
Thomas mengira matanya bermasalah.
Karena yang berdiri di hadapannya bukan orang lain, melainkan Jenika yang selama ini dia impikan!
Jenika mengerutkan alisnya dan berkata dengan datar, “Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menyisakan sebuah kamar tamu untukku?”
“Uhmm… iya.” Thomas mengangguk dengan bingung, memang ada kejadian seperti itu.”
“Di mana kamar tamunya?”
“Hm, ini, tidak disiapkan, hehe.”
Thomas menggaruk kepalanya dengan tersipu.
Hari itu dia mengira Jenika bercanda, siapa yang menyangka dia meminta kamar tamu padanya sekarang.
“Kalau begitu kamar utama, aku tinggal di kamar utama saja.”
Setelah Jenika mengatakannya, dia berbalik dan meninggalkan garasi.
Ketika dia datang kemarin, dia melihat ada tiga ranjang di dalam villa ini, satu milik adik Thomas, ada tumpukan belasan stel baju Mark & Spencer yang belum dibereskan.
Kamar yang lain milik Dimas, sehingga dia hanya bisa memilih kamar utama.
Thomas menatap Jenika yang berjalan menjauh sampai menghilang dengan tampang bucin, tidak lama setelahnya dai baru teringat hal yang sangat penting.
Dia tiba-tiba menoleh dan bertanya, “Dimas, siapa dia, kenapa dia bisa masuk ke rumah kita? Jangan bilang itu maling!”
Villa ini menggunakan gerbang yang dikunci dengan remote, tapi pintu utama menggunakan password.
Kalau tidak tahu passwordnya, orang luar tidak akan ada yang bisa masuk, sementara Jenika masuk garasi dari lantai satu, yang artinya dia masuk ke dalam rumah.
Tentu saja Thomas cemas.
Dimas mendengar lalu terkekeh, “Tuan muda, dialah hadiah dari kakekmu, jadi kamu harus memanfaatkan kesempatan dengan sebaiknya.”
“Tunggu dulu, apa maksudnya nih?” Thomas langsung blank, sama sekali tidak paham.
“Tuan muda, Nona Jenika ini kabarnya adalah calon istrimu yang sudah dijodohkan denganmu sejak kalian masih dalam kandungan.”
“Klontang!”
“Booomm!”
Kabar ini bagaikan sebuah palu raksasa yang menghantam kepala Thomas tanpa ampun, membuatnya seketika merasa seperti seorang idiot.
Namun entah berapa lama berlalu, dia akhirnya menyerap semua ini perlahan.
Lalu bertanya dengan wajah tidak percaya, “Lu gak bohong sama gue kan? Cia calon istri gue?”
Dimas tersenyum, “Bagaimana mungkin aku membohongimu, Nona Jenika ini adalah putri bungsu Tuan Erwan, dibandingkan dengan latar belakang keluarga tuan muda, masih bisa dianggap pantas dengan terpaksa.”
Sepertinya kedua mobil ini hanya makanan pembuka, Jenika ini barulah hadiah utama pemberian kakek royalnya?
Ini sungguh mengejutkan!
Setelah Thomas memikirkannya, dia memutuskan untuk bicara dengan Jenika, sebenarnya Jenika turun ke garasi hanya ingin mengatakan hal yang penting saja, setelahnya dia langsung naik kembali.
Jelas sekali ini juga karena ada hal yang ingin dikatakan pada Thomas.
Setelah berpamitan dengan Dimas, Thomas langsung berjalan menuju ke tangga.
Naik ke tangga, dia membuka pintu, ada sebuah koridor, kemudian ada sebuah pintu besi anti karat yang begitu besar.
Setelah membuka pintu itu, dia langsung berjalan lurus sampai ke ruang tamu lantai satu.
Jenika sedang duduk di atas sofa baru dan meminum teh, terlihat begitu tenang, namun membuat orang merasa begitu dingin.
Bidadari!
Thomas dia sungguh tenggelam dalam pesonanya.
“Nona Jenika, itu, kamu sudah makan?” tanya Thomas sambil tersenyum, kemudian teringat kalau dia belum masak.
Pertanyaan basa basi Thomas, tidak dijawab oleh Jenika, sebaliknya dia malah melirik Thomas dan bertanya.
“Apakah kamu tahu tentang masalah kita?”
“Uhm, tahu.” Thomas segera mengangguk, pada saat ini jantungnya berdegup begitu kencang.
Astaga, gugup sekali!
sampai sekarang pun dia masih belum bisa beradaptasi, wanita cantik seperti ini akan menjadi calon istrinya?
Wanda saja sudah termasuk wanita cantik, namun jika dibandingkan dengan Jenika, perbandingannya bagaikan itik buruk rupa dan angsa.
Mereka sama sekali tidak berada di level yang sama.
Jenika juga mengangguk, setelah mempertimbangkannya sejenak, dia kembali bersuara, “24 tahun yang lalu, Kakek Chandi dan kakekku pernah bercanda, kalau anak putra keduanya adalah perempuan, makan akan menjadi saudara angkatku, kalau laki-laki maka akan menikah denganku… aku jauh lebih tua dua tahun darimu.”
Pada saat ini Thomas duduk dengan tegak dan wajah serius mendengarkan ucapan Jenika.
Jenika terkejut, lalu muncul ekspresi kesal seolah dia sedang dipermainkan.
Namun hanya dalam sekejap saja sudah kembali normal.
