
Ivan sangat marah. Karena tumbuh sebesar ini, dia tidak pernah dirugikan seperti ini. Selama ini dia selalu membuat orang lain yang merasa kesal, sejak kapan jadi terbalik?
Apalagi dia hanya seorang pria miskin yang berpura-pura berkuasa di hadapannya dan bersikap begitu hebat. Dia sungguh tidak sanggup menelan ini semua. Bahkan melihat makanan yang memenuhi meja makan saja tidak bisa memperbaiki suasana hatinya, yang memenuhi pikirannya sekarang adalah bagaimana cara mencari masalah dengan Thomas.
Ruang VVIP 1, semua makanan enak dihidangkan sampai memenuhi meja.
Ada banyak makanan yang tidak Thomas kenal, namun berdasarkan penjelasan pelayan yang menyajikannya, semua makanan yang dihidangkan dimasak dengan begitu sempurna. Selain itu, mereka juga memberikan sebotol Lafite wine secara gratis.
Thomas tidak minum alkohol. Luna tidak minum alkohol. Dimas juga tidak.
Thomas menanyakan pendapat Luna juga Dimas, lalu berkata kepada pelayan, “Nona, kami semua tidak minum alkohol.”
Pelayan ini mengangkat wajahnya dan menatap Thomas, “Tuan Thomas, Lafite ini diberikan oleh Bos kami secara gratis, ini adalah Lafite tahun 1982 seharga 2 miliaran.”
“Oh, ternyata begitu…” Thomas mengerutkan alisnya lalu menghela nafas, “Kami benar-benar tidak minum alkohol, kalau begitu Lafite ini kamu cairkan jadi uang saja.”
Luna:“......”
Dimas:“......”
Pelayan:“......”
Luna pemalu, sehingga wajahnya sudah merah padam sepenuhnya, diam-diam mencubit paha Thomas dan mengingatkan dengan suara pelan.
“… Sudahlah! Kalau begitu bantu kami membuka wine ini.”
Thomas memang tidak minum alkohol, namun melihat wine ini juga sulit untuk dibawa pulang, lalu harganya juga mencapai miliaran, akhirnya dia membuat sebuah keputusan yang sangat sulit. Malam ini, dia akan bersenang-senang satu kali!
Ada yang memulai, maka Luna dan Dimas juga memutuskan untuk mencicipi.
“… Wah! Wine mahal memang beda!” Thomas mengangkat gelas winenya dan mengangkat kepalanya, dia meminum satu teguk, dan sama sekali tidak bisa merasakan apa pun.
Namun dalam hatinya berseru, hanya seteguk wine saja minimal sudah puluhan juta? Dibandingkan dengan gaji dari kerja kerasnya selama beberapa bulan, ini sungguh boros!
Memikirkan ini, Thomas menggeleng sambil menghela nafas dan meminum winenya. Wine yang begitu bagus, kalau tidak diminum sungguh berdosa.
Tepat pada saat ini, pintu terbuka. Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas mahal dan begitu gagah melangkah masuk. Dia adalah pemilik Restoran Tasty.
Tadi dia menerima telepon, dan orang itu tanpa banyak bicara langsung menyebutkan semua angka rahasia dari aset yang dia miliki.
Kemudian orang itu mengatakan, tamu kehormatan Levian Group sudah tiba. Ketika itu dia sedang berada di sebuah kamar hotel dan bermesraan dengan sekretarisnya.
Telepon ini langsung membuatnya terkejut sampai membatu di sana. Siapa yang tidak tahu Levian Group. Apalagi Restoran Tasty ini adalah salah satu mata rantai dari sebagian kecil bisnis Levian Group yang tidak terhitung jumlahnya.
Bahkan ****** ******** dipakai terbalik pun dia sudah tidak peduli lagi, dia langsung berangkat dan menuju kemari dengan terburu-buru.
“Permisi, yang mana Tuan muda Widjaja?” Thomas langsung mengangkat tangannya dengan spontan.
“Aku, akulah orangnya.”
“Aduh, sungguh tidak disangka Anda bisa datang hari ini, ini sungguh kehormatan bagi restoran kami yang kecil ini!” dia langsung menarik tangan Thomas dan mengusapnya dengan ramah di hadapan semua orang.
“Tuan muda Widjaja, apakah Anda puas dengan pelayanan di sini? Kalau Anda membutuhkan sesuatu, silakan katakan, aku akan berusaha memenuhi semua yang Anda butuhkan.”
“… Lepaskan dulu tangannya baru bicara bisa tidak?” Thomas tersenyum dengan begitu kaku.
“… Lep, lepaskan.” Thomas menepis tangannya dan merasa bulu kuduknya langsung merinding. Apakah semua pria yang sudah tua punya kebiasaan yang sama seperti ini? Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh Thomas sama sekali.
Pemilik Restoran Tasty tetap begitu ramah, seolah ingin menumpahkan seluruh keramahannya pad Thomas.
“Namaku adalah Santo Cendana, kalau Tuan muda Widjaja berkenan, Anda cukup memanggilku dengan panggilan Santo.”
