
Di wajahnya sama sekali tidak terlihat ekspresi malu karena ditertawakan, ekspresinya tetap terlihat begitu tenang.
Freya mengabaikan semua pandangan orang lain dan berjalan keluar dari pintu restoran.
Dia memeluk satu bucket ayam dan cola, berjalan kembali ke pintu utara dan berjalan ke gedung sekolah, di berjalan naik ke atap gedung menyusuri tangga.
Freya berjalan di pinggir atap gedung dan duduk di sana, kedua kakinya menjuntai dan berayun, satu tangannya memegangi sepotong paha ayam dan satu tangan yang lain memegang cola.
Dia makan dan minum sambil bersenandung. Menyenandungkan musik yang sudah sangat tua.
Thomas berdiri di ujung tangga dan hanya menggeleng, melihat Freya yang seperti ini, sepertinya rencana yang dia rancang untuk membantunya sama dengan sia-sia.
Apa lagi yang bisa dia katakan?
Setelah mendapatkan uang beasiswa, malah berfoya-foya dengan makan dan minum enak, satu bucket ayam KFC paling tidak berisi 7-8 potong loh?
Dia terhentak, 7-8 potong, untuk orang yang memiliki gaji rendah, ini sudah termasuk pemborosan sekali.
Thomas berdiri sejenak disana, lalu berbalik dan pergi.
Dia harus memikirkannya terlebih dahulu, bagaimana caranya menasehati Freya, dia sungguh tidak ingin melihatnya terus seperti ini.
Dan ketika dia hendak menuruni tangga, terdengar suara tangisan dari belakangnya.
Thomas langsung berbalik, mendapati Freya sudah membenamkan kepalanya di kedua kakinya sambil menangis."
"Bukankah tadi Freya baik-baik saja, kenapa sekarang menangis?" Gumam Thomas dengan terheran.
Sebentar bernyanyi sebentar menangis, dia sungguh tidak mengerti.
Berikutnya Freya melepaskan sepatunya yang sudah jelek dan berdiri tanpa alas kaki, lalu merentangkan kedua tangan seolah hendak memeluk langit.
Thomas sungguh terkejut, dan berikutnya sekujur tubuhnya langsung merinding.
"Gawat! Freya mau bunuh diri!"
Dia sudah tidak sempat memikirkan hal lain lagi, Thomas langsung berlari dan memeluk pinggang Freya, dia menarik ya turun dari atap gedung secara paksa.
Karena kehilangan keseimbangan, Thomas terjatuh dan mereka berdua jatuh bersama.
"Lu gila ya! Masalah apa sih sampe harus begini?" Thomas terkejut dan juga marah sampai berkata kasar.
Dia sungguh tidak mengerti, kenapa Freya bisa main bunuh diri begitu saja, padahal sebelumnya dia baik-baik saja?
Freya berdiri dengan wajah yang dibasahi oleh airmata yang masih mengalir.
Namun suaranya terdengar begitu tenang, "Thomas, kamu gak usah pedulikan aku, aku sungguh tidak kuat untuk hidup seperti ini lagi..."
"Ngaco! Ngomong apa sih! Gue tahu orangtua lu udah meninggal, om lu juga, justru karena itu lu harus hidup dengan lebih tegar! Tiba-tiba gue sadar kalau kalian sekeluarga itu gila! Orang gila semuanya! Dikit-dikit mikirin mati! Gila kalian!"
Thomas sangat marah, sehingga dia tidak peduli apapun, semua yang boleh dikatakan dan tidak boleh dikatakan, di tumpahkan semua.
"Thomas, kamu... Kamu gak ngerti, jadi jangan ngomong sembarangan!"
Freya menghapus air matanya dan menjadi semakin emosional, "Ayahku menghadapi krisis moneter ketika sedang bermain saham, dan saat itu dia sudah menggunakan semua tabungan yang dia punya, dia sungguh malu untuk bertemu dengan mama, sehingga memutuskan untuk bunuh diri dengan loncat dari gedung! Tapi kamu tahu karena apa? Mamaku mengidap kanker! Biaya untuk operasi dan pengobatan selanjutnya sama sekali tidak cukup, sehingga ayahku memilih mengambil resiko dan bermain saham! Mamaku melihat ayahku meninggal, dia tidak ingin menyusahkanku, sehingga memilih untuk menyusul ayahku! Mereka tidak gila dan bukan orang gila!"
"Pamanku mengurusku, namun dia menjual rumah yang ditinggalkan orang tuaku untukku dan mendapat keuntungan yang besar, begitu mendapatkan uang, dia tidak lagi memedulikanku, setiap hari asik mabuk-mabukan, dia mati karena alkoholnya!"
Tapi...
"Baiklah, aku minta maaf atas ucapanku tadi, tapi apa yang kamu lakukan? Menjadi tukang bersih-bersih semalaman, bahkan menjadi pesuruh gratis, kalau kamu punya waktu untuk itu, lebih baik mengambil kerja sambilan. Ada lagi, setiap semester pihak kampus memberikan uang beasiswa untukmu, malah kamu pakai untuk makan KFC! Hanya agar bisa dipandang oleh orang lain, dan agar dianggap setara dengan mereka iya!"
