Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 107


“Brengsek! Bedebah, gue kasih tahu ya, jangan macam-macam lu!”


Menyadari sorot mata Thomas yang aneh, Martin semakin sangar.


Selama ini Martin benar-benar sudah muak.


Ketika muda, bukankah dia juga sama seperti orang sebayangnya, penuh dengan semangat kerja keras dan memiliki impian yang besar.


Namun pada akhirnya, dia dikalahkan oleh kenyataan yang begitu dingin dan kejam.


Namun sejak dia bertemu dengan Ivan, melewati beberapa hari yang mewah, ambisi yang sudah lama mengering kembali bertunas.


Namun hari indah tidak berlangsung lama, dia menyadari kontrak proyek kerjasama itu hanya sebuah jebakan yang dibuat oleh Ivan, selain itu, masih ada beberapa lubang lain yang menantinya.


Dia memanfaatkan kontrak kerja yang menjebaknya, juga bukti kelam Bright Property yang ada di tangannya, tujuannya adalah agar dia bisa mendapatkan ganti rugi lebih.


Apakah dia salah?


Tidak!


Karena Ivan tidak berperasaan, maka jangan salahkan dia berlaku kejam juga!


Oleh karena itu dia berniat memeras uang 2 milyar dari Bright Property!


Yang tidak disangka adalah, dia malah dijebak oleh anak haram yang ada dihadapannya ini.


Kalau tidak, Thomas sudah tahu kalau cara memeras ini sama sekali tidak mempan, lalu kenapa dia tidak mengingatkannya ketika di Tasty?


Bukankah ini sudah jelas menyuruhnya melompat ke dalam lubang!


Membuatnya mengira nama Santo begitu berguna, Santo brengsek!


Thomas memang sudah menolongnya.


Namun mungkinkah dia sebaik itu?


Martin tidak berpikir demikian.


Di gudang tua inilah, Thomas mempermalukannya dengan kejam, bahkan memukulnya.


Ini adalah tujuannya!


Anak haram ini, terus merasa dendam karena Keluarga Ningrat membatalkan perjodohan, ini adalah pembalasannya terhadap Keluarga Ningrat, dan juga pembalasan pada Martin!


Bahkan berpikir dia orang yang tahu berterimakasih…


Bukankah dia hanya beruntung saja? Atas dasar apa anak haram sepertinya berada di posisi yang begitu tinggi, menatapnya dengan menggunakan sorot mata merendahkan bagai sedang melihat seekor anjing?


Kalau bukan karena gue dikagumi oleh Bos Markus, mungkin nyawa gue sekarang sudah hilang!


Segala sesuatu di dunia bisa berubah, bagaikan roda yang berputar, Thomas, Thomas, ini adalah balasan buat elu, jadi jangan bilang gue kejam ya!


Tidak sampai setengah menit.


Yang dipikirkan Martin sudah begitu banyak.


Semakin memikirkannya, dia semakin marah, semakin lama, tatapannya ke arah Thomas semakin tajam.


“Dasar manusia rendahan! Gue kasih lu kesempatan satu kali lagi, kalau lu gak ngelakuin apa yang gue perintahkan, lu bakal tahu sefatal apa akibatnya!” ucap Martin sambil menyeringai.


Namun Thomas malah ikut tersenyum, “Martin, lu yakin gue transfer? Jangan lupa, sekarang ini lu melanggar hukum.”


“Bajingan…”


Tiba-tiba Martin terkejut.


Iya benar!


Meskipun Thomas mentransfer uang 20 triliun untuknya, memangnya dia berani ambil?


Kalau di rekeningnya muncul angka yang begitu besar secara tiba-tiba, jangankan penculikan atas Thomas saat ini, meskipun uang itu datang secara tiba-tiba pun pasti akan menimbulkan masalah yang sangat besar untuknya.


Kalau sampai Markus melakukan hal itu pada Thomas…


Penculikan dan pembunuhan ini, bukankah semua akan langsung jatuh padanya!


Begitu memikirkan hal ini, ekspresi Martin langsung berubah.


Uang cash… tidak bisa! Transfer… juga tidak bisa!


Karena gegabah, yang dia pikirkan hanya uang, bahkan sampai melupakan hal yang begitu penting…


… Tunggu!


Bos Markus!


Iya, benar! Ini adalah keinginan Bos Markus, gue coba telepon dulu buat tanya…


Memikirkan hal ini, Martin hanya melirik Thomas dengan cemas lalu mengeluarkan ponsel dan berbalik keluar.


“Kalian jaga dia dengan benar!”


Martin menelepon Markus.


“Halo? Ketua?”


Begitu Markus buka suara, langsung memanggilnya dengan posisi Ketua Perkumpulan Cabang, ini membuat kepercayaan diri Martin semakin tinggi.


