Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Booking Kamar Hotel


   "Hah? Luna? Kenapa kamu bisa ada di mobil ini?" Freya sungguh terkejut.


    Luna tiba-tiba mengulurkan kepalanya dari dalam mobil mewah yang tidak dia kenal namanya, membuat Freya terkejut sampai nyaris melompat.


    "Luna, kenapa kamu sembarang masuk ke dalam mobil orang, cepat turun."


    Freya terlihat panik, lelu melihat Dimas yang duduk di kursi pengemudi.


    "Kak Freya, ini adalah mobil kakakku, naiklah!" Ucap Luna, lalu mundur untuk memberikan Freya tempat duduk.


    "Hah, apa, ini mobil kakakmu?"


    Freya menoleh dengan wajah begitu terkejut dan menoleh ke arah Thomas, dia sungguh tidak menyangka Thomas memiliki mobil sekeren ini.


    Dan sepertinya dia juga punya supir?


    Freya mengira dirinya sedang bermimpi!


    "Iya, naiklah." Thomas tersenyum dan meminta Freya naik ke atas mobil.


    Pada saat ini Dimas bertanya, " Tuan muda, berikutnya kita ke mana?"


    Thomas berpikir sejenak lalu berkata, "Uhmm... Antar aku ke Tasty, lalu antarkan Luna pulang."


    "Kak, kau, kau jahat sekali!" awalnya Luna terkejut, namun setelah itu dia berkata dengan manja dan pipi yang merona.


    Dia mengira Thomas dan Freya pergi ke Tasty untuk melakukan hal yang tidak bisa dideskripsikan.


    Nama Tasty sudah sangat terkenal di seluruh kota, oleh karena itu wajah Freya juga ikut memerah.


    Thomas ini mau ngapain sih?


    Pergi gak ya?


    Kalau tidak pergi, Thomas pasti kecewa, tapi kalau pergi... Dia...


    "Bocah ini benar-benar ngaco ya, bicara ngaco apa kamu!" Thomas sungguh tidak tahu harus tertawa atau kesal, tapi dia juga tidak bisa menjelaskannya sekarang, dia tadi hampir menyaksikan Freya terjun dari atas gedung dengan mata kepalanya sendiri.


    Lalu dia menatap Freya dan berkata dengan serius, "Aku tidak tenang, sehingga malam ini kamu harus menuruti ucapanku, malam ini kamu menginap di Tasty."


    Sekarang Freya baru paham, ternyata Thomas bukan ingin melakukan hal itu, melainkan karena tidak tenang, takut dia mengambil jalan pintas lagi.


    Tapi...


    "Aku, aku sungguh tidak apa-apa, tidak perlu pergi ke tempat mahal seperti itu!" Freya menggeleng dengan panik.


    "Tidak bisa, naik!" Thomas langsung menolak, dan dia tidak ingin menundanya lagi, sehingga dia langsung mendorong Freya ke atas mobil.


    Mobil King Kalman meninggalkan Trijaya dan melaju ke arah Tasty.


    Di jalan, Freya sesekali menoleh ke arah Dimas yang kaku, lalu bertanya dengan suara pelan, "Luna, kakakmu kerja apa sekarang? Kenapa bisa jadi begitu kaya? Jangan sampai dia salah jalan, kalau tidak akan susah kembali loh!"


    "Kakakku? Tidak kerja apa-apa, aku kasih tau nih ya, kakakku itu sebenarnya..."


    "Ehem... Ehem!"


    Thomas berdehem, mencegah Luna melanjutkan ucapannya, untuk sementara dia tidak ingin statusnya membuat Freya menarik jarak darinya.


    Paling tidak dia harus menyelesaikan masalah Freya terlebih dahulu.


    Meskipun Luna tidak paham kenapa Thomas mencegahnya, namun dia tetap menghentikan ucapannya.


    Begitu tiba di Tasty, Thomas mengajak Freya turun dari mobilnya dan mengucapkan selamat tinggal pada Luna dan Dimas.


    Luna menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan berkata, "Kak, inget loh ya jangan ngebully Kak Freya, kalau tidak besok aku tidak akan mengampunimu!".


    "Memangnya aku masih bisa ngapain! Sana pulang!" Wajah Thomas juga ikut merona.


    King Kalman perlahan melaju pergi, Thomas menghela dengan muram dan berkata, "Ayo, aku bookingkan kamar untukmu, malam ini kamu harus berada di bawah pengawasanku!"


    Namun hati Freya malah berdegup kencang bagaikan ada beribu genderang yang sedang bergemuruh, dia refleks mengulurkan tangan dan mencengkram erat bajunya.


    Sampai di resepsionis, masih tetap manajer yang sama, begitu dia melihat Thomas, dia segera menghampiri sambil berlari kecil.


    "Ah, Tuan muda Thomas, selamat datang..."dia tersenyum senang dengan tatapan mata tajam melirik kearah Freya, dan seketika dia paham ada apa.


    "Kami punya kamar VIP, fasilitas didalamnya sangat lengkap, bagaimana kalau..."


    "Baiklah, yang ini saja."


    Thomas langsung mengangguk dan mengeluarkan kartu Black gold miliknya sambil bertanya, "Berapa duit?"


    "Tuan muda Thomas sedang bicara apa, bos kami sudah berpesan, asalkan Tuan muda Thomas yang datang, semua gratis untuk Anda, Anda hanya perlu ikut dengan saya."


    "Begini kurang baik rasanya." Thomas menggaruk kepalanya dengan perasaan yang rumit.


    "Tuan muda Thomas, Anda jangan membuat kami merasa kesulitan, ini adalah pesan dari bos kami, kalau kami menerima uang Anda, mungkin besok kami akan langsung dipecat dari sini." Ucap manager dengan nada memohon.