“Demi menjalankan janji yang diikat oleh kedua pimpinan keluarga, juga dibawah permintaan ayahku, aku berjanji untuk datang kemari, untuk saling memahami denganmu dulu, satu bulan kemudian aku akan pergi. Kalau diantara kita ada yang merasa tidak cocok, maka pertunangan ini… akan dibatalkan.”
“Tidak masalah, aku merasa cukup cocok.”
......
“Itu juga harus lihat bagaimana pendapatku.”
Jenika mengangkat tehnya dengan tenang, lalu menyeruputnya dengan tenang.
Oh iya! Thomas menepuk kepalanya, ini adalah hubungan yang berhubungan dengan keduanya, masih harus memikirkan pendapat Jenika.
Dari penjelasan Dimas, Jenika adalah cucu dari keluarga konglomerat juga, namun kalau dibandingkan dengan Levian Group masih ada perbedaan level.
Dimas juga mengatakan kalau level keluarga Jenika masih bisa dianggap setara secara paksa.
Kalau begitu, dia bukan orang yang menikah untuk uang, kalau menikah dengan Jenika sama sekali tidak masalah.
“Kalau begitu bagaimana kesanmu?” tanya Thomas.
“Kamu… tidak cocok.”
“Uhm, aku juga merasa begitu… eh tunggu, apa yang kamu katakan?” Thomas tiba-tiba tercengang, dia sama sekali tidak menyangka Jenika akan memberikan jawaban seperti ini.
Berdasarkan bayangan Thomas, karena Jenika sudah menyetujui orang tuanya untuk datang bertemu dengannya sejauh ini.
Seharusnya dia sudah mencari tahu tentangnya dan mengetahui siapa dia sebelumnya.
Dia bersedia datang, itu sama artinya dengan masalah mereka sudah sukses setengah, kalau tidak pasti dia malas datang.
Namun jawaban Jenika malah jauh bertolak belakang dengan bayangannya.
Dia bukan datang untuk bertemu dengannya, melainkan datang untuk mengatakan kalau mereka tidak cocok?
“Kalau kamu tidak bersedia, lalu kenapa kamu masih juga datang menemuiku.” Ucap Thomas sambil tersenyum pahit.
“Terpaksa.” Jawab Jenika dengan singkat dan datar.
Thomas tersenyum dengan canggung, lalu berkata, “Baiklah, sebenarnya aku merasa aku cukup baik, kita hanya kurang saling memahami saja, yaitu saling memahami lebih dalam…”
Jenika tersenyum, “Kalau begitu coba katakan apa kelebihanmu?”
“Ini banyak, misalnya rajin, tahan banting, pintar, bertanggungjawab…”
Bagaikan menghitung harta yang ada di rumah, Thomas menyebutkan semua kelebihannya dengan tidak tahu malu satu per satu.
Dia bahkan berani bersumpah ini semua tidak ada yang mengada-ngada, semua kelebihan ini adalah pujian yang diberikan oleh orang sekitar padanya.
“Sayangnya ini adalah kelebihan orang biasa, bagiku ini tidak berguna.”
Thomas terlihat kebingungan.
Apa maksudnya tidak berguna, bukankah ini sama dengan tidak memandang orang.
Kalau dia Jenika Hermawan tidak tertarik, dia boleh pergi sekarang juga, untuk apa tetap berada disini dan menyerang harga dirinya.
Mungkin karena melihat Thomas tidak senang, Jenika tersenyum.
“Kelebihanmu ini ada karena kamu butuh untuk bertahan hidup, dan pria dambaanku harus yang paling hebat, merupakan pria terbaik yang berdiri di puncak dunia.”
“Bahasa yang terlalu tinggi aku tidak mengerti, kamu bisa katakan padaku secara terus terang, pria hebat yang kamu maksud itu yang seperti apa?” Thomas merasa tidak terima, dia adalah penerus Levian Group, apakah masih tidak bisa digolongkan sebagai konglomerat yang berdiri di puncak dunia!
Jelas sekali, meskipun Jenika mengatakannya dengan anggun dan lembut, namun didalamnya mengandung maksud terpendam, yaitu dia tidak pantas.
Jelas ini membuat syaraf otak Thomas berputar keras.
Keluarga Ningrat juga berpikir demikian, merasa kalau Thomas tidak pantas untuk Wanda.
Apakah dia seburuk itu? Thomas mulai merasa curiga.
Kemudian Jenika meletakkan cangkirnya dan berdiri, lalu menatap Thomas dari ketinggian, memperlihatkan senyum yang samar.
“Kalau pria yang hebat… aku juga tidak tahu karena aku belum menemukannya.”
Dalam hati Jenika berpikir, bocah ini entah bodoh atau naïf, namun cukup menarik juga.
Thomas juga bangkit dari sofa perlahan.
Dia meletakkan kedua tangannya di belakang, menatap keluar jendela dengan tatapan yang dalam, jauh menembus pekarangan luas yang ada di luar jendela.
Setelah beberapa saat dia berkata dan menghela nafas, “Huft, sejak aku tahu aku cucu pemilik Levian Group, aku seperti kehilangan target untuk berjuang. Terima kasih karena membuatku kembali menemukan target hidupku.”
Jenika merasa penasaran, sehingga bertanya, “Target apa?”
“Targetku adalah… menjadi pria hebat, lalu… menjadikanmu istriku!”