Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Luna Mengamuk


Martin menutup pintu dengan rapat, kemudian berjalan ke ruang VVIP 1. Setelah diingatkan oleh Ivan, dia sudah tahu harus bagaimana menginterogasi Thomas. Menurut dia, kemampuan finansial Thomas  sama sekali tidak memungkinkannya untuk hidup glamour seperti ini.


Sehingga akar masalah langsung muncul, dari mana datangnya uang Thomas? Kalau bukan membantu salah satu orang kaya memesan ruangan, maka sudah pasti uang yang dia miliki dari bisnis haram!


Sebagai sahabat Tanto Widjaja, juga sebagai teman seperjuangan, dia punya tanggung jawab untuk menjaga istri juga anaknya setelah Tanto meninggal. Baginya, tidak peduli apa pun alasan Thomas. Entah itu menggunakan kekuasaan orang lain untuk membuat dirinya terlihat hebat, atau pun karena terdesak oleh keadaan sehingga mengambil jalan pintas, dia punya kewajiban untuk mencegah Thomas terus melakukan kesalahan.


Di depan ruang VVIP 1, ada dua orang pelayan wanita yang berjaga. Martin membenahi ekspresinya, lalu berjalan mendekat.


“Tuan, ini adalah ruang VVIP 1.” ucap seorang pelayan sambil tersenyum ramah.


Dia tidak mencegah namun juga tidak mempersilahkan, hanya menginformasikan.


Dan untuk hal ini, Martin sudah mempersiapkan dirinya, “Saya adalah tamu di sini.”


“Kalau begitu mohon tunggu sebentar, saya masuk untuk melapor terlebih dahulu.”


Pelayan wanita itu berjalan masuk, tidak sampai lima menit, dia sudah keluar lagi dan mengangguk sambil tersenyum, “Maaf sudah membuat Anda menunggu lama, semoga makan malam Anda menyenangkan.”


Martin mengangguk, dalam hati berdecak kagum, Restoran Tasty ini memang bukan restoran sembarangan seperti yang ada di luar sana.


Namun dia berhasil mendapat koneksi seperti Tuan Chandra ini, tidak perlu waktu setengah tahun, maka  dia sudah pasti akan bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak, kelak untuk makan di sini adalah hal mudah baginya. Dan orang yang diundang olehnya sudah pasti orang-orang penting.


Setelah memikirkannya, dia melangkah masuk.


VVIP 1 dan VVIP 2, perbedaan di antara keduanya tidaklah sedikit. Luas ruang VVIP 1 bahkan sudah menempati sepertiga lantai 30 ini.


Ruangan ini menggunakan kaca sebagai ganti dinding, begitu berjalan masuk, pemandangan yang indah dan luas langsung muncul di hadapannya. Martin sungguh kagum dengan kemewahan ruangan ini, namun alisnya langsung mengkerut.


Dia melihat Thomas sedang mengobrol dengan seru bersama dengan pria yang bertubuh tinggi itu. Ini tempat apa? Bicara sekeras itu bagaikan sedang berada di rumah makan pinggir jalan, sama sekali tidak berkelas! Thomas oh Thomas, kamu sungguh duduk di istana raja namun sikapmu tetap seperti seorang pengemis!


“Thomas!” Thomas dan Dimas langsung terdiam, dan ketika  menoleh, dia langsung melihat Martin yang mendekat.


Ketika pelayan yang tadi masuk, dia sudah memberitahu Thomas, namun Thomas merasa sedikit heran, untuk apa Martin mencarinya? Bukankah seharusnya dia menemani Tuan Chandra sekarang.


Namun karena Martin sudah datang, Thomas tidak punya alasan untuk menolak tamu yang datang, dia takut Martin akan mengadu yang tidak-tidak pada ibu asuhnya nanti.


“Om Martin.” Thomas berencana bangkit berdiri, namun Luna menahannya. Teringat sikap orang Keluarga Ningrat, dia kembali duduk dengan tenang dan menunggu Martin menghampirinya.


Martin yang melihat ini semakin merasa tidak senang. Selama ini, Thomas selalu bersikap begitu sopan di hadapannya, dia juga anak yang begitu patuh. Sekarang begitu memiliki sedikit uang, langsung merasa angkuh dan tidak memandang orang lagi?


Wajahnya terlihat begitu muram dan berjalan ke hadapan Thomas, sorot matanya terlihat begitu bimbang, dia sedang berpikir bagaimana cara membujuk Thomas kembali ke jalan yang benar.


“Om Martin, ada apa Om mencariku?” tanya Thomas dengan datar.


Martin menuang segelas wine lalu meminumnya sampai habis terlebih dahulu, baru meletakkan gelas wine itu dengan keras di atas meja, tatapannya yang dilayangkan ke arah Thomas terlihat begitu tajam.


