
Kerumunan orang langsung menahan Thomas.
“Kenapa elu mukulin orang? Dikira ini tempat apa?”
“Iya benar! Kalian gak boleh pergi! Selesaikan dulu masalahnya!”
“Ngapain banyak omong! Langsung lapor polisi! Biar ditangkap sekalian!”
“Iya benar, panggil polisi!”
Dan dalam waktu singkat sudah ada beberapa orang yang menghubungi polisi.
satu menit yang lalu sama sekali tidak ada yang bersedia membantu Luna, namun sekarang mereka terlihat begitu heroic.
Melihat begitu banyak orang yang mengepung, wajah Luna langsung menjadi pucat.
Thomas memukul orang, bahkan bukan orang biasa, dia adalah satu-satunya cucu Wakil Dekan.
Sekarang sudah tidak bisa pergi, masih ada yang melapor polisi pula, kalau polisi datang dan membawa Thomas ke kantor polisi, ini akan gawat.
Kalau sampai divonis melukai dengan sengaja, ini bisa dipenjara!
Ekspresi wajah Thomas langsung menjadi begitu menakutkan, dan senyum dingin yang mengerikan mengembang di sudut bibirnya.
Apakah orang yang memiliki kedudukkan boleh berbuat seenaknya di dunia ini?
Dan kenyataan tidak hentinya mengatakan padanya, iya, memang begitu faktanya.
Orang yang memiliki latar belakang dan kedudukkan memang boleh semena-mena, mereka boleh mengandalkan latar belakang keluarganya untuk menekan yang lemah.
Bahkan sama sekali tidak merasa bersalah.
Kalau begitu, dia sebagai penerus Levian Group, bukankah dia juga boleh semena-mena seperti mereka?
Thomas tidak diberi waktu untuk berpikir panjang lagi.
Karena kerumunan orang ini melihat Thomas masih bisa begitu tenang di tengah kondisi seperti ini langsung memperlihatkan kekesalan mereka.
Sehingga ada orang yang mulai beraksi dan saling dorong.
Mahasiswa yang lebih terpelajar, mereka maju dan bertanya pada Thomas dengan sopan, berusaha membuat Thomas merasa bersalah dengan pertanyaan mereka.
“Ada apa? Ada apa ini?”
Enam orang pria berusia 30-40 tahun yang mengenakan baju security membawa tongkat penjaga dan menerobos kerumunan.
Mereka adalah security Universitas Trijaya.
Mereka tahu ada masalah, dan yang dipukul adalah cucu Wakil Dekan!
Mereka harus menyelesaikan masalah ini dengan baik, dengan begitu mereka akan berjasa dan mendapatkan bonus yang tidak sedikit.
“Siapa! Siapa yang memukul Tuan muda Keiro?”
Kepala Security yang tiba terlebih dahulu melihat ke sekeliling dan bertanya dengan suara lantang.
Detik berikutnya, mahasiswa yang mengerumuni lokasi kejadian menunjuk seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dihadapannya.
Begitu Kepala security melihat, dia langsung tahu kalau itu bukan mahasiswa Trijaya.
Orang yang bisa menduduki posisi Kepala security pasti punya kemampuan yang tidak biasa, dan wajah ini sama sekali tidak ada dalam ingatannya.
Dia mengamati Thomas dari atas sampai bawah, dan memastikan apa yang dia pikirkan memang benar.
Lalu dia melayangkan tongkat penjaganya sambil berkata dengan lantang dan gagah, “Tangkap dia dulu!”
Tidak peduli siapa dia, beraninya pemuda ini membuat masalah di wilayahnya, bahkan memukul Tuan muda Keiro sampai terluka, dia tahu ini kesempatannya untuk menunjukkan kebolehannya!
Hajar dulu baru ngomong!
Dan di tengah kemarahan mereka, sesosok tubuh yang tinggi besar menerobos kerumunan.
Dan Kepala Security yang ada di sana juga sempat tercengang.
Dan orang yang datang tidak lain dan tidak bukan adalah Dimas.
Semua orang menatapnya berjalan kesamping Thomas dan bertanya sambil tersenyum, “Tuan muda, Anda berniat menyelesaikan masalah ini dengan cara apa?”
Tadi dia melihat ada yang tidak beres sehingga segera mendekat, jelas dia tahu jelas duduk perkaranya.
Thomas tercengang dan bertanya, “Ada saran?”
Jujur saja, ketika itu dia memukul karena emosi, sehingga tidak berpikir panjang, namun kalau ada kesempatan untuk mengulang waktu, dia juga pasti akan memukul orang itu.
Ini masalah yang besar, Thomas gegabah sehingga menimbulkan masalah, dia tidak tahu harus melakukan apa untuk membela adiknya.
