Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 86 Kasus Pabrik Tua(1)


Keluarga Ningrat dan Keluarga Widjaja mengalami pertikaian yang cukup banyak akhir-akhir ini.


Thomas sudah melihat bagaimana sifat asli Keluarga Ningrat.


Namun sejujurnya, dia tidak pernah berpikir menyalahkan mereka.


Sebenarnya siapapun sama, begitu melihat jelas seseorang, dia tidak akan memiliki pemikiran apapun, satu-satunya yang terpikirkan hanya menjauh.


Menjauh dari sampah.


Menjauh dari orang yang tidak baik terhadapmu.


Dan sejujurnya, dulu memang Martin yang sudah menyelamatkan nyawa Tanto.


Meskipun pada akhirnya Tanto meninggal dalam kecelakaan karena menanggung beban hutang Martin.


Tanpa sadar karma tetap berjalan, bukankah itu bisa dianggap impas?


Kalau ingin dihitung dengan jelas, Thomas seharusnya berterima kasih pada Martin, kalau bukan karenanya, dia tidak akan memiliki sebuah keluarga yang sempurna.


Termasuk masa kecil yang begitu bahagia.


Tidak perlu membahas terlalu jauh, juga tidak perlu mempermasalahkan kenyataan Wanda yang pernah menjadi calon istrinya, bagaimanapun, dia adalah teman main ketika Thomas masih kecil.


Manusia memiliki perasaan, tidak mungkin hanya karena satu kata ‘anggap kita tidak pernah kenal’, lalu menjadi orang asing selamanya ketika bertemu di jalan.


Ketika tidak sengaja berpapasan di jalanan, sedikit banyak pasti ada yang dirasakan.


Dan ketika Wanda berniat bunuh diri, yang dia ingat adalah meneleponnya.


Thomas bisa melihat adanya penyesalan di wajahnya.


Sehingga, ketika dia melihat Wanda tiba-tiba panik seperti orang gila, hatinya langsung tercekat.


 “Pergi dengan begitu tergesa-gesa, apakah terjadi sesuatu?”


Begitu memikirkan ini, Thomas tidak bisa tinggal diam, dia berbalik dan kebetulan melihat Freya.


“Kamu…”


“Aku ikut denganmu.” Ucap Freya.


Tadinya, ketika melihat Thomas naik ke atas, Freya langsung menyusul.


Dia tidak punya tempat tinggal, hanya anak titipan yang menumpang di asrama kampus.


Namun karena sebuah makan siang, ketiga anggota Keluarga Widjaja, memberikannya sebuah tempat tinggal yang begitu hangat.


Dia juga sepenuhnya merasa Thomas benar-benar menganggapnya sebagai keluarga.


Oleh karena itu Freya menyusul dan berniat mengucapkan terima kasih.


Dia melihat Thomas sedang minum teh di balkon, sehingga dia menghampiri.


Ketika dia mendekat, dia menyusuri arah tatapan mata Thomas dan melihat Wanda yang menerima telepon, lalu melihatnya pergi dengan tergesa-gesa dan panik.


Orang yang waras pasti akan bisa menerka, Wanda pasti mendapat masalah yang sangat besar sampai dia bereaksi seperti itu.


Begitu melihat Thomas bergerak, dia langsung bisa menerka apa yang ingin Thomas lakukan.


Dalam situasi darurat, Freya mengajukan diri untuk ikut dengan Thomas.


Awalnya Thomas ingin menolak, namun dia teringat suatu hal.


Dia sudah bukan orang biasa…


Dia adalah orang yang bisa ilmu silat!


Perubahan pada tubuhnya dia tahu dengan sangat pasti, melawan dua sampai tiga orang sekaligus bukanlah masalah bagi Thomas.


Lagipula, berdebat dengan Freya saat ini tidaklah tepat, ketika Freya berubah pikiran, Wanda pasti sudah menghilang.


“Baiklah, tetapi jangan beritahukan hal ini pada siapapun, kita pergi diam-diam, ok?”


“Hm.”


“Kalau begitu ayo!”


Setelah selesai bicara, mereka berdua langsung turun ke lantai bawah bersama.


Thomas mengarang sebuah alasan : Dia mau jalan-jalan dengan Freya!


Dengan demikian, Luna tidak akan ikut, Dimas juga.


Villa miliknya begitu besar, di rumah hanya ada dua orang wanita, Thomas merasa ini kurang aman.


Paling tepat membiarkan Dimas tetap tinggal dan melindungi mereka.


Begitu keluar dari villa, Thomas langsung menarik Freya dan berlari.


Dia harus mengejar Wanda sebelum dia turun ke kaki bukit.


Pada saat bersamaan, dia juga menelepon Wanda dan bertanya: “Hallo, Wanda, bagaimana kalau lu balik lagi, pulangnya nanti aja abis makan malam?”


“Haa! Gak, gak, aku masih ada urusan lain, udah dulu ya!”


Wanda menutup teleponnya dengan begitu tergesa-gesa.


Ini membuat tebakan Thomas semakin tepat, Wanda dalam masalah, dan ini pasti bukan masalah biasa.


Ketika berlari setengah jalan, Thomas melihat Wanda, dia segera memesan sebuah taksi online terlebih dahulu.


Namun langkah kakinya sama sekali tidak berhenti dan terus mengikuti dari jauh.


Dalam hatinya berpikir, kalau saja bisa bergandengan tangan dengan Thomas selamanya seperti ini pasti akan sangat bagus.


Ketika sudah hampir tiba di bawah bukit, ada sebuah mobil yang berjalan menuju ke atas bukit.


Ketika Thomas melihat plat mobil itu, dia langsung merasa tenang, karena mobil yang dia pesan tiba lebih dahulu.


