Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 82 Hadiah Berharga


Setelah menutup telepon, Luna tersenyum dengan bangga.


“Wanda, dulu kakak gue begitu baik sama lu, lu gak menghargainya, sekarang kakak gue udah kaya, lu malah nyodorin diri lu terus, sayangnya Kak Freya dan kakak gue sudah sepasang, lu siap-siap aja buat menyesal!”


Silvia sangat terkejut, meskipun dia tahu keluarga kandung Thomas sangat kaya, namun dia tidak tahu kalau mereka sekaya ini.


Villa sebesar dan semewah ini berapa harganya!


Thomas berjalan keluar dari pintu utama, ketika dia melihat Wanda, senyum di wajahnya langsung hilang.


“Lu kok bisa ada disini?”


“Aku, kebetulan lewat sini, Tante Silvia menyuruhku untuk mampir…” ucap Wanda dengan hati-hati.


Thomas langsung mengerutkan alisnya lalu mengabaikan keberadaan Wanda, dan langsung membawa Silvia masuk ke dalam villa.


Villa ini sungguh sangat luas, ada banyak kamar, fasilitasnya juga sangat lengkap, ada ruang golf mini, ruang gym, ruang rapat, bar pribadi dan lainnya.


Setelah berkeliling satu putaran ditambah penjelasan, setengah jam berlalu.


Wanda ikut di belakang mereka bertiga, dia hanya diam tanpa mengatakan apapun, dalam penampilannya yang tenang itu, ada jiwa yang sedang memberontak.


Namun Thomas sama sekali tidak ingin menggubrisnya, Luna yang menyusul merangkul tangan Thomas dan Silvia.


Mereka bertiga mengobrol dengan begitu senang.


Sementara Wanda hanya mengikuti dalam hening, menjadi bayangan yang terabaikan.


Tetapi.


Dia tidak seharusnya diperlakukan seperti ini, tadinya dia adalah calon istri Thomas.


Satu bulan yang lalu.


Kalau dia tidak menerima pernyataan cinta Ivan.


Maka satu tahun kemudian, setelah lulus kuliah, dia adalah pemilik villa mewah ini!


Dan hari ini, dia sedang merangkul tangan Thomas dengan mesra…


Bersama dengan Thomas dan keluarganya menikmati indahnya masa depan.


Membayangkan hal ini membuat hati Wanda bagaikan tertindih oleh sebongkah batu raksasa.


“Oh iya kak, kita ke basement untuk melihat-lihat?” tanya Luna.


“Ah, iya, yuk.”


Thomas hampir melupakan hal ini, sudah saatnya untuk memberikan hadiah pada Luna.


Kemudian mereka berempat turun ke basement.


Ketika Luna terakhir kali datang, tempat ini masih kosong, namun kali ini dia mendapati, selain King Kalman, masih ada sebuah mobil sport yang tertutup sarung mobil.


Bukan karena mata Luna tajam, namun dari lekuk mobilnya tidak sulit untuk ditebak.


“Mobil sport? Kak, kapan belinya?”


Luna berseru kaget, lalu segera membuka sarung mobilnya.


Ketika sarung mobil terbuka, bukan hanya Luna, bahkan Wanda yang sejak tadi diam juga langsung berseru kaget.


 “Mobil apa ini? kenapa aku merasa mobil ini jauh lebih bagus daripada mobil NSX milik Ivan!”


Ivan mengendarai mobil sport NSX ke Universitas Trijaya, hal ini sudah bukan berita baru lagi, apa yang terjadi hari itu langsung direkam oleh para mahasiswa yang ada di sana, dan sekarang sudah tersebar di seluruh universitas.


Termasuk momen ketika King Kalman menggilas NSX sampai menjadi lempengan besi tua.


Thomas memperkenalkan, “Dek, mobil ini namanya Koenigsegg, hanya ada enam unit di dunia, harga jualnya mencapai 200 miliar, namun sudah dimodifikasi menjadi mobil anti peluru… bagaimana menurutmu?”


Oh Tuhan~! Anti peluru? Keren banget! Kak, aku benar-benar cinta mati padanya!”


Luna menjerit histeris dan langsung berlari ke arah mobil dengan wajah terlena.


Dulu Keluarga Widjaja hidup dari menyupir, sehingga kedua kakak beradik ini sungguh menyukai mobil.


Apalagi model dan gaya mobil Koenigsegg  sama sekali tidak bisa ditandingi oleh mobil lain.


Jangankan pecinta mobil, bahkan orang yang tidak mengerti mobil juga akan langsung jatuh cinta padanya.


Pada saat Luna membuka penutup mobil, Wanda sudah terkesima sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


Berdasarkan apa yang dikatakan Luna, dia paham kalau NSX Ivan hanyalah mobil mainan kaleng, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Koenigsegg ini.


