Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Harapan Kepala Dekan


Thomas pernah kuliah di Trijaya selama satu tahun, dia sangat paham tata letak bangunan di sini, tentu saja dia bisa menemukan toilet dengan mudah.


Dia masuk ke dalam toilet pria dan buang air kecil dengan lega.


Menarik resleting, mencuci tangan dan bersiap keluar, begitu hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba ada sesosok harum yang jatuh dalam pelukannya.


“Aaah, maaf, maaf…”


Suara minta maaf ini terdengar begitu tidak asing, Thomas menundukkan kepala dan melihat, dia sontak mengenali wajah ini—Kimberly!


“Ini toilet pria, lu salah masuk.” Thomas merasa aneh, namun tetap mengingatkan.


Hari ini dia datang ke kampus untuk menerima penobatan yang hanya formalitas, tujuan utamanya adalah untuk membereskan kakek Kimberly, Wedy Jemian. Siapa yang menyangka malah bertemu lebih awal.


“Gue tahu, gue tahu… jangan bersuara…”


Kimberly terlihat panik, dan malah memeluk Thomas lebih erat lagi, dia mendorong Thomas masuk ke dalam bilik yang sempit lalu menutup pintunya.


Dia bahkan berpura-pura ketakutan sampai gemetar dan kedua tangannya menyentuh tubuh Thomas seolah tidak sengaja. Kali ini Thomas sungguh dibuat sangat kebingungan olehnya.


Namun bagaimanapun dia sedang dipeluk oleh seorang gadis muda belia seperti ini, dan kedua tangannya sungguh tidak bisa diam, lalu merasakan tubuhnya yang melekuk indah, membuat Thomas agak kewalahan.


 “Kimberly, ini adalah toilet pria, lu bisa gak lepasin gue?”


“Sssth, jangan berisik, jangan sampai mereka tahu gue ada di sini!” ucap Kimberly dengan wajah memohon.


Menghadapi sikap Kimberly yang seperti ini, Thomas hanya bisa menutup mulutnya, dia ingin lepas dari cengkraman Kimberly, namun apa daya dia malah memeluknya semakin erat.


Aura yang penuh hasrat perlahan menyelubungi bilik yang begitu sempit. Setelah sesaat.


“Sudah cukup rasanya, gue buru-buru.” Ucap Thomas.


Meskipun dia tidak tahu permainan apa yang sedang dimainkan oleh Kimberly, namun Thomas sungguh tidak punya waktu untuk bermain petak umpet dengannya.


Bukannya dia tidak tergoda, namun mengingat Jenika adalah tunangannya, maka cara pandangnya menjadi sedikit lebih terbuka, meskipun paras Kimberly di atas rata-rata, namun sama sekali tidak membuat Thomas tertarik.


Kimberly merasa kecewa, akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan Thomas melepaskan diri.


“Maaf, tadi ada yang ngejar gue, bahkan mengatakan akan menghajar gue, karena takut makanya gue ngumpet di sini.” Ucap Kimberly dengan wajah memelas.


Kemarin sore dia mulai bisa menebak orang seperti apa Thomas ini. Masih muda, banyak uang, sigap melindungi orang lain!


Sehingga Kimberly berpikir, kalau dia pura-pura diganggu, mungkin akan memicu sifat Thomas yang sigap membantu. Ditambah dengan jarak dekat yang begitu menggoda…


Dia yakin dengan parasnya, dia akan bisa menciptakan cerita cinta yang mengharukan bersama Thomas dan pada saat itu dia akan menjadi orang yang paling dikagumi dan membuat iri!


Tentu saja yang terpenting adalah, seandainya setelah dia lulus, mereka maju ke langkah selanjutnya, maka dia akan menjadi sultan ah!


Sejak kecil, dia tidak pernah kesulitan dalam kebutuhan apa pun, namun yang benar-benar dia inginkan, keluar masuk ada mobil mewah yang mengantar, mengenakan pakaian mahal dan perhiasan mewah, hidup di posisi tertinggi dimana tidak tercapai oleh sembarang orang.


Sehingga ketika kedua temannya juga mau ke toilet, dai berusaha keras menghentikannya, kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik.


Sementara Thomas hanya mengangguk dan berkata dengan acuh, “Baiklah, lu lanjutkan saja, gue masih ada urusan, bye.” Setelah mengatakannya, dia langsung keluar dari toilet tanpa menoleh sama sekali.


Kimberly tercengang, sepertinya ini berbeda terlalu jauh dengan yang dia bayangkan. Ketika dia menyusul keluar, Thomas sudah pergi jauh.


......


“Nak Thomas, ayo cepat duduk!”


Junaedi sangat senang, karena dia mengetahui dari Dimas, begitu Thomas tiba di kampus, dia langsung datang menemuinya tanpa mampir menyapa para petinggi yang lain. Dia mendapatkan rasa hormat dari Thomas, membuat harga dirinya terangkat.


Setengah jam berikutnya, Junaedi dan Thomas mengobrol dengan begitu senang.


