Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Sulit Dijelaskan


    Freya berdiri cukup lama di samping ranjang, memperhatikan nafas Thomas yang mulai teratur, dalam hati berpikir dia sudah tertidur, sehingga dia naik ke atas ranjang perlahan dan berbaring di samping Thomas.


    Dia sangat tegang, namun merindukan rasa aman yang diberikan oleh Thomas.


    Thomas tetap tidak merespon, sebenarnya dia sudah tertidur lelap sejak tadi.


    Freya memperhatikan wajah Thomas dari samping dengan tenang, setelah sesaat di baru tersenyum tersipu dan memejamkan mata dengan puas.


    ......


    Ponsel berdering kencang dan sangat mengganggu, membuat Thomas terbangun dari tidurnya yang indah.


    Dia mengangkat ponselnya lalu mematikan ponselnya dan lanjut tidur, dia melirik ponselnya dan melihat itu telepon dari Dimas.


    "Halo? Dimas? Yang benar saja ini baru jam 6!"


    "Hehe, Tuan muda, aku juga tidak ingin membangunkanmu sekarang, namun Nona Luna sudah membangunkanku sejak jam 5."


    Ucap Dimas dengan senyum kecut .


       ......


    "Uhm, ada apa?" Ucap Thomas dengan malas.


    "Ada dua masalah yang penting, mau dengar yang sangat mendesak, atau mau dengar yang bisa ditunda dulu?"


    "... Yang sangat mendesak!"


    Thomas mulai kesal!


    "Uhm, begini ceritanya, Nona Luna sekarang sudah berada di Lobby utama Tasty, sekarang dia mau naik ke atas dan melihat apakah kamu... Menyentuh Nona Freya atau tidak."


    "Si bocah gila ini, biarkan dia naik!"


    Setelah mematikan telepon, dia merasa benar-benar speechless, memangnya apa yang bisa dia lakukan?


    Lalu dia menoleh dengan polosnya.


    Detik berikutnya.


    Thomas langsung tercengang, "Eh, di mana orangnya?"


    Di ranjang yang lain, dia sama sekali tidak melihat Freya.


    Namun, Thomas langsung menyadari ada yang salah, karena sepertinya di dadanya ada...


    Begitu menunduk dan melihat.


    Tubuh Thomas bagaikan terpasang per, dia terkejut sampai langsung terlontar dari ranjang, dia menunjuk Freya yang wajahnya merona merah dengan panik.


    "Aku, aku, ini..."


    "Eh? Salah ini kan ranjangku, kenapa kamu..."


    Sebenarnya Freya hanya ingin tidur sebentar di samping Thomas, lalu kembali ke ranjangnya sebelum Thomas bangun.


    Wajah Freya merah padam, baru ingin menjelaskan, namun dia sudah menjerit dengan suara melengking dan bersembunyi di dalam selimut.


    "Reaksi apaan tuh, aku saja belum teriak!"


    Thomas tersenyum pahit, lalu menundukkan kepala dan melihat kearah terakhir Freya melihat.


    Dia juga tercengang.


    Pagi-pagi "si otong" sudah berdiri tegak!


    "Eh buset!"


    Thomas segera mengenakan pakaiannya dan berkata, "Freya, cepat bangun, adikku hampir sampai!"


    Adikku, yang dibicarakan sudah pasti Luna, begitu Freya mendengarnya, dia sudah tidak sempat memikirkan rasa malu lagi, dia juga segera bangun dari ranjang dan merapikan pakaiannya.


    Baru selesai berpakaian, bel sudah berbunyi.


    Thomas merasa lega, namun tetap merasa tidak tenang, lalu bertanya, "Semalam, tidak terjadi apa pun di antara kita ya kan?"


    "Tidak." Freya menggeleng dengan tegang.


    "Oh, baguslah kalau begitu."


    Setelah mendapat kepastian dari Freya, dia baru merasa tenang dan maju membuka pintu.


    Begitu pintu di buka, Luna langsung menundukkan kepala dan menyusup masih dari bawah tangan Thomas dengan cekatan, lalu bertanya, "Di mana Kak Freya, mana Kak Freya-ku?"


    "Sedang apa kamu? Jangan bilang kamu takut aku menjual Freya?"


    Thomas dibuat kesal sampai tertawa, datang sepagi ini hanya untuk ini? Bocah ini semakin lama semakin ngaco!


    Namun, Luna mengabaikan ucapan Thomas dan langsung menghampiri Freya dengan cepat.


    "Kak Freya, semalam kakakku mengganggumu tidak?"


    "Tidak, kami, lumayan baik kok..."


    Mendengar ini, Thomas langsung mengangkat kepalanya dan menepuk dahi, bicara apa mereka.


    "Uhmm..." Luna melihat kearah kedua ranjang, bagaikan Detective Conan, "Ada yang tidak beres!"


    Karena merasa cemas, Thomas segera menutupinya, "Luna! Sana minggir, tidak ada masalah apa pun di antara kami!"


    "Yang ini!"


    Thomas dan Freya berkata dengan serempak, namun ranjang yang ditunjuk adalah ranjang yang dipakai berdua oleh mereka.


    ......


    Luna langsung membelalakkan matanya dengan wajah tidak percaya.


    Sementara Freya, dia menundukkan kepalanya dengan wajah merah padam.


    "Hoh! Ka, ka, kalian..." Luna sungguh terkejut, dia mengulurkan tangan ke arah kedua orang didepannya.