Setelah naik ke mobil, Thomas meminta supir untuk mengikuti perlahan.


Dan tidak sampai 5 menit, Wanda juga naik sebuah mobil taksi online.


“Ikuti!”


“Wokeh!”


Supir taksi langsung menancap gas dan menaikkan kecepatan.


Mobil di depan berjalan menyusuri jalanan di tepi laut, lalu mengambil jalur kiri menuju ke daerah kota tua.


Setelah melewati kota tua, mobil melaju ke pinggir kota.


Sampai di sebuah pabrik yang sudah ditinggalkan, mobil di depan baru berhenti, Wanda turun dari dalam mobil dan masuk seorang diri.


Thomas dan Freya turun dari mobil dan mengikuti diam-diam.


Pabrik lama ini adalah bekas pabrik pengolahan ternak di awal tahun 80-an, sudah 40 tahun berlalu, pabrik ini sudah lama ditinggalkan, sama sekali tidak ada yang datang ke tempat ini.


Dan tepat pada saat ini, di depan gerbang pabrik ada dia mobil Audi yang terparkir di sana, dan juga ada tiga mobil van.


Jelas sekali ada masalah.


Thomas sekali lagi menggandeng tangan Freya dan memutari pintu depan, mereka berputar kearah rumput tinggi disamping.


Kembali ke Wanda.


Dia keluar dari villa dengan wajah murung, lalu berjalan turun menyusuri bukit dengan tatapan kosong, tiba-tiba ponselnya berdering, begitu dilihat ternyata nomor Ivan, tanpa pikir panjang dia langsung mematikan teleponnya.


Tetapi tidak sampai satu menit, gantian Martin yang menelepon.


Dia menekan tombol jawab, namun yang terdengar adalah suara Ivan.


“Hehe, Wanda, boleh juga lu, sekarang udah berani gak angkat telpeon gue ya?” ucap Ivan dengan senyum kejam.


Wanda langsung merasa ada yang tidak beres, lalu bertanya, “Ivan, lu mau apa? Kenapa handphone papa bisa ada di lu?”


Begitu membicarakan Martin, Ivan langsung meludah, “Cuih! Wanda, bapak lu sekarang ada di tangan gue! Sekarang gue perintahkan elu buat datang ke pabrik tua yang ada di pinggir kota Bogor, jangan coba-coba buat lapor polisi, kalau lu mencoba mencari bantuan, satu kaki bapak lu bakal gue patahin duluan!”


“Aaakh, gue bisa mati, jangan pukul lagi, tolong jangan pukul lagi…”


“Bukk!!! Bukk!!!”


Pada saat bersamaan, terdengar suara erangan Martin dan juga suara pukulan yang begitu kencang dari seberang sana.


Penculikan!


Wanda langsung sadar apa yang terjadi, ayahnya diculik oleh Ivan!


Tumbuh sebesar ini, ini adalah pertama kalinya dia mengalami hal semacam ini, seketika dia langsung panik.


“Baik, gue ke sana, gue ke sana! Jangan lukai papa gue! Kalau gak gue pasti akan lapor polisi!”


“Hehehe, dasar ******~! Dateng dulu baru ngomong!”


Ivan menutup telepon dengan senyum yang begitu kejam.


Lalu apa yang terjadi selanjutnya, sudah tidak perlu dijabarkan lagi.


Wanda langsung panik dan berlari menuruni bukit sambil menunggu taksi online yang dia pesan, lalu segera menuju ke lokasi yang disebutkan oleh Ivan.


......


Pabrik tua ini memiliki pintu di setiap sisinya.


Thomas membawa Freya menyelinap masuk dari pintu lain yang tidak dijaga.


Begitu masuk ke dalam pabrik, suara umpatan Ivan langsung terdengar oleh Thomas dengan jelas.


“Brengsek! Wanda, lu cewek pertama yang mencampakkan gue! Sialan, beraninya lu mencampakkan gue?”


“Ivan, kalau lu masih cowok, lepasin bapak gue!” ucap Wanda dengan panik.


“Hahahaha, Wanda, orang tua ini sudah mengatakan semuanya, Thomas bekerja sama dengan Santo, memanfaatkan kontrak yang bermasalah ini untuk memeras uangku! Lu tahu? 2 triliun! Kalau gue lepasin dia sekarang, bukannya sama dengan gue mencari mati? Lu pikir gue bego, atau idiot!”


“Memutus jalan rejeki orang sama saja seperti membunuh orang tuanya! Wanda, coba lu jelaskan ke gue, gimana ini!”


Semakin lama nada bicara Ivan semakin tinggi.


Memutus jalan rejeki orang, sama dengan membunuh kedua orang tuanya.


Barang yang ada di tangan Martin bisa membuat Bright Property bangkrut kapanpun!


Begitu memikirkan hal ini, Ivan merasa begitu takut.


“Pa! kenapa papa begitu! Thomas dan Santi hanya membantumu menyelesaikan masalah, sama sekali tidak menyuruhmu memeras orang dengan kontrak itu! Kalau papa melakukan itu, itu akan mencelakakan nyawa Thomas!” ucap Wanda dengan sangat kesal.


Martin yang sudah babak belur dipukuli merasa setengah nyawanya sudah melayang.


Mendengar ucapan Wanda ini, dia benar-benar merasa takut, dia menatap Ivan dengan tatapan penuh rasa takut, lalu berteriak dengan penuh emosi.


“Sembarangan! Bohong! Dasar anak kurang ajar, nyawa bapakmu aja udah di ujung tanduk, lu malah masih membela bedebah gak berguna itu! Aku adalah ayahmu! Dia hanya anak haram yang dipungut di pinggir jalan!”