia persiapkan adalah orang ini?
Meskipun dia sudah memutar otak, dia tetap tidak menemukan sedikit pun jejak.
Pak tua itu berjalan naik ke atas podium, pertama-tama dia berjabatan tangan dengan Junaedi lalu tersenyum dengan ramah, setelahnya dia menepuk bahu Thomas dengan ekspresi bangga.
Dia menerima mikrofon yang diberikan Junaedi, lalu berkata, “Anak-anak sekalian, para dosen-dosen, selamat siang, saya adalah teman sekolah Pak Junaedi Prayoga, yang juga biro resmi Dinas pendidikan Provinsi, Luhut Herlambang.
......
Tetap tidak ada yang bersuara, karena semua orang begitu terkejut oleh jati diri pak tua ini, dia adalah biro resmi Dinas pendidikan Provinsi yang bernama Luhut Herlambang!
Wedy dan kedua petinggi yang mendengar ini langsung merinding, mereka merasa tubuh mereka lemas bagaikan seluruh tenaganya terhisap sampai habis.
Gawat!
Hancur semuanya!
Semua yang terjadi tadi sudah dilihat oleh orang Dinas pendidikan provinsi!
“Dua hari yang lalu, saya menerima undang dari pak Ketua dekan kalian untuk menghadiri pertemuan di Universitas Trijaya, saya diundang untuk menjadi tamu VIP disini dan menyerahkan medali penghargaan pada Anak Thomas ini, namun saya sungguh tidak menyangka akan menyaksikan semua ini pada hari ini.”
Luhut melirik ketiga orang yang berdiri disana dengan dingin lalu kembali berkata, “Kalau tidak melihatnya secara langsung, saya sama sekali tidak berani mempercayai, di dunia pendidikan kita ini ada hama yang begitu merugikan! Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir! Namun para mahasiswa dan para dosen tenang saja, masalah ini akan saya urus secara langsung, saya tidak akan membiarkan tikus-tikus berkeliaran bebas di dunia pendidikan kita dan merusak semuanya!”
“Tetapi masalah ini akan kita bahas nanti, sekarang saya akan menyerahkan piagam penghargaan kepada Anak Thomas Widjaja terlebih dahulu.”
Setelah mengatakannya, Luhut mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam sakunya.
“Ini adalah medali khusus yang menunjukkan rasa terima kasih dari Universitas Trijaya untuk Thomas Widjaja atas seluruh dedikasinya untuk dunia pendidikan, yang juga menjadi tanda bahwa dia menjadi Direksi Kehormatan Universitas Trijaya!”
“Selamat, Nak Thomas!”
Setelah mengatakannya, Luhut membuka kotak itu dan menyerahkannya pada Thomas secara resmi.
Thomas memiliki kesan yang baik terhadap Luhut Herlambang ini, karena orang ini memancarkan aura yang begitu jujur.
“Terima kasih Pak Luhut.”
Kecuali Wedy bertiga.
Mereka saling bertatapan dengan wajah ketakutan, mereka sudah panik sepenuhnya.
Gawat!
“Pak, Pak Luhut, kami dipanggil oleh Wedy Lemian untuk datang kemari, kami sama sekali tidak mengetahui hal ini…”
Salah seorang “petinggi” segera menjelaskan, namun Luhut mengibaskan tangan dan memotong ucapannya, “Saya sudah bilang masalah ini akan saya selidiki secara langsung, sekarang kalian turun, jangan sampai mengganggu prosesi!”
Begitu perintah ini diturunkan, mereka bertiga hanya bisa turun dengan tergesa-gesa, dalam pikiran mereka sekarang, hanya bagaimana cara mencari koneksi untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Namun begitu mereka membayangkan orang yang punya jabatan lebih tinggi dari Luhut di dunia pendidikan, membuat kepala mereka langsung pusing, karena mereka sama sekali tidak kenal!
Acara penghargaan masih terus berlangsung.
Sementara Kimberly yang berada di bawah panggung sudah dibuat shock oleh semua yang terjadi di atas panggung sampai membatu di sana.
Dia juga tahu, kakeknya sudah dalam masalah sekarang!
“Thomas… hanya Thomas yang bisa menolong kakek sekarang!”
Kimberly bergumam dan meninggalkan tempat duduknya, dia meninggalkan acara dengan wajah nanar, dia harus menelepon terlebih dahulu, dan memberitahu orangtuanya. Dan masih ada satu orang lagi yang sangat tertarik pada hal ini.
Orang itu adalah Wanda Ningrat.
Semua yang terjadi sudah dia saksikan dari awal sampai akhir, dia juga sudah bisa menerka garis besarnya.
Wedy iri dengan kedudukan dan juga kemampuan Junaedi, sehingga dia ingin memanfaatkan acara hari ini untuk menjatuhkan Junaedi, bahkan menggulingkan Junaedi dari posisinya.
Siapa sangka Junaedi menyiapkan senjata pamungkas, Wedy bukan hanya gagal, bahkan jatuh dalam perangkapnya sendiri, kelihatannya Wedy bukan hanya akan dipecat dari posisinya, dia bahkan akan dipenjara atas perbuatanya.
Dengan demikian, mulai saat ini Thomas akan menjadi Direksi Kehormatan Trijaya yang pertama dalam sejarah!
Jantung Wanda langsung berdegub kencang.
Asalkan dia bisa membuat Thomas berpaling ke arahnya, mengakuinya sebagai calon istrinya, maka setelah dia lulus kuliah, Thomas akan mengerahkan seluruh koneksinya dan merekomendasikan universitas terbaik di luar negri untuknya!
Tetapi, kalau dia kembali menjadi calon istri Thomas …
Untuk apa dia kuliah S2?
Tujuannya kuliah S2 adalah untuk memperluas circle pergaulannya dan masuk ke dunia orang kaya.
Sekarang Thomas sudah begitu hebat, kenapa dia tidak mewujudkannya dengan menjadi calon istri orang ini saja?
Apalagi dia merasa sangat memahami Thomas.
Paling tidak, setelah mereka berdua menikah, dia bisa mengendalikan Thomas sepenuhnya.
Kalau orang lain dia belum tentu punya keyakinan untuk hal ini.
Setelah kejadian Ivan Chandra, dia belajar cukup banyak, dia tidak bisa membaca hati orang lain hanya dari penampilannya saja, namun dia malah sangat memahami Thomas.
Menjadi seorang istri konglomerat dalam negeri, dia tetap bisa jalan-jalan keliling dunia!
Dia juga tidak perlu bekerja keras sekolah di luar negeri bertahun-tahun!
Thomas yang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, Wanda sangat yakin, setelah acara hari ini berakhir, akan ada begitu banyak wanita yang menyerbunya.
Yang harus dia lakukan sekarang adalah menjaga Thomas dengan ketat.
Lalu mengendalikannya.
“Gue harus gimana…”
Wanda mengerutkan alisnya, dia tidak lupa, semalam Martin dan Milan sudah membuat hubungan kedua keluarga menjadi begitu kacau.
Ini membuat rencananya semakin sulit untuk dijalankan.
“Tidak bisa, kalau begini terus, gue gak akan punya kesempatan sama sekali, satu-satunya cara untuk memperbaikinya… mungkin hanya ada satu!”
Wanda mengetatkan rahangnya dan membuat sebuah keputusan.
Dia mengeluarkan ponsel, lalu menelepon hotline Hotel Tasty untuk memesan kamar.