“Sudah jangan katakan lagi, uangku sangat halal, tidak perlu kamu cemaskan.” Semakin didengar ucapannya semakin tidak masuk akal, sehingga Thomas langsung memotong ucapan Martin.


“Thomas, kamu punya kemampuan pun, mungkinkah Om tidak tahu? Kalau memang benar uangmu halal, kamu menghasilkan uang dari mana?!”


Menghadapi Martin yang terus mendesak, Dimas langsung duduk bersandar sambil menyilangkan tangannya dan bersiap menonton.


Tepat pada saat ini, Luna yang sejak tadi hanya terdiam akhirnya tidak tahan lagi. Mungkin karena minum dua gelas wine, sehingga kedua pipinya merona merah.


“Om Martin! Aku tidak mengizinkanmu mengatai Kakakku seperti itu!”


“Kenapa aku tidak boleh?” Martin merasa kesal, “Tanto adalah temanku sejak lama, sekarang dia sudah tidak ada, maka aku punya tanggung jawab untuk mendidik kalian! Kakakmu melakukan kesalahan, maka Om Martin berhak membawanya kembali ke jalan yang benar!”


Thomas tertawa. Dia bukan orang bodoh. Tiba-tiba dia paham mengapa Martin melakukan ini, namun dia tidak perlu bertengkar dengannya.


Mungkinkah dia mengakui dengan jujur kalau dia sekarang adalah cucu Direktur Levian Group, cucu kandung Chandy Levian, seorang cucu konglomerat super kaya?


Dan apa yang dipikirkan oleh Luna malah sebaliknya. Keluarga Ningrat tidak tahu terima kasih, dia sudah melihatnya dengan jelas. Anak gadis itu makhluk yang sangat berhati sempit, membuatnya tidak bisa tinggal diam melihat Thomas menerima perlakuan seperti ini.


Kedatangan Martin ke sini, bukan hanya terus mempersulit mereka, bahkan berencana membawa Thomas ke kantor polisi. Mungkin karena sedikit mabuk sehingga perasaan ingin membela kakaknya semakin kuat, dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan bertanya dengan lantang.


“Om Martin, kamu mengatakan kalau kamu adalah sahabat ayah sejak lama, kalau begitu aku ingin tanya, sejak ayah meninggal, tanggung jawab apa yang pernah Om lakukan untuk keluarga kami?”


Begitu membicarakan Tanto, mata Luna langsung berkaca-kaca, “Sejak awal aku sudah tahu kalau kehidupan kalian jauh lebih baik daripada kami, namun kakakku setiap bulannya mengantarkan uangnya ke rumah kalian. Kami sama sekali tidak peduli karena ini adalah pesan ayah sebelum meninggal, namun apa yang sudah kalian lakukan? Kalian membatalkan perjodohan ini begitu saja, alasannya hanya karena memandang rendah keluarga kami yang miskin!”


“Intinya, sikapmu yang sekarang karena tidak senang melihat kakakku kaya, kamu merasa kakakku memang sudah sepantasnya hidup miskin selamanya, dengan demikian kamu baru bisa merasa senang iya kan?!”


Martin langsung dibuat kesal sampai matanya membelalak lebar, dadanya naik turun tidak beraturan, tangannya hanya terjulur dan hanya mengatakan ‘Kau!’ tanpa bisa melawan.


“Thomas! Lihat adikmu ini, omong kosong apa yang sedang dia katakan! Kakak macam apa kamu?!” Martin berteriak dengan keras.


Namun Thomas langsung mengabaikan introgasi Martin, dia mengangkat gelas winenya dengan acuh dan meminumnya. Sebenarnya, dalam hatinya yang terdalam dia bersorak untuk Luna, apa yang dikatakan oleh gadis ini sungguh sempurna! Sungguh memuaskan!


Namun Martin malah dibuat kesal sampai dadanya kembang kempis, dia sungguh tidak menyangka lidah Luna setajam ini. Namun kalau melepaskan Thomas begitu saja, dia malah merasa sangat tidak rela.


Awalnya dia tidak ingin melakukan hal yang keterlaluan, namun dia sudah memutuskan sekarang. Dia harus menunggu Tuan Chandra datang, supaya Thomas bisa melihat secara langsung, juga agar dia tahu di mana perbedaan di antara dirinya dan juga orang kaya! Jangan mengira dengan sedikit keberuntungan dan mendapatkan sedikit uang, dia langsung tidak memandang siapa pun!


Situasi ini berlangsung sekitar 10 menit, kemudian pelayan yang berjaga di depan sekali lagi masuk.


Dia berjalan sampai di depan meja mereka, lalu berkata dengan canggung, “Tuan Widjaja, Tuan Chandra mengajak belasan orang dan mengatakan ingin menemui Tuan Martin Ningrat…”


Thomas tercengang, lalu melirik Martin.


Tepat pada saat ini, pintu ruang VVIP 1 dibuka dengan kasar, Ivan menerobos masuk dengan sikap yang sangat angkuh.