
“Tuan besar, Anda baru saja mendarat dan tiba belum satu jam.” Kepala pelayan tersenyum lebar, berada di sisinya selama puluhan tahun, dia sungguh memahami seperti apa sifat Chandi Levian.
Chandi mengangguk, namun tetap menggeleng sambil menghela nafas dengan murung, “Aish, apa yang kamu katakan masuk akal, kalau begitu aku akan menunggu lagi!”
“Sekarang orangnya sudah ketemu, Tuan besar tidak perlu begitu tergesa-gesa.” Kepala pelayan menenangkannya.
Meskipun demikian, ucapan ini tetap tidak bisa menepis perasaan cemas yang dirasakan oleh Chandi.
Meskipun hanya berbicara tidak sampai 10 menit, namun cucunya ini terasa sangat cocok dengannya, mungkin inilah yang disebut dengan ikatan batin dalam hubungan sedarah.
Entah mengapa, begitu melihat Thomas, dia langsung teringat pada putra bungsunya yang sudah meninggal begitu lama.
Hal ini membuat hatinya terasa begitu sesak, bagaikan ada ribuan semut yang sedang menggerogoti tubuh juga hatinya.
Kalau bukan karena dia harus kembali, mungkin dia akan langsung tinggal di sana.
Tepat ketika pikiran Chandi sedang melayang jauh, tiba-tiba suara dering handphone memecah suasana yang begitu menyesakkan.
Chandi langsung melompat dan terduduk dengan ekspresi yang begitu penuh semangat, sama sekali tidak terlihat seperti pak tua berusia 60 tahunan.
Dia segera mengambil ponselnya dan melihat. Wajah keriputnya langsung berubah bagaikan bunga matahari yang mekar di pagi hari.
“Haha, hahaha! Yanto, kamu lihat kan? Cucuku meneleponku!” setelah mengatakannya, dia segera menekan tombol jawab.
Suaranya terdengar menggelegar, “Halo, cucuku!”
......
Meskipun Thomas masih belum terbiasa dengan panggilan ini, namun dia memutuskan untuk langsung membicarakan topik utama.
“Uhm, begini, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu…”
Hanya dengan beberapa patah kata, Thomas sudah menceritakan kondisi penyakit Silvia kepada kakeknya secara garis besar.
“Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu punya cara, atau kenal dengan dokter?” alis Chandi mengerut dan berpikir sesaat.
Penyakit jantung yang diidap oleh ibunya bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, berdasarkan koneksi dan juga relasi yang dimiliki oleh Chandi, membantu Thomas hanyalah hal kecil baginya.
Yang dia pikirkan adalah, bagaimana cara dia menyelesaikan masalah ini agar mendapatkan kesan yang baik di hadapan Thomas, dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memenangkan kembali jalinan yang sempat terputus sekian tahun ini.
Setelah sesaat, Chandi tetap belum mengambil keputusan.
“Cu, aku kenal seorang dokter, untuk mengobati segala macam penyakit dia sudah pasti yang terhebat, bagaimana kalau aku merekomendasikannya untukmu?”
Dari ucapannya ini, membuat Thomas merasa kalau rekomendasinya ini adalah seorang dokter ilegal biasa.
Penyakit jantung bukanlah penyakit kecil, dalam pikirannya, dia ingin Chandi memperkenalkan sebuah rumah sakit ternama untuk mengoperasi ibunya.
Namun, Chandi malah mencarikan seorang… seorang ahli dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Thomas tidak ingin mengecewakan niat baik Chandi, dan juga membawa sedikit harapan, sehingga dia langsung mengiyakannya.
“Kalau begitu aku akan langsung mengaturnya datang ke sana dengan pesawat, mungkin besok pagi dia akan tiba di sana.”
Setelah Thomas pikir lagi, untuk sementara hanya bisa begitu, kalau orang yang diatur oleh Chandi sama sekali tidak berguna untuk penyakit ibunya, maka dia akan mencari jalan lain setelahnya.