“Pertama, redam masalah dan menenangkan massa. Kedua, bela Nona Luna.”
Dia adalah calon penerus Levian Group, atas dasar apa dia harus menerima semua perlakuan tidak adil ini? Atas dasar apa adiknya harus menerima semua kekerasan di kampus ini?
Mulai hari ini, dia ingin seluruh dunia melihat dengan jelas, dia Thomas Levian tidak akan membiarkan orang lain memperlakukan dirinya dengan semena-mena!
“Uhm, kalau begitu…”
Dimas belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi dingin, kemudian tangan kanannya tiba-tiba terjulur ke belakang.
‘Pakk’ terdengar suara pukulan, dan tiba-tiba ada sebuah tongkat penjaga yang muncul di tangan Dimas.
Ternyata, ketika Dimas dan Thomas sedang bicara, ada seorang security yang menyerang Dimas dari belakang setelah diberi isyarat oleh Kepala security.
Tentu saja Kepala security tahu kalau orang ini tidak mudah untuk dilawan, kalau ingin melawannya harus dengan cara diam-diam.
Namun Kepala security tetap salah perhitungan, hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi, masa orang ini punya mata di belakang?
Membuat Kepala security terkejut sampai bola matanya nyaris jatuh, namun dia segera mencari alasan, ini pasti karena Dimas beruntung!
Ada tidak sedikit mahasiswa kepo yang bersorak melihatnya.
“Nih, ku kembalikan, simpan barangmu dengan benar.” Dimas tersenyum dan mengembalikan tongkatnya pada security yang menyerangnya dari belakang.
“Kurang ajar! Kenapa masih melamun! Kita ada begitu banyak orang, untuk apa takut padanya! Maju!”
Kepala security melambaikan tongkatnya, dia beserta kelima anak buahnya langsung memasang wajah garang.
Orang yang berkerumun dan menonton melihat situasi yang tidak beres, segera mundur beberapa meter agar mereka lebih leluasa bergerak.
Namun siapa yang menyangka Dimas malah mengangkat tangannya dan memberi isyarat berhenti, “Tunggu dulu, aku telepon dua orang dulu!”
“Mau apa kamu?”
Kepala security terkejut, dan segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk berhenti sementara.
Karena dia sadar, pemuda ini masih begitu muda sudah dipanggil tuan muda, jangan-jangan dia punya backing yang kuat juga?
Dimas mengabaikan pertanyaan kepala security dan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon dua nomor telepon.
Namun isi dari pembicaraan kedua telepon ini adalah sama.
Pertama Dimas menyebutkan Universitas Trijaya, lalu meminta orang yang ada di seberang sana untuk datang membereskan.
“Mau apa kamu! Siapa yang kamu telepon?”
Kepala security membentak dengan lantang, dia mulai goyah dan panik, jangan-jangan anak muda ini benar-benar orang hebat yang tidak bisa diganggu?
Kalau benar begitu, dia tidak bisa mengurus masalah ini.
Siapa yang menyangka, Dimas hanya berkata sambil tersenyum, “Tidak apa, hanya memanggil dua mobil ambulance saja.”
Belagu! Belagu sangat!!
Mahasiswa yang ada disana beserta keenam security yang ada di tempat tidak pernah melihat orang yang begitu angkuh selama ini!
Dia pikir siapa dia? Bruce Lee?!
Dan semua orang yang melihat postur Dimas yang tinggi besar langsung menutup mulut mereka.
Orang yang sombong pasti punya modal untuk itu, dia pasti punya ilmu bela diri yang hebat!
kalau benar-benar kejam, satu lawan enam bukanlah hal yang mustahil.
“Untuk apa takut? Maju semuanya! Nanti aku akan meminta semua orang menjadi saksi
Dagu Keiro yang terkapar di samping sekarang sudah pulih, untuk ada mahasiswa yang biasa melakukan pertolongan pertama, namun dia tetap mengalami rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung.
Sehingga ucapan pertamanya yang dilontarkan ini penuh dengan amarah dan hasrat untuk menghajar Thomas dan Dimas sampai cacat.
“Iya benar! Kami akan bersaksi untuk kalian!”
“Iya, beraninya membuat masalah di kampus kita, tidak lihat apa ini tempat apa!”
“Iya benar, maju saja!”
......
Semua orang berkata dengan kompak.
Lalu.
Ada sekitar 16 orang yang menerobos kerumunan dan berdiri bersama dengan keenam security di hadapan Dimas.
“Siapa kalian?” tanya Thomas dengan suara pelan.
Namun tatapan mata Luna sudah penuh dengan rasa takut, “Kak, suruh Dimas sudahi saja, mereka, mereka adalah mahasiswa senior di Club Taekwondo…”