Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Tidak Akan Datang Kalau Tidak Ada Perlu


Pasangan suami istri Martin dan Milan datang dengan wajah sumringah dan banyak kantong bingkisan di tangan mereka.


Milan yang melihat ekspresi wajah Luna yang tidak bersahabat langsung berkata sambil tersenyum, "Neng, kamu bicara apa, kenapa bicaranya kaku seperti orang asing. Oh iya, di mana ibu dan kakakmu? Eh, jangan ngobrol di sini, kita ngobrol di dalam saja."


Setelah mengatakannya, tanpa menunggu respon Luna, Milan langsung menerobos masuk ke dalam, dan tidak lupa menarik Martin masuk bersama dengannya.


Lua ingin menahannya namun tidak sempat, dia hanya mendengus dengan kesal lalu menutup pintu.


"Hai besan, masih sarapan rupanya."


Milan menyapa dengan ramah.


"Kalian sudah makan? Kalau belum duduk dan makanlah bersama."


Meskipun Silvia tahu duduk perkaranya, namun bagaimanapun dia adalah kepala keluarga Widjaja, kalau dia bicara terlalu kasar akan terasa tidak sopan.


Dia sudah tidak memiliki kesan yang baik terhadap orang Keluarga Ningrat, namun karena mereka sudah datang, mau tidak mau harus basa basi.


Namun Thomas malah terkejut, Milan memanggil ibunya besan, jangan tanya betapa palsunya itu, bahkan membuat orang yang mendengarnya merasa begitu jijik.


Milan melihat meja makan yang tidak begitu besar, di atasnya hanya ada sepanci bubur, sepiring lobak asin, dan juga sebotol tahu fermentasi.


Tatapan matanya langsung memperlihatkan ekspresi merendahkan, namun dia tetap berkata dengan wajah tersenyum, "Tidak perlu, kami sudah makan tadi."


Sebenarnya mereka berdua sudah berangkat sebelum matahari terbit, pagi-pagi sudah menunggu di swalayan.


Begitu pintu swalayan buka, mereka langsung membeli semua yang ada di tangan mereka, lalu segera datang ke sini.


Pada saat ini, Milan merasa heran, Thomas punya begitu banyak uang, namun sarapannya masih saja bubur dan makanan murahan seperti ini?


Meskipun belum sarapan, melihat makanan yang begitu sederhana, Milan sama sekali tidak berselera, apalagi dia masih ada urusan penting yang harus di urus.


"Oh iya, besan, vitamin ini sengaja dibeli oleh Martin ketika dinas keluar beberapa waktu lalu, aku khusus menyuruhnya membelikannya untukmu, di dalamnya ada ginseng, rempah-rempah herbal, juga ada sedikit sarang burung walet, hanya sedikit oleh-oleh saja."


Milan tersenyum sambil meletakkan semua kantong belanjaan itu di atas meja.


Melihat ada dua kursi yang kosong di meja makan, Milan langsung memberi isyarat pada Martin, lalu segera duduk di samping Silvia dengan akrab.


Melihat suasana yang kaku, Milan kembali berkata dengan wajah tersenyum, "Ckck, lihat Thomas kita, semakin lama semakin tampan, aku yang menjadi ibu mertua semakin lama semakin suka melihatnya..."


Thomas sekeluarga menghabiskan bubur di dalam mangkuk mereka, lalu meletakkan sendok mereka, dan menatap wajah Martin dan Milan.


Lalu berkata dengan senyum dingin, "Sudah, kalau sudah tidak ada urusan lain lagi, bawa barang kalian, kalian sudah boleh pergi dari sini."


Martin melihat tidak sesuai harapan, langsung berpura-pura kesal untuk membalikkan keadaan, "Thomas, apakah begitu caramu bicara dengan Om Martin?"


Kemudian, Martin bicara dengan lembut, "Sebelumnya itu hanya sebuah salah paham, setelah Om pulang, Om memberi pelajaran pada tante Milan, kamu tenang saja, tante Milan tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."


"Hah? Salah paham? Martin, kenapa aku ingatnya malam itu kamu terus membantu Tuan muda Ivan untuk menekan kakakku?" Luna yang berasa di samping tersenyum dingin.


Begitu Martin dan Milan mendengar ini, ekspresinya langsung berubah.


Gadis ini bicaranya sungguh tidak sungkan. Awalnya mereka mengira kedua kakak beradik ini tidak berani membeberkan masalah ini di hadapan ibu mereka yang punya penyakit jantung, namun kelihatannya mereka sudah salah duga!


"Salah paham, semuanya salah paham, malam itu karena aku takut Thomas salah jalan, siapa yang menyangka, Thomas begitu hebat, masih begitu muda sudah..."


"Sudahlah Martin, kalau kalian berdua datang untuk membicarakan masalah Wanda, kita bicarakan ini di luar."


