
"Tidak? Tidak mungkin! Coba Anda periksa lagi lebih seksama? Kedua orang ini pasti tidak waras!" Thomas berkata dengan yakin.
"Baiklah, kalau tidak ada ya sudah." Thomas melirik kedua pak tua dengan bingung lalu berbalik dan pergi.
"Eh? Cu, tunggu!" tangan Thomas langsung dicengkeram oleh pak tua yang berpakaian rapi.
"Apa yang Anda lakukan? Lepaskan, kalau tidak aku akan teriak minta tolong!" Thomas terkejut sampai wajahnya memucat, tiba-tiba dia berpikir jangan-jangan kedua pak tua ini penipu.
Dia tidak berani mendorong, kalau sampai melukai orang tua, entah berapa banyak ganti rugi yang harus dia bayarkan.
Sehingga, tangannya digandeng oleh pak tua seperti itu...
Tatapan mata pak tua ini begitu hangat dan begitu bersemangat.
Namun Thomas malah menghindari tatapan matanya dan merasa tidak tenang.
Setelah sesaat, Thomas berkata dengan tulus, "Pak, aku tidak punya uang, kalian jangan menggangguku."
"Cu, aku adalah kakekmu! Serius!" Pria berbaju rapi itu tetap menarik tangan Thomas tanpa melepaskannya.
"Baiklah, kamu adalah kakekku."
Thomas memperlihatkan senyum yang begitu jelek. "Kakek, tangan kakek, lepaskan dulu ya?"
Kakek? Thomas hanya berpikir asalkan bisa membuat pak tua ini melepaskan tangannya, memintanya memanggil bapak moyang juga akan dia lakukan dengan suka rela!
"Haha, Cucuku!" Pak tua yang berpakaian formal dan rapi itu langsung senang dan langsung ingin memeluknya.
Srakk! Thomas bagaikan seekor kelinci ketakutan yang langsung melompat dan kabur.
"Tuan, kalau ingin menipu orang, lebih baik cari orang yang punya rumah dan mobil, menipuku tidak akan menghasilkan banyak uang..."
Brukk!!
"Aww!" Thomas terjatuh ke tanah.
"Nak, kenapa kamu tidak percaya kalau aku ini kakekmu?!" Pak tua berbaju rapi dan formal itu segera mendekat dan memapah Thomas yang terjatuh.
Kepala pelayan segera mengeluarkan selembar surat pemeriksaan lab rumah sakit dari dalam tas kerja dan berkata dengan ramah, "Tuan muda, benarkah namamu Thomas Widjaja? 22 tahun lalu kamu ditemukan oleh pasangan suami istri Tanto Widjaja dan Silvia Lionita."
"Namun kakek kandungmu adalah Tuan Levian, namanya Chandi Levian, dan nama aslimu adalah Thomas Levian."
Thomas menerima lembaran hasil lab itu dan melihatnya dengan seksama, tingkat kesamaan 99,9% .
Tapi...
"Tuan, apa hubungannya hasil lab ini denganku!" Di atas hasil lab ini sama sekali tidak ada namanya.
"Hehe, ini adalah hasil lab dengan menggunakan rambutmu, kenapa tidak ada hubungannya denganmu." Chandi tersenyum lebar dan tidak hentinya menggosok kedua tangannya.
"Yang benar saja, dari mana kamu mendapatkan rambutku?" Thomas terlihat begitu bingung.
Kepala pelayan berkata sambil tersenyum: "Bukankah beberapa hari yang lalu kamu ke depan kompleks untuk gunting rambut secara gratis?"
Thomas baru ingat sekarang, memang benar ada kejadian seperti itu.
"Kalau begitu, kamu benar-benar kakekku?"
"Tentu saja, kalau tidak percaya kamu boleh memeriksanya ke rumah sakit sekali lagi."
Setelah Chandi pikir-pikir, dia mencabut sebatang rambutnya.
"Kalau tidak percaya, cek saja sendiri."
Sebenarnya Chandi juga takut salah, sehingga dia memeriksanya sampai tiga kali.
Yang pertama kali, menggunakan alat bekas makan Thomas di restoran.
Yang kedua kali, tisu yang dipakai untuk mengelap darah Thomas ketika tangannya berdarah tergores pisau...
Sebenarnya mengetes sekali sama sekali bukan hal yang sulit untuk seorang Chandi Levian.
Sebagai seorang triliuner, untuk mengorek status seseorang sampai ke nenek moyangnya adalah sebuah hal kecil baginya.
......
Thomas akhirnya percaya, awalnya dia sudah setengah percaya ketika melihat hasil lab yang diperlihatkan kepala pelayan itu, dan apa yang terjadi berikutnya, membuat dia menepis keraguan terakhirnya.
"Cu, kakek datang terburu-buru, sehingga tidak sempat mempersiapkan hadiah untukmu, kamu ambillah kartu ini, pinnya adalah..."
Chandi mengeluarkan selembar kartu black gold yang mengkilap.
Begitu Thomas melihatnya, dia sontak terkejut.
Kartu black gold asli... Minimal Thomas mengetahui apa ini, dan kartu ini terlihat begitu unik, namun Thomas tidak yakin di mana uniknya.
Thomas menelan ludahnya dengan berat: "Kartu ini, ada berapa banyak uang dalam kartu ini?"
"Dua... dua puluh miliar." Chandi segera merubah jawabannya, awalnya dia hendak mengatakan 200 miliar.
Namun ini sudah cukup membuat mata Thomas membelalak besar bahkan jauh lebih besar dari lonceng, "Astaga..."
Benar-benar kejatuhan durian runtuh! Tiba-tiba dia tersadar dan segera memasukkan kartu black gold itu ke dalam saku celananya.
