Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 127


Kekuatannya ini murni karena dia berlatih sangat keras, tapi sekarang dianggap sebagai ilmu sesat. Siapapun yang mendengar hal ini pasti tidak akan menerima begitu saja.


"Tidak ada yang mengatakannya, namun ini adalah hal yang disepakati oleh seluruh dunia persilatan, kecepatan latihanmu terlalu pesat, pasti ada metode ekstreme lainnya dalam tubuhmu. Kakak ipar, apakah yang kukatakan benar?"


"Heee!" Thomas dibuat kehabisan kata-kata dan tidak bisa menjawab.


Mengenai hal ini, apa yang dikatakan oleh Joanna memang benar.


Dia memulai terlalu telat, meridiannya sudah menjadi kaku, sama sekali tidak bisa menjadi elastis lagi.


Hanya bisa mengandalkan benturan energi murni yang membuat wadah energi menyusut baru bisa menekan energi murni, dan ini merupakan trik yang berhasil dia pikirkan.


Namun kalau ingin mengatakan tekhnik ini terlalu ekstreme,memang tidak berlebihan.


Dia mengetahui dari Dimas, wadah energi dan juga meridian yang mengalami benturan keras akan membuat seseorang menjadi cacat, dan kalau parah akan membuat orang tersebut meninggal dengan tubuh meledak.


"Kamu harus menghentikan latihan ini, kalau diteruskan, kakak ipar akan kehilangan jiwa secara perlahan dan berubah menjadi iblis!" ucap Joanna dengan sangat tegas.


"Joanna, rasanya tidak separah itu deh!" Thomas berkata dengan acuh.


"Separah itu!" nada bicara Joanna begitu tegas.


Thomas berpikir sejenak, lalu berkata sambil mengangguk, "Baiklah, aku berjanji padamu, mulai sekarang aku tidak akan melatihnya lagi."


"Kalau gak? Aku tidak bisa percaya padamu, jadi kamu harus bersumpah." Ucap Joanna dengan tegas.


"Baik, baik, aku akan bersumpah." Thomas mengangkat tangan kanannya dan bersumpah, "Kalau aku berlatih ilmu sesat... aku tidak akan bisa menikahi Jenika Hermawan yang cantik!"


Wah! Sumpah sekejam inipun berani dikatakan?


Joanna terkejut.


Haih, anak ini masih terlalu muda, masih jauh jika dibandingkan dengan Luna...


Thomas hanya bisa menghela.


"... baiklah, aku percaya padamu!" Joanna menatap lurus Thomas dan berkata, "Kakak ipar, semoga kamu tidak mengecewakanku!"


"Baik! Aku bersumpah!" Thomas mengangkat tangan kanannya lagi, lalu berkata dengan wajah tersenyum, "Tapi, Joanna, kondisiku ini cukup kita bertiga saja yang tahu, apakah kamu bisa berjanji padaku?"


Ini baru rencana Thomas.


Tidak perduli yang dikatakan Joanna ini benar atau tidak.


Hanya melihat reaksinya saja Thomas sudah tahu, kalau tidak menturuti kemauan Joanna, maka kejadian ini pasti akan merepotkan.


Namun Thomas memandang pertanyaan ini terlalu sederhana.


Joanna berkata dengan tegas, "Kakak ipar, aku tidak akan mengatakannya, namun kamu juga jangan memberitahu orang lain kalau kamu berlatih ilmu sesat!"


"Kenapa?"


"Kalau sampai diketahui oleh delapan clan tertinggi, mereka pasti akan menghancurkanmu, bahkan akan memasukkan namamu sebagai anggota aliran sesat, dan semua orang akan dihukum."


Seketika mata Thomas langsung membelalak.


Sepertinya ini bisa merenggut nyawa dalam hitungan detik?


"Baiklah! Aku tidak akan mengatakannya!"


Bercanda! Kalau benar separah itu, Thomas bersumpah, mati pun dia tidak akan mengatakannya!"


Joanna merasa lega dan tidak lupa berpesan, "Kamu juga harus ingat, jangan berlatih lagi ya."


"Hm!"


Sebenarnya Thomas sama sekali tidak perduli.


Dia yakin yang dia latih itu bukan ilmu sesat, hanya caranya saja yang lebih ekstreme.


Apalagi dia sama sekali tidak merasakan efek samping.


Asalkan dia tidak bicara, hanya dalam waktu tiga hari mencapai ambang tahap tiga dari yang baru memulai tahap kedua.


Siapa yang tahu dia sudah berlatih berapa lama?


"Oh iya, Joanna, sudah tiga hari, kami juga harus pergi."


Thomas berkata sambil memberi isyarat pada Winda yang ada disampingnya.


Dia memilih bersemedi di sini, karena tempat ini sangat tenang, sekarang sudah beberapa hari berlalu dan dia sama sekali tidak menelepon Luna, takutnya dia sudah melaporkan ke polisi untuk mencari orang hilang.