“Hm? Thomas? Lu atur saja, gue sekarang lagi ada rapat penting, nanti baru kita bicarakan.”


“Bukan begitu, Bos Markus, dengarkan aku dulu…”


“Tuutt… tuutt… tuutt…”


Mata Martin langsung membelalak besar.


Telepon dimatikan!


Orangnya saja sudah dia tangkap, apanya yang atur saja!


Pada saat seperti ini, bukankah sudah seharusnya meminta uang jaminan?


Kenapa ini tidak sesuai dengan yang dia bayangkan!


Martin termenung dan kembali sadar dengan susah payah.


Dia menoleh dan melirik Thomas, seperti baru saja teringat sesuatu, kening Martin langsung dipenuhi keringat dingin.


Pada saat ini sudah tahu jelas, kalau Markus tidak peduli, maka Thomas bukan lagi hal yang menguntungkan.


Melainkan sesuatu yang sangat merepotkan!


Meskipun pada akhirnya mendapatkan uang jaminan, asalkan Markus tidak maju, maka masalah ini akan ditanggung oleh Martin seorang diri.


Orang yang ada di balik Thomas, pasti akan mencarinya untuk akibat yang akan dia akan terima…


Memikirkan sampai di sini, Martin langsung merinding dan bergidik.


Lalu, dia segera menelpon Markus lagi, namun yang terdengar adalah suara operator yang mengatakan kalau nomornya tidak aktif.


Kali ini martin benar-benar panik.


Dalam pikiran Martin hanya ada satu kata… mampus!


Thomas sudah dia culik, namun Markus malah tidak bisa dihubungi saat ini, sekarang, meskipun dihajar setengah mati pun Martin tidak akan berani meminta uang 20 triliun dari Thomas, kecuali dia mau dipenjara seumur hidup atau… dihukum mati!


Namun melepaskan Thomas, yang menunggunya mungkin pembalasan Thomas yang lebih kejam lagi!


martin berjalan kembali dengan ekspresi yang sangat buruk.


Sorot matanya begitu tajam.


Ketika Thomas melihat Martin keluar, dia langsung memasang telinganya untuk mendengarkan isi percakapan Martin.


Meskipun dia tidak menyalakan speaker, namun Thomas mendengar nama Bos Markus.


Kelihatannya orang yang bernama Bos Markus ini yang menyuruh Martin menculiknya, ini sungguh bertolak belakang dengan pemikiran sebelumnya.


Awalnya dia mengira ini ide Martin.


Dan Thomas sama sekali tidak ingat, sejak kapan dia memiliki musuh, apalagi orang yang bernama Bos Markus ini, dia sama sekali tidak mengenalinya.


Lalu.


Martin kembali.


Sorot mata Martin begitu penuh kekejaman, membuat Thomas merinding.


“Si Martin ini ternyata ingin membunuh gue!”


Thomas yakin sekali dia tidak salah lihat.


Dia tidak takut, cuma tidak terima saja.


Martin berdiri dihadapan Thomas, dibawah pengaruh rasa takut dan tegang, kedua kakinya agak bergetar.


Memang, dia sempat berniat untuk membunuh tawanan.


Kalau terus dipertahankan, meskipun dia mendapatkan uang jaminan pun dia pasti akan mati, melepaskan Thomas juga dia akan menerima pembalasan, dia sudah tidak punya jalan lain.


Namun karena masih sadar, dia menarik dirinya dengan paksa, kalau dia benar-benar membunuh Thomas, maka dia akan berakhir mati segan hidup tak mau.


Ada begitu banyak orang yang melihat dia membawa Thomas kemari, kalau sampai Thomas menghilang, maka para preman ini akan melapor.


Dan pada saat itu, takdir apa yang menantinya?


Martin benar-benar takut.


Dia sangat menyesal, kenapa dia tidak membicarakannya dengan Markus terlebih dahulu, malah langsung menculik Thomas dengan gegabah.


Pada saat ini, Martin berseru, “Kalian semua keluar!”


Belasan preman hanya saling bertatapan dan pada akhirnya keluar dari pabrik tua itu.


Mereka juga merasakan ada yang tidak beres dengan hal ini.


Sebenarnya ketika Bon pergi, beberapa orang diantara mereka sudah merasakan ada yang aneh.


Setelah semua preman keluar, yang tersisa hanya mereka berdua, Martin tiba-tiba merasa lega.


Lalu dia berjalan ke belakang Thomas dan melepaskan ikatannya sambil berkata, “Tom, tadi aku terpaksa melakukan hal ini, Bos Markus yang menyuruhku menculikmu, tapi kamu tenang saja, aku akan melepaskanmu sekarang. Mana mungkin Om Martin melukaimu, semua ada asalnya, kamu harus ingat, Bos Markus yang ingin mencelakaimu!”