Susah payah menarik kembali tangannya, Thomas takut tangannya akan ditarik sekali lagi, sehingga langsung meletakkan tangannya di punggung dan mengangguk dengan sikap yang begitu tenang.
“Hm, pelayanannya lumayan, cukup memuaskan, bagus sekali. Oh iya, wine ini lumayan.” Bagaimana mungkin Thomas mengerti tentang rasa wine, dia mengatakan ini hanya karena melihat harganya saja.
“Ah, baguslah kalau Anda merasa puas, bagaimana kalau nanti aku berikan dua botol lagi?” ucap Santo sambil tersenyum dengan lebar.
Lafite tahun 1982, itu merupakan koleksi kesayangan Santo yang sama sekali tidak tega dia minum. Ini bukan masalah harga, namun Lafite angkatan tahun ini merupakan barang langka di angkatannya, bisa dikatakan meminum satu botol maka akan berkurang jumlahnya. Dari harganya saja sudah bisa diketahui betapa mahalnya minuman ini.
Namun bagi Santo ini bukan masalah. Asalkan bisa menjalin hubungan dengan Levian Group, ini merupakan harapan yang diinginkan oleh semua orang. Begitu dia bisa menarik simpati seseorang, itu artinya peluang bisnisnya akan tiba.
Meskipun Santo tidak bisa memastikan status Thomas, namun nomor bisnisnya, memang hanya orang Levian Group yang tahu.
“Hm, Anda nikmati hidangannya perlahan, kalau membutuhkan sesuatu bisa langsung memanggilku.” Santo mengeluarkan selembar kartu nama, lalu keluar dari ruangan, sebelum pergi dia bahkan menyapa Luna dan Dimas terlebih dahulu. Dia sangat pintar mengambil hati orang, meskipun targetnya adalah Thomas, namun dia tidak mengabaikan orang disekelilingnya.
Melihat Santo pergi, Thomas menghembuskan nafas lega. “Haih, tadi sungguh menakutkan, Santi ini benar-benar ingin menyerahkan dirinya padaku.”
Luna: “......”
Dimas: “......”
Ruang VVIP 2. Suasana di sana tetap begitu tegang.
Anggota keluarga Ningrat juga Ivan sama sekali tidak memiliki ***** makan untuk memakan makanan di atas meja, rasanya seperti sedang menggerogoti lilin.
Mereka dibuat malu di depan meja resepsionis oleh Thomas. Terutama Wanda, dia sama sekali tidak bisa mempercayai Thomas yang miskin itu bisa menjadi kaya. Dia mulai goyah sekarang.
Namun, Thomas memesan ruang VVIP 1, ini adalah kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. Juga manager restoran itu, atas dasar apa dia begitu sopan pada Thomas?
Tuan Chandra, pacarnya yang anak orang kaya juga termasuk orang kaya di Jakarta, namun setelah manager itu menerima telepon langsung memberikan ruangan terbaik itu pada Thomas. Menurutnya, mungkin belakangan ini Thomas berhasil mendekati seorang orang kaya.
Dan kebetulan orang kaya itu mengaturnya untuk memesan ruangan, sehingga terjadilah hal itu. Iya pasti begitu.
Tidak punya latar belakang, tidak punya kekuasaan, seorang pria miskin yang tidak punya uang setiap bulannya, bagaimana mungkin mendadak kaya dalam semalam. Dia tahu persis seperti apa keluarga Thomas.
“Brakk!” Ketika Wanda sedang melamun, Ivan tiba-tiba menggebrak meja. Kemudian dia berdiri dan menghampiri Martin dengan wajah tersenyum.
“Om Martin, ada satu hal yang harus aku diskusikan denganmu.” Berikutnya dia menunduk dan membisikkan beberapa patah kata.
Wajah Martin langsung terlihat jauh lebih lega, lalu dia menyetujuinya, “Apa yang kamu katakan masuk akal, seharusnya aku pergi untuk memeriksanya.” Kemudian dia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.
Ivan tidak mengatakan hal lain padanya, dia hanya berkata, kemungkinan uang yang didapatkan Thomas tidak halal, sebagai orangtua Thomas, seharusnya Martin lebih memperhatikannya. Misalnya lihat siapa saja yang makan bersama dengan Thomas.
Ivan sudah memperhitungkannya, kalau Thomas tidak kenal dengan siapa pun, dia bisa memanfaatkan orang Keluarga Ningrat untuk mempersulit Thomas.
Kalau Thomas benar-benar sedang bersama dengan seseorang, berdasarkan kedudukannya di Jakarta, tidak ada seorang pun yang tidak dia kenal. Nantinya dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyapa dan memberi isyarat. Begitu mereka tahu Thomas menyinggung Tuan muda Keluarga Chandra, mereka pasti akan langsung menjauh dari Thomas.
Kenapa Ivan tidak ingin maju secara langsung, alasan utamanya adalah adik Thomas, dia sungguh sangat cantik. Tiba-tiba dia berniat untuk mendekatinya. Sehingga untuk sementara dia tidak ingin menyinggung Thomas secara langsung, dan memanfaatkan orang lain untuk mencari celah.