Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Tuan Muda Keiro


Meskipun wajah Luna tidak secantik Wanda, namun sejak hari pertama dia masuk kuliah, Luna sudah menjadi kembang kampus di angkatannya.


Thomas tidak pernah menjemput Luna, sehingga dia sama sekali tidak mengetahui hal ini.


Namun hanya melihatnya saja dia sudah tahu apa yang terjadi, kedua mahasiswa yang ada di sana jelas membuat Luna cukup kesal.


Awalnya Thomas ingin segera maju dan menghentikannya, namun dia menahan diri, dia ingin melihat bagaimana cara Luna menghadapi situasi seperti ini.


Tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang mencengkram tangan Luna dan dihempaskan oleh Luna dengan kesal.


Gerakan ini membuat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menonton.


Thomas menyelinap masuk ke dalam kerumunan.


Pria yang tangannya ditepis oleh Luna itu merasa sangat kesal, sehingga dia bertanya dengan suara yang lantang, “Kenapa? Gue udah ngedeketin elu hampir setahun, terus ini balasan elu?”


“Keiro, gue datang ke kampus untuk kuliah, bukan untuk pacaran, minggir!”


Luna melewatinya, namun dua orang pria dan wanita lainnya menghadangnya.


Mahasiswi itu menatap Luna dari atas sampai bawah dan berkata dengan sinis, “Luna, Tuan muda Keiro naksir sama elu, itu karena dia menghargai elu, tapi elu malah gak tahu diri banget, membuat semua orang merasa nggak senang. Elu juga tahu kan, asalkan Tuan muda Keiro buka mulut, ada begitu banyak cewek cantik yang berebut mau jadi pacar dia.”


“Kalau begitu, gue harus merasa sangat terhormat gitu?” saking kesalnya Luna sampai tersenyum sinis.


Seorang mahasiswa lainnya mendengus dengan kesal dan melirik Luna, lalu bicara dengan angkuh, “Luna, jangan dikira semua orang bisa elu bodohin ya, gue udah menyelidiki semuanya, kakak elu cuma kurir ekspedisi, kasarnya cuma seorang kuli, dan katanya bokap elu udah meninggal, nyokap elu juga penyakitan, punya keluarga yang kayak begitu, dan masih bisa ditaksir sama Tuan muda Keiro, elu masih merasa nggak terhormat gitu?”


“Tutup mulut lu! Gak ada yang boleh ngomongin keluarga gue, minggir semuanya!”


Begitu membicarakan tentang keluarganya dan juga Thomas, Luna langsung kesal sampai matanya memerah, dia mengulurkan tangan dan mendorong mereka, membuat pria yang bernama Tuan muda Keiro dan pria satunya lagi sampai mundur beberapa langkah.


Ketika dia akan menerobos kerumunan, Keiro malah tersenyum dengan dingin, “Luna, kalau elu nggak memberikan gue jawaban yang jelas, gue rasa elu gak akan bisa naik ke semester 3, bahkan mungkin tidak akan bisa lulus kuliah, percaya gak?”


Luna langsung tersentak, wajahnya seketika menjadi begitu pucat.


Dia tidak menyangka Keiro akan begitu picik, bisa-bisanya menggunakan studynya sebagai senjata.


Thomas bekerja begitu keras, bahkan mengirimnya kuliah di Trijaya, itu karena dia berharap setelah Luna lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.


Kalau sampai tidak bisa lulus kuliah, bukankah ibunya dan Thomas akan merasa sangat kecewa?


Dia tahu Keiro adalah cucu Wakil Dekan Universitas Trijaya, dia terbiasa membuat onar, dan orang atas hanya bisa menutup sebelah mata.


Dan mahasiswa di Trijaya tidak ada yang ingin mencari masalah dengannya.


Melihat ini, Thomas tidak tahan lagi, dia menerobos kerumunan dan berjalan mendekat.


Dia bisa melihat dengan jelas, yang dipanggil Tuan muda Keiro ini pasti punya backing di kampus, kalau tidak dia tidak mungkin berani mengatakan ini.


Kalau dia masih si miskin yang dulu, kalau dia bukan cucu Chandi Levian.


Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana nasib Luna ketika menghadapi masalah seperti ini.


Sehingga dia sangat marah!


Namun tangan Keiro langsung menahan bahu Thomas dan berkata dengan kesal, “Brengsek, siapa lu?”


“Bajingan!”


Thomas yang pada dasarnya sudah sangat emosi, langsung tidak bisa menahan amarahnya dan melayangkan tinjunya ke wajah Keiro.


Dia tidak pernah berkelahi dengan siapa pun.


Ketika kecil dia sangat penurut,  tidak pernah mencari masalah, dia juga memiliki nilai yang sangat tinggi, sehingga anak nakal di sekolahnya tidak pernah mengganggunya.


Mereka paling suka mengganggu anak yang nilainya jelek, atau murid yang ekonomi keluarganya menengah ke bawah.


Terhadap murid yang ekonomi keluarganya diatas rata-rata dan murid teladan seperti Thomas, mereka merasa seperti melihat gunung tinggi yang tidak terjangkau.


Bahkan ketika mereka melihat ada yang berniat mengganggu Thomas, mereka akan segera maju untuk membelanya, tujuannya adalah agar pada saat ulangan Thomas bisa memberikan sedikit ‘bantuan’ pada mereka.


Dan sejak ayah asuhnya meninggal, dia terpaksa mencicipi pahitnya kehidupan nyata.


Demi ketentraman keluarga, dia juga terbiasa menahan diri agar bisa hidup damai tentram.


Namun hari ini amarahnya sungguh tersulut.


Ini bukan karena ucapan Dimas yang mengatakan kalau dia tidak sombong maka tidak pantas. Meskipun sekarang dia masih orang biasa, dia juga pasti tidak akan tahan melihat adiknya diganggu seperti ini.


Pekerjaan sebagai kurir ekspedisi sedikit pun tidak mudah, bisa dikatakan pekerjaan yang mengandalkan fisik, dan tenaga Thomas terlatih karenanya.


Sehingga pukulan ini cukup membuat Keiro merasa nyawanya nyaris melayang.


Tubuhnya yang kurus langsung terpental jauh terkena pukulan yang kuat ini, lalu terjatuh dengan keras di tanah.


Dia merasa kesadarannya sempat hilang sesaat.


Baru merasa arwahnya kembali ke tubuh, dan bangun dengan susah payah.


Dai merasakan sakit yang begitu hebat pada dagunya, bahkan mulutnya sampai sulit untuk dikatupkan.


Dia merasa ada benda aneh dalam mulutnya, sehingga dia mendorongnya dengan lidah, ketika benda aneh itu dikeluarkan dari mulutnya, dia mendapati dua batang gigi yang sudah bercampur dengan darah dan air liur!


“Aaa! Uhhh! Eeeh…uuh!”


Keiro tidak bisa bicara, namun suaranya jelas terdengar penuh dengan amarah dan rasa takut.


Maksudnya jelas, menyuruh anak buahnya untuk maju dan menghajar orang yang datang mengacau ini!


Namun anak buah yang mengikutinya ini hanyalah pengecut.


Melihat ini semua, nyali mereka sudah menciut sampai tersisa tidak sampai setengah.


Dan jelas sekali lawan mereka bukan mahasiswa di kampus mereka, melainkan pemuda yang sudah matang, bagaimana kalau sampai membuatnya marah karena mereka maju?


Terlebih lagi melihat pukulannya yang mengenai Keiro itu, mereka hanya berdua, tidak akan bisa menandinginya, siapa yang berani maju?