Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Cu, Aku Kakekmu!


 


 


    Thomas keluar dari kantor dengan wajah senang sambil mendekap ponsel jeleknya yang ada di dalam kantung celananya. Sudah ditransfer, kerja keras bulan ini akhirnya terbayarkan. Tidak banyak, 12 juta, namun dia masih ada gaji part time sebagai guru private.


    "Hei! Thomas!" Thomas menoleh dan melihat Dimas.


    "Sudah gajian nih, ayo kita minum-minum malam ini." ucap Dimas sambil tersenyum lebar lalu menepuk bahu Thomas.


    "Aku yang traktir!"


    "...Aku tidak sempat." Thomas menengadah dan melihat Dimas yang jauh lebih tinggi darinya. Lalu menambahkan, "Aku ada urusan lain."


    "Bukankah hanya mengajari anak orang lain untuk belajar?! Izin sehari memangnya kenapa, sih? Kamu lihat tubuhmu sekurus ini, ayo ikut aku makan-makan untuk menambah sedikit nutrisi."


    "Lain hari kalau ada waktu saja." Thomas mengusap hidungnya lalu berbalik dan pergi.


    Dia tahu niat baik Dimas, namun dia tidak ingin menerima bantuan dalam bentuk apa pun. Utang budi... adalah sebuah utang yang sulit dilunasi.


    "Tiing!! Tiing! Tiing!" Terdengar suara notifikasi handphonenya.


    Thomas mengeluarkan ponselnya, ini adalah pesan yang dikirim oleh Wanda, calon istrinya.


    "Beb, hari ini sudah gajian ya? Besok aku harus membayar uang les loh."


    Thomas tersenyum, sehingga dia langsung membalas pesannya. "Berapa?"


    "Tidak banyak, enam juta." Ditambah sebuah stiker senyum yang manis.


    Alis Thomas langsung mengerut, lalu membalas: "Sebanyak itu?"


    "Tidak banyak, kamu sama sekali tidak tahu, aku harus les tujuh sampai delapan mata pelajaran." jawab Wanda.


    Les memang butuh uang, Thomas tidak berpikir panjang, sehingga langsung mentransfer 6 juta padanya, sekalian menambahkan: "Hari ini akhir pekan, ibuku menyuruhmu datang ke rumah untuk makan malam."


    "Tidak bisa, hari ini aku ada kelas tambahan, sebentar lagi sudah mau magang. Aku sayang Bebeb, muach!"


Meskipun harinya cukup berat, namun dia tetap bersyukur.


    Ketika Thomas berusia satu bulan, dia dibuang oleh orang tua kandungnya di pinggir jalan, ayah asuhnya yang bernama Tanto Widjaja lah yang membawanya pulang.


    Ketika Thomas kelas satu SD, seorang kawan ayah asuhnya datang membawa seorang putri untuk menengok mereka, setelah makan dan mengobrol, mereka akhirnya memutuskan perjodohan ini.


    Pada saat kelas tiga SMA, bisnis ayah Wanda gagal, Tanto berinisiatif untuk membantu keluarga Wanda.


    Tanto bekerja sebagai supir pengangkut di proyek pembangunan, ketika itu keluarga mereka cukup berkecukupan, ibunya juga masih begitu bugar, untuk membiayai sekolah Wanda masih mampu.


    Menurut Tanto, ini bukan dua keluarga, karena Wanda adalah calon menantunya.


    Setelah ayah asuhnya meninggal dalam kecelakaan karena mobil yang diangkutnya kelebihan muatan, bantuan dari keluarga Widjaja tetap terus mengalir, dan Thomas yang menanggung sebagian besar biaya.


    Namun seiring Wanda yang masuk kuliah tahun ketiga, Thomas mulai merasa sedikit terbebani.


    "Tidak apa-apa, masih ada waktu senggang. Kalau memang tidak cukup, aku bisa menambah satu part time lagi." Thomas menghibur dirinya sendiri sambil membuka kunci pengaman motornya, lalu melaju ke arah rumah sakit.


    Setelah mengambil obat ke rumah sakit, dia pergi ke toko buku untuk membeli buku referensi dan juga bahan untuk mengajar.


    Ketika melewati sebuah mall, Thomas berhenti sesaat, teringat adiknya yang sudah lama tidak punya baju baru.


    Dia mulai menghitung, uang untuk membeli obat ibunya sekitar 4 jutaan setiap bulannya, uang sewa, listrik dan air 2 jutaan, kebutuhan sehari-hari sekitar 2 jutaan... Sisa uangnya untuk kuliah pacarnya.