    Dia sudah melakukan satu kali kesalahan, kalau sampai membuat kesalahan lagi, maka dia pasti akan dipaksa mengundurkan diri.


    "Baiklah, berikan saja kunci kamarnya, kami bisa naik sendiri." Ucap Thomas.


    Setelah menerima kunci, Thomas membawa Freya yang kebingungan masuk ke dalam lift dan menekan tombol 29.


    Ketika pintu lift tertutup, Freya tidak kuat lagi menahan diri, dia masih mengira dirinya sedang bermimpi.


    "Thomas, kamu, kok kamu bisa jadi orang kaya? Uangmu datang dari mana? Apakah kamu melakukan hal yang melanggar hukum?"


    Menghadapi perhatian Freya, Thomas menggeleng dan berkata dengan serius, "Freya, kamu tenang saja, uangku sangat halal, sama sekali tidak melanggar hukum, untuk sementara aku tidak ingin membicarakannya, tapi kamu akan tahu nantinya."


    Freya merasa sedikit lebih tenang, namun dia segera merasa tegang lagi.


    Dia masih ingat tadi Thomas hanya memesan satu kamar, kalau begitu bukankah itu artinya dia sekamar dengan Thomas?


    Memikirkan ini, kepala Freya langsung menunduk sampai hampir masuk ke dalam dadanya, wajahnya terasa begitu panas, bahkan dia merasa tubuhnya lemas sampai hampir tidak bisa berdiri dengan tegak.


    Setelah keluar dari lift, Thomas mencari kamar sesuai dengan nomor yang ada di kartu, menempelkan kartu yang ada di tangannya, lalu pintu terbuka setelah terdengar suara 'tit'.


    Mereka berdua masuk ke dalam kamar.


    Kamar ini tidak sebesar yang dibayangkan Thomas, mungkin hanya seluas 100 m², di dalamnya ada dua ranjang, di depan jendela yang luas ada beberapa sofa, di atas meja ada vas bunga yang cantik dan di dalamnya ada sekuntum bunga sedam malam.


    Di atas dinding ada beberapa lukisan dan TV LED berukuran besar.


    Kamar ini terlihat minimalis namun elegan, namun tidak membuat orang merasa terlalu hampa.


    "Bes, besar sekali!" Freya sangat terkejut, sampai lupa dengan hal yang membuatnya tegang.


    Dia hidup lebih dari 20 tahun, namun sama sekali tidak pernah masuk ke dalam hotel semewah ini.


    Thomas juga terlihat terkejut, lingkungan Tasty memang tidak kaleng-kaleng, begitu dia menginjakkan kaki di sini rasanya tidak ingin pergi.


    Mungkin tinggal di sini sampai setengah bulan pun tidak akan merasa bosan.


    "Sana, mandi dulu. " ucap Thomas.


    "Apa? Man, mandi?"


    Freya terkejut, lalu menggeleng dengan panik, "Tidak, aku, aku sudah mandi, kalau kamu ingin mandi... Silahkan!"


    Setelah mengatakannya, wajahnya langsung memerah seperti apel merah yang ranum.


    "Baiklah, aku mandi dulu, kalau kamu sudah capek, tidur saja duluan."


    Thomas juga tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, dia juga cukup gugup, hidup sampai sebesar ini, ini pertama kalinya dia check in hotel bersama seorang gadis.


    Lalu Thomas masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan nyaman.


    Ketika dia keluar, dia malah melihat Freya yang sedang meringkuk dalam selimut, bahkan tidak berani memperlihatkan wajahnya, seperti seekor anak burung yang ketakutan.


    Thomas tertawa, namun tidak mengatakan apa pun, dia bersikeras bersama Freya malam ini, hanya karena takut Freya mencoba bunuh diri lagi.


    Rumahnya sangat kecil, kalau tiba-tiba membawa Freya pulang, dia akan sulit menjelaskannya pada Silvia.


    Namun, dia sudah memikirkannya, besok dia akan pulang dan berdiskusi dengan Silvia untuk mengijinkan Freya menginap beberapa hari untuk sementara waktu, dan pulang pergi kuliah bersama Luna.


    Setelah dia mendapatkan ide dan membantu Freya menyelesaikan masalahnya, dia boleh memilih lanjut tinggal bersama mereka atau kembali ke asrama, kalau Freya ingin tetap tinggal, dia bisa membiarkannya tinggal di villa.


    Lagi pula dia bisa meminta Dimas untuk mengantar jemputnya dengan mobil.


    Thomas berjalan ke ranjang yang satu lagi dan berbaring, dia menghela dengan indah, lalu memejamkan mata dan segera tertidur.


    Freya yang bersembunyi di dalam selimut, hampir saja memuntahkan jantungnya yang bergemuruh tidak beraturan.


    Dia mendengar suara langkah kaki Thomas yang berjalan keluar dari kamar mandi, dan itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang sampai nafas pun tidak berani.


    Bagaimana kalau Thomas ingin... Melakukan hal itu dengannya?


    ......


    Namun dia sangat menyukai Thomas, bahkan sampai sekarang masih... Kalau dia benar - benar ingin...


    Memikirkan hal ini, waktu sudah berlalu sesaat


    Mendengar tidak ada pergerakan apa pun, Freya mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut perlahan, sepasang mata yang begitu jernih melihat Thomas yang sudah tertidur, entah kenapa dia merasa lega, namun juga sedikit kecewa.


    Freya mengigit bibirnya dan turun dari ranjangnya perlahan, lalu berjalan ke arah Thomas perlahan......