“Baiklah, kalau begitu kita bicarakan lagi nanti.”
“Eh? Cucuku, tunggu dulu!” begitu Chandi mendengarnya, dia segera berkata sambil tersenyum, “Apakah tidak ada hal lain yang ingin kamu bicarakan pada kakek?”
“Sudah.”
Chandi hanya memegangi ponselnya dengan wajah tercengang.
Pada saat ini kepala pelayan bertanya, “Tuan besar, apakah Anda ingin mengutus Haris Anggara ke sana?”
“Iya, tepat sekali, bukankah si pak tua itu terus mengeluh bosan karena tidak ada yang bisa dikerjakan? Kalau begitu biar dia pergi jalan-jalan sejenak.”
Setelah Chandi diam sejenak, dia seperti teringat sesuatu, lalu berkata lagi, “Sekalian beritahu Erwan, katakan padanya kalau menantunya sudah ditemukan.”
“Tuan besar, jika Anda melakukan ini, ini hanya akan membuat Tuan muda kerepotan…” Kepala pelayan hanya bisa tersenyum pahit.
Namun dia tahu keputusan yang sudah dibuat oleh tuan besarnya, maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya, sehingga dia segera pergi dan mengurus perintah tuannya.
Chandi kembali bersandar, memejamkan kedua mata, terlihat sudah tertidur namun wibawa yang terpancar tetap terasa.
Namun dia tiba-tiba terkekeh, semua wibawanya langsung lenyap. Muncul ekspresi yang begitu licik, seperti seekor rubah tua yang rencana piciknya sudah berhasil.
***
Thomas membawa Luna ke sebuah showroom mobil.
Mobil yang paling murah saja di atas 400 juta. Ini merupakan hal yang sama sekali tidak berani dia bayangkan sebelumnya.
Tatapan mata Thomas malah terus berputar di atas mobil yang harganya miliaran.
Apa yang dia pikirkan sangat sederhana. Minimal, dia harus membeli mobil yang sama dengan Tuan Chandra.
Sebenarnya ketika kedua kakak beradik masuk ke dalam showroom, sales marketing di sana sudah menyadari kehadiran mereka.
Hanya saja tidak ada satu orang pun yang menurut mereka pantas dilayani. Pakaian yang mereka pakai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki hanya barang murah, dengan alih-alih ingin melihat mobil, lalu menunggu makan siang gratis. Hal seperti ini sudah sering mereka temui. Setelah makan mereka akan pergi begitu saja, bahkan hanya menyia-nyiakan air liur para sales saja.
Jelas sekali, para sales ini menganggap kedua kakak beradik ini sebagai golongan orang seperti itu, sehingga mereka malas menghampirinya.
Setelah melihat-lihat, kedua kakak beradik ini terpisah. Luna berjalan karena pameran mobil yang lebih murah, sementara Thomas berjalan ke area mobil mewah.
Dia tertarik pada sebuah mobil Land Rover Range Rover, mobil tipe ini lumayan, besar dan gagah, harganya berkisar di angka 4 miliaran.
Harga mobil Ferrari Tuan Chandra itu juga berkisar di angka ini.
“Pelayan! Di mana pelayannya?” Thomas berteriak, lalu tiba-tiba menunjuk seseorang, “Iya, kamu, tolong kemari sebentar.”
Sales yang ditunjuk oleh Thomas adalah seorang pria berusia 27 tahun, dia sempat tercengang, lalu merasa kesal. Dia adalah seorang sales marketing yang sah, bukan pelayan!
Penipu yang datang hanya untuk makan dan minum gratis ini, tidak mengusirnya keluar saja sudah termasuk sopan padanya, sekarang malah berani menyuruh-nyuruh?
