Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 92 Menolong Setengah Jalan Pasti Ada Maksud Tertentu


Dokter naif?


Ketiga dokter yang ada di sini adalah dokter spesialis.


Dia mengatakan dokter naif di hadapan orang yang bersangkutan.


“Security! Security! Cepat bawa orang ini keluar!”


Ketiga dokter ini benar-benar marah.


Menghalangi mereka mengobati pasien adalah suatu masalah.


Bicara sembarangan di sini dan mencoreng nama mereka juga sebuah masalah.


Kalau korban tertunda terlalu lama, lalu meninggal karena hal ini, maka pihak rumah sakit akan meminta pertanggungjawaban, mereka juga tidak akan bisa menghindar dari tanggung jawab.


Namun Adrian tidak beranggapan demikian, ucapan Heru membuat hatinya tergerak.


Heru ini memiliki ilmu pengobatan yang tidak terduga, dia sudah mengobati penyakit mematikannya, dan ini adalah sebuah kenyataan, sekarang dia mengatakan ucapan seperti ini, apakah Heru bisa mengobati Ivan?


Pada saat ini, belasan luka tusukan yang ada di bagian perut Ivan terlihat begitu mengerikan, luka seperti ini, asalkan orang yang punya mata pasti bisa melihat kondisi ini tidak ada harapan lagi.


Dan penanganan hanyalah formalitas saja.


Adrian bukan orang biasa,  kalau tidak dia tidak mungkin mampu sukses dari nol, mendirikan Bright Property di Kota Jakarta yang memiliki nilai saham ratusan miliar.


Sifat yang tegas, jauh melampaui orang biasa.


“Master Heru, apakah Anda punya cara lain?” tanya Adrian.


“Hmm, aku punya caranya.” Heru mengangguk dan berkata, “Tuan Adrian, seperti yang Anda lihat, tuan muda ditikam berkali-kali di bagian bawah perut. Anda lihat lagi lukanya, sudah tidak ada darah yang keluar, seharusnya dia sudah meninggal dalam waktu 15 menit karena kehabisan banyak darah setelah dia ditikam…”


Wajah Adrian langsung berubah drastis.


Dia ingin Heru menolong orang, bukan membicarakan hal seperti ini dengannya!


“Aku rasa, sejak putra Anda ditikam sampai sekarang sudah lebih dari setengah jam lamanya, seharusnya… dia sudah mati 15 menit yang lalu.”


Bicara sampai di sini, Heru menoleh, melihat ke arah seorang preman yang tangannya penuh darah dan terlihat kebingungan, lalu bertanya, “Nak, aku mau tanya, sekitar 15 menit yang lalu, apakah ada orang lain yang muncul dan menolong Tuan muda Ivan?”


Preman itu menggeleng dengan bingung, “Ti, tidak ada…”


Alis Heru mengerut, “Hm? Kalau begitu apakah ada orang lain yang sempat mendekati Tuan muda Ivan?”


Preman ini seolah diingatkan pada sesuatu, dia langsung berkata, “Ehmm,… ketika kami menggotong Tuan muda Ivan sampai ke depan rumah sakit, ada seorang pak tua  menabrak Tuan muda Ivan, ini termasuk tidak?”


“Termasuk.”


Heru mengulurkan tangannya dan mengangkat pergelangan tangan Ivan, lalu memejamkan matanya.


Pada saat bersamaan, ketiga orang dokter sudah mengeluarkan ponsel dan merekam video dengan senyum dingin.


Karena mereka tidak bisa menghentikan pak tua ini, maka mereka harus memiliki bukti yang kuat terlebih dahulu, jangan sampai nanti tidak bisa berkelit.


Tidak sampai 10 detik, Heru membuka mata dan berkata, “Tuan Adrian, putra Anda tidak perlu dioperasi, aku akan mengeluarkan darah beku yang ada di organ dalamnya terlebih dahulu, nanti setelah diantar kembali ke rumah Anda, aku akan langsung melakukan pengobatan.”


Dokter berkata dengan senyum dingin, “Haha, untuk apa melakukan operasi? Orangnya sudah hampir mati. Tuan, karena Anda adalah keluarga pasien, saya harus mengatakan hal ini sekarang, orang yang Anda bawa ini sudah menunda waktu kami dalam menolong pasien, bukan kami yang tidak mengoperasi pasien!”


Kesabaran Adrian juga sudah sampai pada batasnya, apa yang sedang dilakukan oleh Heru?!


Kalau mau mengobati cepat obati, kalau tidak bawa masuk untuk ditangani, bukan hanya berkata omong kosong dan mau membawanya pulang?


Dan sebelum Adrian membuka mulut, Heru tiba-tiba mencengkram tangan Ivan dan menariknya dengan kuat, lalu mengangkatnya.


Ivan yang terbaring langsung terbalik dan membanting ranjang pasien sampai menimbulkan suara benturan.


Jantung Adrian terasa tercekat.


Putranya nyaris mati, sekarang malah disiksa seperti ini mana mungkin masih bisa hidup!


“Aaaa… hen, hentikan!”


Dia mengangkatnya secara tiba-tiba, dan seluruh tubuh Ivan terangkat oleh Heru begitu saja.


“Bukk!”


Dia kembali mendarat di ranjang.


Lalu terangkat lagi.


Darah menyembur keluar dari luka, seiring dengan tubuh Ivan yang mendarat, darah menyiprat ke arah semua orang yang ada di sana.