Freya tercengang, air matanya kembali bergulir.
"Memangnya kenapa kalau makan ayam KFC? Apakah salah makan ayam KFC? Aku sudah mau mati, aku juga sudah lama tidak pernah merasakan kenyang, aku hanya ingin makan ayam KFC sekali saja. Aku hanya ingin makan kenyang seperti orang biasa sekali saja, lalu menemui orangtuaku, apakah ini juga tidak boleh?"
Freya menundukkan kepalanya, dia terisak sampai bahunya gemetar, ini membuat Thomas begitu terkejut.
"Kenapa, kenapa kamu bisa sampai makan tidak kenyang, kamu punya uang beasiswa dan bisa mencari kerja sampingan juga! Asalkan bersedia bekerja keras, maka kamu tidak akan kelaparan!"
Freya terisak, air mata yang masih menggantung di wajahnya diusap, "Aku hanya anak asuh disana. Awalnya anak cowok di kampus menggangguku, lalu anak cewek di kampus juga ikutan menggangguku, setiap hari aku menerima berbagai penghinaan dan juga ejekan, mereka semakin lama semakin keterlaluan, memaksaku memberikan uang beasiswanya untuk membelikan make up, pakaian juga perhiasan mereka, aku tidak punya uang! Kalau seperti hari ini, tidak ada makanan di kantin, aku juga tidak punya uang untuk makan. Uang untuk membeli ayam dan cola adalah uang yang aku curi saat kembali berganti baju, tapi ini juga pada dasarnya memang uangku!"
"Apakah kamu tidak bisa melawan? Membiarkan mereka menindasmu sampai seperti?"
Thomas merasa begitu sedih mendengar ini, ternyata begini kejadiannya, tapi dia tidak pernah mendengarnya dari Luna.
Siapa yang menyangka Freya malah mengangkat wajahnya dan bertanya, "Bagaimana cara melawannya?"
"Kamu, kamu bisa..."
Thomas membuka mulutnya, dan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Aku juga pernah berniat melawan, tapi apakah itu berguna? Pada akhirnya akulah yang akan dikeluarkan dari kampus. Aku tidak punya keluarga juga orangtua, aku bisa melawan dengan apa?"
Thomas sungguh merasa gemas dan berkata, "Tapi kamu sudah hampir semester 7, setahun lagi kamu sudah bisa lulus dan meninggalkan neraka itu, kamu sudah bertahan 3 tahun, untuk apa memikirkan satu tahun itu? Kenapa kamu tidak membulatkan tekadmu dan malah memilih untuk menyerahkan nyawamu?"
"Aku tidak akan bisa lulus... Kimi menjelekkanku dihadapan Wakil Dekan, itu hanya karena aku tidak sempat mencucikan bajunya, apalagi yang bisa kuperbuat?"
Hati Thomas sekali lagi tergerak, ternyata dia sudah salah paham terhadapnya, Freya sama sekali tidak lemah.
Sebaliknya, dia adalah wanita paling kuat yang pernah dia temui.
Dia hanya ingin lulus dengan lancar, sehingga dia menelan semua kepahitan itu.
Dan pada akhirnya, si cewek yang bernama Kimi itu menggunakan cara busuk dan menghancurkan satu-satunya harapan Freya yang tersisa.
Dunia ini memang tidak pernah kekurangan orang yang membangun kebahagiaan diatas penderitaan orang lain.
Thomas mengangguk dan berdiri, dia berjalan ke tepi atap gedung, mengangkat bucket ayam goreng dan cola yang belum habis diminum.
Lalu duduk di samping Freya, dia berkata dengan pelan, "Kamu belum kenyang ya kan, nih masih ada banyak, sebesar apapun masalah di dunia ini, kita bicarakan lagi nanti setelah kenyang makan, masalahmu aku akan mencarikan jalan lain untukmu, semua penderitaan yang kamu terima, aku akan meminta mereka membayarnya!"
Thomas merasa sangat marah dan juga tidak tega, sebuah universitas yang berfungsi untuk mendidik mahasiswa malah membuat seorang mahasiswi tersudut bahkan ingin mengakhiri hidupnya!
Freya adalah temannya sejak kecil, sehingga dia memutuskan untuk membantunya, dan tentu saja ini juga demi Luna.
"Thomas, sebaiknya kamu jangan ikut campur masalah ini, kamu juga tidak bisa ikut campur " Freya menatap Thomas dengan penuh terima kasih, kedua pipinya juga terasa panas, "Maaf, membuatmu mendengarkan ocehanku, kamu pulanglah sana."
"Tidak, aku harus mengurus masalah ini!"
"Asalkan kamu berjanji padaku, tidak lagi mencari mati, masalah ini... Aku yang akan mengurusnya!" Ucap Thomas dengan yakin.