Kemudian dia menarik Chandi ke samping dan berbisik.
"Hei, ini bisa aku pakai?"
"Hm, pakailah sesukamu, ini adalah uang jajanmu bulan ini."
"Astaga, yang benar?"
"Tentu saja benar, untuk apa membohongimu? Kalau tidak percaya cek saja ke bank."
......
"Kalau begitu benar-benar aku pakai ya."
"... Mmm."
"... Mmm."
Chandi tersenyum, tiba-tiba merasa sangat gemas.
Uang 20 miliar hanyalah uang receh baginya, kartu black gold ini adalah sebuah kartu yang tidak memiliki batas limit.
Cucunya ini adalah penerus yang dia tunjuk, dan dia ingin menguji sifat asli cucunya ini.
......
"Kalau begitu terima kasih ya!" Thomas berkata dengan sungkan, lalu berpikir apakah dia perlu mengatakan hal lainnya.
Setelah dipikir-pikir, sudahlah, lagi pula mereka tidak akrab.
"Uhm, aku pergi kerja dulu, sampai jumpa nanti."
"Cu, tunggu dulu!" Panggil Chandi dengan tergesa-gesa.
"Ada apa? Jangan bilang kamu menyesal?" wajah Thomas langsung menjadi serius.
"Oh, bukan, Kakek sangat sibuk, sebentar lagi akan kembali ke Surabaya, kalau kamu ada perlu telepon saja."
Chandi memberikan secarik kertas berisi nomor handphone.
"Oh, baiklah."
Begitu Thomas menerima kertas ini, dia menyadari Chandi sedang menatapnya dengan ekspresi aneh.
"Ada apa?" Thomas langsung merinding.
Chandi bertanya dengan wajah muram, "Tidak apa-apa, sebenarnya Kakek hanya ingin bertanya, bukankah kamu sudah punya uang 20 miliar... Apa masih perlu bekerja paruh waktu?"
Thomas tercengang lalu menepuk kepalanya.
Iya yah! Di tangannya ada uang 20 miliar, untuk apa bekerja paruh waktu lagi?!
Thomas tersenyum sungkan, lalu menepuk bahu Chandi dan berkata: "Good, pintar sekali! Apa yang kamu katakan masuk akal, karena terlalu tegang, aku jadi ceroboh begini, kalau begitu sudah waktunya aku menikmati hidup."
Dia lalu melambaikan tangannya ke arah Chandi, lalu berbalik dengan santai dan berjalan keluar gerbang rumah susun.
......
Kedua pak tua ini hanya bisa saling bertatapan dengan wajah bingung. Kenapa cucu yang satu ini sama sekali tidak berjalan sesuai naskah!
......
20 miliar! Thomas berjalan tanpa arah di jalanan. Pikirannya melayang jauh entah ke mana.
Sesekali dia mencubit wajahnya dan selalu berakhir dengan seruan, "Ya ampun, ini benar-benar bukan mimpi?"
Akhirnya dia mengumpulkan keberanian, dan memutuskan untuk mengecek ke bank apakah ini benar.
Dia melihat jam, sudah jam 9, seharusnya bank sudah buka.
Thomas masuk ke salah satu bank yang ada di sana.
Di depan meja teller.
"Maaf Nona, aku ingin mentransfer uang."
Seorang wanita cantik duduk di kursi kerjanya sambil bercermin dan mengoleskan lipstik di bibirnya.
Dia melirik Thomas lalu mengibaskan tangannya dengan tidak sabar, "Bukankah di luar sana ada mesin ATM, kami sangat sibuk, silakan transfer sendiri."
"Bukan begitu, di luar sana kurang aman." Thomas berkata lirih sambil melihat ke sekeliling dengan wajah waspada.
Seorang pria paruh baya yang berdiri di teller samping langsung tertawa merendahkan.
"Nak, kamu tenang saja, kalau uang yang kamu setorkan berjumlah ratusan juta sepertiku baru membutuhkan bantuan Nona teller."
Dan maksud dalam ucapannya ini jelas sekali: Kamu? Sama sekali tidak pantas.
"Namun tugas bank adalah melayani, apakah karena melihat aku ini miskin sehingga tidak ingin melayaniku?!"
Ada kartu black gold yang menyokongnya, sikap Thomas pun menjadi lebih tegas.
Meskipun dalam kartu black gold yang dia kantongi tidak ada uang, namun begitu dikeluarkan tetap tidak memalukan.
"Anak muda, tunggu kamu punya uang miliaran baru bicara seperti ini ya?" ucap pria paruh baya ini sambil tertawa.
......
Manager bank sedang menyeduh kopi di dalam. Wajahnya tetap memasang senyum yang begitu ramah.
Dia merasa ini cukup menarik, harga pakaian yang dikenakan anak muda ini bahkan tidak lebih dari 200 ribu rupiah.
Anak muda jaman sekarang memang sungguh berani.
Apa yang dikatakan oleh bos itu tidak salah. Apa yang dikatakan anak buahnya juga tidak salah.
Bukankah dia bisa mentransfer lewat mesin ATM yang ada di luar sana, kenapa harus merepotkan teller?
Asal tahu saja, di dunia ini tidak ada keadilan yang hakiki.
Itu hanya seruan tidak berarti bagi orang miskin.
Namun detik berikutnya, tangan manager yang memegangi kopi bergetar hebat sampai kopinya tumpah di kemejanya pun tidak dia sadari.
Kedua bola matanya hampir jatuh. Ini... seperti bertemu hantu!
Thomas tidak melakukan apa pun, dia hanya mengeluarkan kartu black goldnya saja, lalu mengatakan dengan penuh penekanan, "Aku... mau... transfer... uang...!"