Setelah para mahasiswa keluar dari kelas, terdengar suara pengumuman dari lapangan, dia baru mengajak Thomas dan Dimas meninggalkan ruang Kepala dekan.


Panggung yang digunakan untuk HUT kampus dua hari yang lalu masih belum dibongkar, awalnya sudah dibongkar setengah, namun Thomas malah memberikan bantuan sebesar 2,2 triliun, sehingga kepala dekan sekalian saja membiarkan panggung ini kembali memperlihatkan manfaatnya.


Dia tidak langsung membawa Thomas ke kursi VIP, melainkan membawanya ke belakang panggung.


Karena sebentar lagi dia akan naik panggung untuk memberikan sambutan, ketika dia menjelaskan garis besar tujuan diadakannya rapat ini pada ribuan mahasiswa, maka itu adalah saat Thomas naik panggung untuk memberi sambutan.


Mengucapkan sambutan dan rasa terima kasih adalah salah satu bagian yang terpenting.


Kalau Thomas menyampaikannya dengan baik, ini akan membuat para anak didik semakin bersemangat, dengan demikian akan semakin dekat dengan rencananya.


Yaitu mendirikan sebuah pilar motivasi!


Meskipun Junaedi mendirikan ini demi nama baik, namun dia juga tidak ada cara lain, dia ingin melakukan sedikit hal.


Universitas Trijaya di Kota Jakarta merupakan sebuah kampus tersohor yang tidak bisa dipungkiri, dan setiap tahunnya ada begitu banyak calon mahasiswa yang ingin kuliah di sini.


Dan mahasiswa dari keluarga selalu bersaing dengan para mahasiswa dari keluarga berada memperebutkan kursi yang terbatas. Sebuah universitas yang bagus, membutuhkan penilaian dari berbagai aspek, sehingga biaya kuliah juga ikut melambung. Hanya dari aspek ini saja sudah bisa membuat para calon mahasiswa dari keluarga tidak berada hanya bisa menatap tanpa bisa menggapainya.


Mereka giat belajar, memiliki nilai yang bagus, namun selalu minder karena bantuan beasiswa yang terbatas.


Kalau mahasiswa dari keluarga berada, keluarga mereka akan memanfaatkan berbagai koneksi, sehingga mereka bisa masuk dengan mudah, lalu kuliah ala kadarnya selama empat tahun, setelah itu lulus dengan bangga.


Junaedi tahu, para mahasiswa miskin itu, kalau mendapatkan lingkungan belajar yang baik, beberapa tahun kemudian mereka pasti akan menjadi generasi yang sangat berprestasi!


Sama seperti Thomas. Dia sudah mencari tahu tentang Thomas, dia mendapati nilai Thomas sebelum dia putus kuliah sangat bagus, dan dia masih memiliki seorang adik perempuan, hanya itu saja.


Namun terjadi perubahan di dalam keluarga Thomas, demi bertahan hidup, juga demi membantu Luna tidak putus sekolah, dia memilih untuk berhenti kuliah. Sehingga dia punya sebuah pemikiran, yaitu mendirikan lembaga sosial yang memberikan beasiswa. Asalkan mahasiswa yang memiliki nilai bagus namun finansial keluarga tidak mendukung, semua bisa kuliah di Trijaya dengan persyaratan yang harus dipenuhi.


Rencananya, beasiswa yang diberikan oleh yayasan akan menjadi jaminan paling dasar, lalu dia memanfaatkan dinasi Thomas yang sangat besar itu untuk meningkatkan jumlah beasiswa yang diberikan, yang artinya akan ada semakin banyak anak berprestasi yang bisa mendapatkan beasiswa.


Para peserta didik yang mendapatkan bantuan beasiswa, bukan hanya akan berhasil menyelesaikan pendidikan mereka, bahkan bisa mengurangi beban keuangan keluarga selama empat tahun ini, bahkan sebelum terjun ke dunia kerja, mereka bisa mengumpulkan modal usaha!


Dengan demikian, akan ada lebih banyak murid miskin yang bisa berkuliah di Universitas Trijaya, sementara Universitas Trijaya juga bisa berdedikasi dalam menyediakan tenaga kerja berkualitas!


Dan poin yang terpenting adalah, begitu lembaga sosial ini dimulai, setelah dia pensiun, dia akan menjadi ketua lembaga sosial ini!


Dimasa tuanya dia bisa mendapatkan kemasyhuran! Setelah wafat, namanya akan dikenang sepanjang masa!


......


Tempat duduk VIP.


Wedy sedang berdiskusi dengan kedua petinggi di sampingnya secara serius, topik pembicaraannya tentu saja tentang Junaedi, di bawah cerita yang dia tambahkan, ekspresi wajah kedua petinggi ini terlihat begitu buruk, ini membuat Wedy yang berniat jahat merasa begitu senang.


Setelah kata sambutan yang begitu menggetarkan hati, tiba saatnya Junaedi naik panggung untuk menyampaikan sambutan.


“Junaedi, siap-siaplah masuk ke dalam sel penjara yang indah!” Wedy memperlihatkan senyum yang begitu jahat dan licik.