"Iya, Joanna, hari ini juga hari terakhir kamu menjadi penjaga hutan, kamu juga harus pergi." ucap Winda sambil tersenyum.


"Iya, kami sudah keluar beberapa hari, kami harus keluar dan memberitahu keluarga kalau kami baik-baik saja, dan ada beberapa hal yang harus diurus juga."


Winda menggandeng tangan Joanna, dia berkata dengan wajah tersenyum, "Kalau kamu sempat, kamu boleh datang dan mencariku, aku sudah memberikan nomor teleponku."


"Oww... baiklah, kalau aku sempat aku pasti akan datang!" setelah Joanna berpikir sejenak, dia mengangguk dan berkata.


Selama tiga hari ini, Winda memahami banyak hal mengenai dunia persilatan, dan cara berkomunikasinya yang cerdas membuat Joanna yang lugu menganggapnya sebagai teman baik.


"Sekarang aku harus pulang untuk mengabari orang rumah, biar Jun yang menemani kalian keluar dari sini, Kak Winda, ingat untuk meneleponku ya." ucap Joanna dengan murung.


"Baiklah, bye!"


"Bye!"


Joanna sesekali menoleh, setelah berjalan cukup jauh, dia langsung melesat dan menghilang di tengah hutan.


Pada saat ini Jun melambaikan ekornya dan berdiri dari pose tengkurapnya, dia melirik mereka berdua lalu berjalan perlahan.


Mereka yang melihat ini juga langsung mengikutinya.


Ada Jun yang menuntun, Thomas dan Winda tidak lagi merasa cemas melewati hutan belantara.


Macan tutul ini bukan macan tutul biasa, dia memiliki kesadaran, bahkan memahami ucapan manusia, selama tiga hari ini Winda merasakannya dengan jelas.


Sepanjang jalan Thomas merasakan tatapan Winda, dai terus merasa dia meliriknya, sehingga dia mengusap wajahnya dan berkata, "Ada apa? Apakah ada bunga di wajahku?"


"Aku sedang berpikir, ada berapa banyak rahasia dalam dirimu."


Winda tersenyum, namun senyumannya penuh dengan kerumitan.


Selama tiga hari ini dia melihat  sisi yang tidak terkuak, bahkan sampai sekarang pun dia masih belum berani mempercayainya.


Awalnya dia mengira Thomas hanya seorang tuan muda kaya biasa, kemungkinan dia hanya sedikit lebih kaya dari orang lainnya.


namun dia tidak menyangka Thomas adalah cucu tetua Keluarga Levian, dia bahkan


merupakan salah satu pesilat yang tidak diekspose dunia.


"Aku? Tidak ada rahasia apapun." Thomas mengangkat bahu.


Namun, Winda tetap sulit menutupi gejolak perasaan dalam hatinya, "Thomas, apakah kamu... bisa terbang?"


"Terbang? Itu bukan terbang, hanya jurus meringankan tubuh, hanya melompat sedikit lebih jauh dari orang biasa saja." jelas Thomas.


Winda tersenyum, "Apakah kamu bisa memperlihatkannya padaku?"


"Bisa! Tidak masalah!"


Begitu membicarakan ini, Thomas langsung bersemangat.


Bisa dikatakan tahap pertama dan tahap kedua Thomas sama sekali tidak ada bedanya dengan manusia biasa.


Ini karena wadah energi Thomas sama sekali tidak bisa menampung energi murni, energi murni yang bisa dilalui meridian jug sangat sedikit.


Ketika dia mencapai tahap ketiga, energi murni mengalami perubahan yang drastis, seiring dengan wadah energi yang meningkat, perubahan pada dirinya juga langsung meningkat pesat.


Yang artinya Thomas memilai terlalu telat, namun kemajuannya meningkat degan sangat cepat.


Setelah berjanji pada Winda untuk mempertunjukkan jurus meringankan tubuh, Thomas berniat pamer, sehingga dia menggerakkan kekuatan murninya.


Dalam sekejap mata indra Thomas langsung menjadi sensitif puluhan kali lipat.


Perubahan ini membuatnya terkejut.


Namun detik berikutnya Thomas tiba-tba berseru kaget, "Freya? Kenapa kamu bisa ada di sini?!"


Winda melihat kesekeliling dengan bingung, namun dia tidak menemukan apapun, akhirnya dia menyusuri arah Thomas melihat dan menoleh ke sebelah kiri.


Kondisi ini bertahan selama 5 menit, sesosok tubuh yang kurus dan kecil muncul di hadapan Winda.


Sebenarnya Thomas mengandalkan daya pendengarannya, dan langsung mengenali suara langkah Freya.


Pendengaran yang super in~~~~i muncul secara tiba-tiba, sehingga Thomas tidak mendekat melainkan tercengang di sana dengan wajah bingung.


Ketika dia melihat Freya, dia langsung merasa bingung dengan daya pendengaran yang luar biasa ini.


Tapi...


Tiba-tiba, Freya berdiri membatu.


Detik berikutnya dia seperti menggila dan berlari ke arah Thomas tanpa perduli apapun.