    "Dek, kejadian sebenarnya tidak seperti yang kamu bayangkan, dengarkan penjelasanku dulu..."


    "Tidak perlu, menjelaskan berarti menutup-nutupi, Kak, bagaimana kakak bisa melakukan hal seperti ini! Aku sungguh terlalu meremehkanmu, nyalimu besar sekali! Apa yang dikatakan di tivi-tivi memang tidak salah sama sekali, tidak ada lelaki yang bisa dipercaya!"


    Luna memelototi Thomas dengan sangat kesal, lalu berjalan ke arah Freya.


    "Kakak ipar, sebenarnya kakakku hanya terlalu gegabah semalam, jangan salahkan dia, tapi aku jamin, dia pasti akan bertanggungjawab, kalau tidak aku tidak akan melepaskannya."


    Kemudian, Luna menggandeng tangan Freya dan melirik Thomas sambil berkata, "Kakak ipar! Ayo kita pergi!"


    Thomas: "......"


    ......


    Dalam hati Luna muncul perasaan yang jauh lebih tenang.


    Dulu, setiap kali Thomas memberikan uang bulanan untuk Wanda, dia selalu merasa sangat tidak senang, karena dia tidak pernah menyukai Wanda sejak dulu.


    Wanita jauh lebih memahami wanita.


    Dan insting wanita selalu tepat.


    Dia selalu merasa Wanda bukan seorang wanita yang baik.


    Sekarang, dia akhirnya bisa merasa tenang akan masalah pernikahan Thomas, Freya cukup baik, dia juga tidak pernah berebut kasih sayang Thomas dengannya.


    Dia sudah tahu sejak kecil.


    Namun dia tetap merasa marah dengan perbuatan Thomas, bisa-bisanya dia meniduri Freya sebelum menghalalkannya.


    Untuk Luna yang berpikiran kolot, tidak akan bisa menerima kenyataan ini, dia sudah memutuskan, begitu pulang, dia akan langsung memberitahu Silvia.


    Setahu dia, meskipun masih kuliah mereka tetap bisa menikah.


    Hari ini Luna sengaja membawakan satu stel baju Mark&Spancer untuk Freya.


    Ketika Freya berjalan ke kamar mandi untuk berganti pakaian, Luna lanjut membombardir Thomas dengan pertanyaan.


    Setelah check out dan naik ke mobil, perasaan Thomas begitu kacau, dia sungguh tidak menyangka masalahnya akan menjadi begini, kali ini akan sulit untuk dijelaskan.


    "Dimas, apa masalah yang satu lagi?"


    Dimas tersenyum lebar dan memperlihatkan rentetan gigi putihnya, "Ketua Dekan Universitas Trijaya mengatakan kalau dia harus mentraktirmu makan, ada hal penting yang harus dia diskusikan denganmu."


    Thomas berpikir sejenak, lalu berkata, "Uhm... Baiklah, kebetulan Freya dan Luna harus berangkat kuliah, kita lihat ada apa sebenarnya."


    Dia sama sekali tidak paham dunia politik bisnis, namun hubungan dengan kepala dekan butuh dia pererat, karena masalah Freya membutuhkan bantuannya.


    Menghadapi KKN Wakil Dekan sama sekali bukan hal yang mudah.


    Namun dari sorot mata Luna, Thomas bisa merasakan kekesalannya, sehingga dia memutuskan untuk tidak bertanya, untuk menghindar dari semburan oleh Luna.


    King Kalman melaju masuk ke gerbang Universitas Trijaya, sekarang baru jam 6 pagi, mahasiswa yang tidak pulang ke asrama masih belum kembali ke kampus, kalau tidak kemunculan mobil ini pasti akan langsung menimbulkan kegemparan yang cukup besar.


    Turun dari mobil.


    Luna berjalan ke hadapan Thomas, dan berkata dengan tegas, "Malam ini sepulang kerja aku mengundang Kak Freya datang makan malam ke rumah dengan resmi."


    "Uhmm, ini..."


    "Tidak perlu ini itu lagi, apakah kakak ingin lari dari tanggung jawab? Thomas, sebaiknya kamu jangan keterlaluan ya!" Bentak Luna.


    Karena merasa dia memang melakukan kesalahan, sehingga Thomas berkata dengan salah tingkah, "Mana, aku memang ingin mengajak Freya menginap beberapa hari dirumah..."


    "Kau... Kakak masih ingin lanjut menjahati Kak Freya?"


    Melihat Luna yang hampir mengamuk lagi, Thomas segera mengalihkan topik pembicaraan, "Sudah, sudah, kalian kembali ke asrama dulu, kami masih harus ke ruang ketua dekan."


    Setelah mengatakannya, Thomas langsung pergi dengan setengah berlari seolah ingin kabur.


    ......


    Pak Dekan sudah datang sejak pagi, atau lebih tepatnya dia hampir tidak tidur semalam.


    Itu adalah donasi sebanyak 200 miliar!


    Dia berpikir berkali-kali, pada akhirnya memutuskan akan mendirikan sebuah pilar motivasi yang keren di Universitas Trijaya.


    Dan ini juga satu-satunya hal paling bermakna yang dia lakukan untuk universitas ini selama masa jabatannya.


    Keputusan ini mungkin akan membuat Thomas dan pilar ini menjadi tradisi di Trijaya!


    Asalkan pilar ini didirikan.


    Maka sejarah Trijaya akan menjadi semakin kental!