Namun perusahaan memiliki peraturan, setiap pelanggan yang datang untuk menanyakan mobil, maka mereka harus menjawab setiap pertanyaannya, kalau tidak bonus mereka akan dipotong.
Dia melirik Thomas dengan kesal dan enggan, namun dia tetap menghampirinya.
“Aku ingin tanya apakah mobil ini ada yang ready?” tanya Thomas.
Namun setelah sesaat, Thomas sama sekali tidak mendapatkan jawaban, ketika dia menoleh, yang menyambutnya malah sebuah senyum dingin yang sedang merendahkannya.
“Aku mau mobil tipe ini.” Thomas mengira apa yang dia katakan tadi kurang jelas, sehingga menambahkan.
“Apakah kamu sudah lihat harganya? Tidak semua orang biasa mampu membeli mobil ini.” ucap sales pria itu dengan nada merendahkan.
“Bukan begitu, yang aku tanyakan apakah mobil tipe ini ada yang sudah ready, apa maksud ucapanmu ini?”
Thomas langsung merasa tidak senang, sepertinya hari ini dia tidak boleh keluar rumah, sungguh tidak disangka datang ke showroom untuk melihat mobil malah harus dibuat kesal seperti ini.
Kalau ada katakan ada, kalau tidak ada katakan tidak ada. Jawaban yang begitu sederhana, namun sales ini malah menyindir dengan begitu tajam, membuat suasana hati Thomas yang baik langsung lenyap.
Karena mereka berdua menaikkan nada bicaranya, sontak menarik perhatian Luna. Begitu dia melihat ada orang yang sedang bertengkar dengan Thomas, dia segera menghampiri dengan wajah kesal.
Seorang sales wanita yang sedang bersama dengan Luna juga segera mendekat ketika melihat situasi seperti ini.
“Kak, ada apa?” Luna berjalan ke samping Thomas dan bertanya.
“Tidak apa, kita lihat-lihat toko lain saja.”
“Tapi…”
“Sudah, jangan banyak omong.”
Melihat ekspresi Thomas, Luna hanya bisa menahan perasaannya lalu melirik tajam ke arah sales pria itu.
Mengalami hal seperti ini, siapa pun akan merasa tidak senang, namun Thomas merasa hal ini tidak perlu dibesarkan, karena mereka tidak ingin berbisnis dengannya, ya sudah.
“Huh, sudah kukatakan bukan, mereka hanya orang yang datang untuk makan dan minum gratis di sini.”
Sales pria itu menatap kedua kakak beradik yang pergi itu dengan senyuman yang begitu dingin, sambil menceritakan ‘pengalamannya’ kepada sales wanita yang ada di sampingnya, merasa kalau dirinya sudah berhasil mematahkan rencana busuk kedua orang yang ingin datang untuk makan dan minum gratis itu.
Lalu sales wanita itu berpikir sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk segera mengejar mereka.
“Tunggu sebentar, kalian ingin membeli mobil apa, aku bisa menjelaskannya untuk kalian!”
Sales wanita ini adalah seorang mahasiswa, dia baru bekerja di showroom ini, dan dia sedang cemas dengan target penjualan bulan ini.
Dia memeluk harapan yang begitu kecil, dia berpikir, kalau jual beli ini berhasil, maka dia akan bisa mendapatkan komisi, dan dia juga tidak perlu khawatir akan dipecat oleh managernya.
Thomas berbalik, menatap sales wanita ini dan berkata, “Aku ingin membeli Land Rover itu.”
“Pffth!” begitu sales pria itu mendengarnya, dia langsung tertawa.
Lalu berkata dengan tidak senang, “Nak, kalau kamu benar-benar sanggup membeli mobil ini, aku akan menjilati bawah sepatumu sampai bersih!”
Awalnya sales pria ini merasa sangat kesal karena anak baru ini melawan ucapannya. Namun, kelihatannya dia berniat mengambil hatinya dengan membuat kedua kakak beradik ini dipermalukan sekali lagi.