Namun setiap orang malah terkejut sampai tercengang, sama sekali tidak ada yang berani berteriak pembunuhan dan semacamnya.


Setelah berlangsung dua kali, Heru  membalikkan tubuh Ivan dan menepuk telapak kaki Ivan sambil berseru pelan, “Bangun!”


Seperti bisa menjawab, Ivan yang sudah hilang kesadaran tiba-tiba berteriak “Ah” dan memuntahkan darah kehitaman dalam jumlah yang banyak.


“Sakit… sakit sekali… aaah…”


Kedua tangan Ivan memegangi perutnya dan mengerang sambil meringkuk.


......


Dokter dan perawat juga keluarga pasien lain yang ada di sana, termasuk Adrian, semuanya tercengang oleh cara Heru.


Ini tidak masuk akal!


Karena kehilangan banyak darah pasien sudah dalam kondisi koma, bisa dibilang sudah setengah mati, bahkan orang yang buta akan ilmu kedokteran pun tahu, sebelum transfusi dan operasi, mana mungkin kembali sadar?


Namun meskipun tidak percaya, pemandangan yang begitu ajaib dan tidak masuk akal ini malah terjadi di hadapan mereka langsung, bahkan pasien bisa berteriak sakit…


“Tuan Adrian, panggilkan anak buahmu, bawa Tuan muda Ivan pulang, tidak bisa ditunda lagi.” Dia melirik Adrian, lalu melirik dokter yang memasang wajah tercengang, dia berpikir sejenak dan memahami apa yang dipikirkan semua orang, Heru hanya berkata dengan datar, “Kalau Tuan Adrian merasa berada di rumah sakit bisa mengobati Tuan muda Ivan, maka anggap aku tidak mengatakan apapun.”


Setelah mengatakannya, Heru mengangkat kakinya dan berjalan ke luar dari pintu rumah sakit terlebih dahulu.


Adrian bereaksi dengan cepat, dia segera menyuruh dua orang preman menggotong Ivan dan mengikuti Heru, “Master Heru, tunggu!”


......


Rumah Keluarga Chandra.


Ivan berbaring dengan tubuh telanjang dan tidak sadarkan diri.


Heru memegang jarum dan benang yang digunakan untuk menjahit luka Ivan.


Sementara Adrian menatap wajah Ivan yang pucat pasi, beberapa kali membuka mulut ingin bicara namun pada akhirnya dia telah kembali.


Sampai semua lukanya selesai dijahit, dia baru berkata, “Master Heru, putraku…”


“Putramu sudah tidak apa-apa, aku menotoknya agar tertidur, empat jam kemudian dia akan sadar.”


Heru diam sejenak lalu berkata, “Tuan Adrian, harusnya putra Anda sudah mati, namun di depan rumah sakit ada orang yang memberinya sebutir Pil Jiwa, sehingga nyawanya bisa terselamatkan, kalau telat beberapa menit lagi, mungkin tidak ada yang bisa dilakukan lagi.”


“Kalau begitu saya harus berterimakasih pada orang itu karena sudah menolong nyawa putraku!” Adrian merasa lega dan menghela nafas.


“Hehe, kejadian ini tidak sesederhana itu, mungkin dia turun tangan bukan untuk menolong.” Heru tersenyum dingin, lalu berbalik dan berkata, “Pil Jiwa adalah semacam pil dewa, namun juga merupakan racun, kalau tidak memenuhi energi organ yang berfungsi tepat waktu, maka tubuh putra Anda akan mengalami kehancuran, kelak akan menjadi orang cacat yang berjalan beberapa langkah saja sudah terengah… Tuan Adrian, Anda akan kehilangan penerus keturunan.”


Mata Adrian langsung membelalak besar dan menarik nafas dalam.


Apa yang dikatakan Heru padanya hanya dia pahami setengahnya, dia mengerutkan alisnya dan melangkah maju, lalu bertanya, “Master Heru, bisakan Anda jelaskan, kejadian ini, bagaimana kondisi sebenarnya?”


“Tuan Adrian, Pil Jiwa memang pil dewa yang bisa mengobati luka, meskipun nafas sudah putus pun akan kembali bangun dalam setengah jam, memiliki khasiat menghidupkan kembali.”


“Namun setelah menelan Pil Jiwa, obat akan menyebar, namun dia akan menyerap energi yang ada dalam tubuh pasien, oleh karena itu membutuhkan energi murni yang dialirkan ke dalam tubuhnya, agar Pil Jiwa ini tidak melukai tubuh pasien sendiri. Jurus yang aku latih tidak bisa dialirkan, namun aku sudah memberikan pil obat yang bisa meningkatkan energi dalam tubuh tuan muda, aku rasa efeknya tidak akan terlalu buruk.”


“Menurutku, setelah putra Anda ditikam dan dibawa ke rumah sakit, lalu di depan rumah sakit diberi Pil Jiwa, apakah ini tidak terlalu kebetulan, kemungkinan besar ini adalah perbuatan orang yang sama.” Mata segitiga Heru terlihat licik, lalu tersenyum dengan dingin dan kejam, “Menolong orang setengah-setengah, pasti ada maksud tertentu!”


Mendengar hal ini Adrian langsung emosi, “Master Heru, apakah Anda tahu siapa orang ini, beraninya ingin membuat garis keturunan Keluarga Chandra putus?”