Mobil sportnya ini jauh lebih keren puluhan kali lipat dibandingkan dengan NSX Ivan!


Lalu ucapan yang dikatakan Thomas selanjutnya, membuat mata Wanda nyaris terjatuh sekali lagi.


“Kalau kamu suka ambillah buat mainan kamu, tetapi jangan terlalu gila nyetirnya, mobil ini larinya sangat cepat…”


“Apa? Kak, mobil ini buat aku?” Luna langsung menoleh dan bertanya dengan wajah tidak percaya.


Thomas berkata dengan acuh, “Memangnya kenapa, milikku adalah milikmu, lagipula  ditaruh di sini hanya akan berdebu.”


Sejujurnya, Thomas suka pada mobil Koenigsegg ini, tetapi dia jauh lebih menyukai kegagahan King Kalman.


Yang terpenting itu kesangarannya!


Seperti hari itu, kalau Thomas naik mobil sport ini, meskipun anti peluru, dia tidak akan mungkin bisa menggilas mobil Ivan.


Sejak saat itu, dia semakin suka dengan mobil besar.


“Kak! I love you to the moon and back! Kakak memang kakak terbaik di dunia!” Luna bersorak kegirangan, lalu kembali menciumi Koenigsegg.


“Luna! Mobil ini terlalu mahal! Mana boleh sembarangan menerima mobil dari kakakmu!” Silvia tidak tahan lagi, dan langsung mengomel di samping.


“Ma, kita ini sekeluarga, ucapan mama ini…” Thomas berkata dengan senyum yang murung, “Aku merasa diasingkan…”


Thomas menyadari, sejak Silvia mengetahui jati diri aslinya, sikap Silvia terhadapnya menjadi sedikit asing, ini bukanlah hal yang ingin Thomas lihat.


Dia baru berumur beberapa bulan ketika ditemukan oleh Tanto dan Silvia, selama ini mereka berdua memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.


Dia  benar-benar menganggap Silvia sebagai ibu kandungnya, meskipun mereka sama sekali tidak ada hubungan darah.


Kalau bukan karena hal ini, bagaimana mungkin Thomas sama sekali tidak mencari tahu tentang orangtua kandungnya sampai sekarang.


Silvia menangkap semua ekspresi di wajah Thomas.


Memang benar, ketika dia mengetahui jati diri Thomas yang merupakan cucu Direktur Levian Group, dia sungguh terkejut.


Dan pada saat bersamaan, dia juga menjadi cemas.


Anak asuhnya tiba-tiba menjadi seorang penerus Levian Group.


Oleh karena itu dia merasa begitu gundah.


Kalau sampai suatu hari nanti, Thomas ingin kembali ke keluarga aslinya.


Ini adalah hal yang tidak berani dia bayangkan.


Dan sikap Thomas sekarang sepenuhnya menepis pikirannya selama ini, ternyata Thomas sama sekali tidak memandang rendah dirinya, dia terus menganggapnya sebagai ibu kandungnya.


“Baik… baiklah, Luna, karena kakakmu sudah berkata demikian, kamu, terimalah…”


“Tanto, kamu lihat bukan? Thomas sama sekali tidak memandang rendah kita…” Silvia merasa begitu terharu dan juga merasa begitu terhibur.


......


Wanda hanya menatap mereka bertiga dalam diam, dalam hatinya penuh dengan rasa iri dan kesal.


Ini bukan hanya harta yang diperlihatkan oleh Thomas.


Sebenarnya kemarin, ketika Thomas mentransfer uang 600 juta ke rekeningnya, hatinya sudah tergerak, sejak saat itu, dia selalu teringat pada kebaikan Thomas.


Tetapi apa yang dia lakukan? Dia begitu kejam, setelah melakukan begitu banyak hal yang menyakiti Thomas…


Dia malah dengan tebal muka, menghalalkan berbagai cara untuk bisa kembali ke sisi Thomas.


Siapa yang tidak bisa membohongi diri sendiri, tetapi pada akhirnya hanya akan membuat diri sendiri terlihat semakin menyedihkan.


Dulu dia pernah begitu merendahkan Thomas, sekarang dia Thomas malah menjadi orang yang begitu dia inginkan dan sulit untuk digapai.


Jodoh sempurna yang selalu dia impikan sekarang malah hancur di tangannya sendiri.


Apakah dia harus menyalahkan Thomas sekarang?


Pemikiran ini tanpa sadar menguasai perasaan Wanda.


Namun pemikiran seperti ini segera dia lupakan.


“Tidak! Apapun caranya… gue harus kembali mendapatkan hati Thomas, kalau gak, gue gak mungkin menemukan pria sebaik Thomas lagi!”


Saat ini, Wanda merasa lebih yakin lagi.