Mendengar ini, Thomas langsung merespon.


Kedua suami istri ini begitu datang langsung bersikap aneh, sok akrab ketika bicara, membuatnya langsung teringat pada Wanda.


Sejak malam itu dia sudah tahu kalau Ivan tidak bisa dipercaya.


Dan ketika itu Wanda begitu tergila-gila pada Ivan, awalnya dia ingin mencegahnya, namun dia ingat kalau dia putus hubungan dengan Wanda.


Kelihatannya Wanda masih berada di Restoran Tasty sekarang.


Martin segera mengangguk mendengar nada bicara Thomas yang melunak, lalu berkata, "Oh, ok, kalau begitu..."


Namun pada saat ini Milan malah menarik ujung baju Martin, dan berkata sambil tersenyum, "Thomas, kita semua sekeluarga, memangnya ada hal yang tidak boleh diketahui ibumu? Bicara di sini saja."


Dia tahu jelas, kalau ikut Thomas bicara di luar, maka semuanya pasti akan sia-sia.


Mendengar ini, Silvia langsung memasang wajah serius, kemudian bertanya pada Thomas, "Thomas, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dari mama?"


Gawat, tidak bisa ditutupi lagi! Dalam hati Thomas menghela nafas.


Masalah Chandi adalah kakek kandungnya, sebenarnya tidak perlu ditutupi, hanya saja kondisi ibunya terlalu lemah.


Sejauh ini, keluarga ini masih bisa bertahan karena ada Thomas yang menopang, kalau sampai Silvia tahu dia menemukan keluarga lain, maka Silvia akan berpikir sembarangan, dan ini akan membuat penyakitnya semakin sulit untuk pulih.


Namun, Milan sangat hebat dalam hal ini, dia bicara sambil tersenyum bagaikan tidak ada masalah, "Besan, Wanda ada sedikit masalah kampus yang membutuhkan bantuan Thomas, jangan dipikirkan."


Thomas tercengang, lalu merasa lega, Milan secara kebetulan menyelamatkan dirinya yang hampir ketahuan.


Karena dia sudah membantunya, Thomas memutuskan untuk membantunya.


Kondisi kesehatan ibunya baru membaik, Haris juga mengatakan untuk banyak istirahat dan jangan banyak pikiran.


"Hmm, baiklah, aku akan bantu."


Thomas ingin mengantisipasi masalah nantinya, sehingga segera menyetujuinya, lalu bertanya pada Luna, "Dek, ikut tidak?"


Meskipun tidak rela, namun Luna juga paham apa yang dipikirkan Thomas, sehingga dia mengangguk dan pergi berganti pakaian.


Sepuluh menit kemudian, Thomas pamit pada Silvia terlebih dahulu sebelum pergi.


Lalu dia menelepon Dimas, kemudian melihat ke arah Martin.


"Wanda masih di Restoran Tasty?"


"Iya, masih, Thomas, kami sungguh tidak tahu harus berbuat apa lagi, kami hanya bisa meminta bantuanmu." Ucap Martin dengan berat.


Kemudian Martin dan Milan menceritakan semua yang terjadi tiga hari ini.


Malam itu setelah kedua pasangan suami istri ini pulang ke rumah, yang pertama kali mereka lakukan adalah menelepon Ivan.


Ivan berjanji dengan begitu meyakinkan, masalah ini akan diselesaikan dengan lancar.


Hingga kemarin, Milan meneleponnya lagi untuk menanyakan perkembangannya, awalnya semua masih berjalan dengan baik, siapa yang menyangka siang harinya nomor Ivan malah sudah tidak bisa dihubungi lagi.


Mereka pergi ke  Bright Property  untuk menemuinya, namun malah dihadang oleh security, mulai dengan membujuk sampai mengancam, security tetap tidak mengizinkan mereka masuk.


Sepasang suami istri ini sontak kebakaran jenggot.


Hutang 20 miliar ini jelas-jelas punya Ivan, Wanda hanya menjadi penjamin saja.


Namun kalau Ivan tidak mau mengakui ini hutangnya, bukankah hutang ini akan dibebankan pada Keluarga Ningrat.


Mereka sudah kehabisan ide, hanya menelepon Ivan berulang kali, namun yang menjawab mereka selalu mesin operator yang mengatakan kalau nomor yang mereka hubungi sedang tidak aktif.


Dan sampai pagi ini, pasangan suami istri yang sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali datang berkunjung dengan mempertaruhkan kepercayaan mereka.


Thomas berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku akan berusaha membantu kalian, namun aku tidak berani menjamin bisa menolong Wanda keluar."


"Thomas, bagaimana kamu bisa seperti itu!" Begitu Milan mendengar ini, dia langsung panik.