    Uhm... masih ada sedikit uang yang tersisa. Sehingga setelah dipertimbangkan, dia memarkirkan motornya dan masuk ke dalam mall.


    Lantai tiga adalah area fashion. Thomas tidak mampu untuk membeli baju bermerek , dan dia sadar akan hal ini. Targetnya adalah pakaian yang diobral.


    Setelah berkeliling, Thomas membeli tiga stel pakaian yang masih cukup layak pakai dengan uang satu juta. Dia juga membeli sebuah gaun panjang biru muda dengan motif bunga yang cantik.


    Begitu membayangkan wajah adiknya yang begitu senang melihat baju baru yang dia berikan, senyum puas langsung mengembang di wajah Thomas.


    Dan ketika dia keluar dari toko bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba dia melihat sosok yang begitu dia kenal. Dan orang ini tidak seharusnya berada di sini.


    Dia menghentikan langkahnya.


    Ini... Wanda? Bukankah dia mengatakan ada kelas tambahan?


    Thomas terkejut, lalu reflek bersembunyi, ketika melihat wanita itu menoleh, Thomas langsung mengenali Wanda.


    Ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat nama toko di mana Wanda berada, dia sontak meringis. Ini adalah toko Marks&Spencer! Pakaian yang dijual di sini paling murah 2 juta satu stel!


    Beberapa waktu yang lalu, Thomas sempat mengajak adiknya berkeliling di mall ini. Begitu melihat harga barang di sini, mereka berdua hanya bisa mundur perlahan.


    Dan akhirnya memutuskan untuk pergi makan bakmi seharga 16 ribu.


    "Dia dapat uang dari mana untuk belanja di tempat seperti ini?"


    Melihat Wanda yang langsung membeli tiga setel baju di sana baru keluar dari Mark&Spencer, Thomas merasa sangat kesal.


    Setelah dipikir-pikir, dia masuk ke dalam toko, lalu menemui pelayan yang membantu Wanda memilih pakaian, dan harga baju yang dia beli genap 6 juta setelah diskon. Seketika Thomas merasa begitu emosi.


    Tidak sampai lima menit, terdengar suara mobil yang menderu dengan bising.


    Sebuah mobil Ferrari merah perlahan mendekat dan berhenti di depan Wanda.


    Bamm! Pikiran Thomas seketika kosong. Dia langsung maju dan memanggil.


    "Wanda!"


    Pemuda yang mengendarai Ferrari itu langsung mengerutkan alisnya.


    "Siapa dia?"


    "Tuan Chandra, dia adalah kakak sepupuku."


    Wanda terkejut, lalu menjawab dengan senyum yang manis. "Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."


    Setelah mengatakannya, Wanda segera menghampiri Thomas dan menariknya menjauh dari sana.


    Ekspresinya terlihat tegang, "Kamu jangan salah paham..."


    "Aku sudah melihat semuanya."


    Thomas mengetatkan bibirnya, wajahnya begitu pucat bagaikan seluruh darah di tubuhnya sudah habis menguap.


    Namun dia tetap bersedia menunggu Wanda sampai memberikan sebuah penjelasan yang masuk akal untuknya, dia tidak percaya ini semua nyata.


    Setelah terdiam sesaat, Wanda memutuskan untuk melepaskan semua topengnya dan berkata dengan dingin.


    "Kita putus saja."


    "Kenapa?"


    "Bisakah kamu tidak begitu kekanakan, apakah masih kurang jelas?"


    Wanda merasa malu dan marah, namun dia juga takut Tuan Chandra mendengarnya, sehingga dia mengecilkan suaranya. "Kak, aku adalah seorang mahasiswa sekarang, setelah lulus kuliah, ibuku ingin aku melanjutkan kuliah di luar negeri, jadi paham kan? Kita berada di dua dunia yang berbeda!"


    Dan entah kenapa, setelah mengatakan semua ini, Wanda langsung merasa begitu lega, namun dia tetap merasa perlu mengingatkan Thomas sekali lagi.


    "Terimalah kenyataan, ok?! Kita itu beda, kamu hanya seorang pria miskin yang tidak punya apa-apa.”


    Dia merasa ucapannya ini sangat cukup untuk menyadarkan Thomas.


    Bagaikan pungguk yang merindukan bulan, itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata ini!


    Semakin cepat Thomas menerima kenyataan ini, maka dia akan semakin cepat menyembuhkan patah hatinya, ini adalah bantuan terbesar yang bisa dia lakukan.


    Bagaimanapun ayah Thomas memiliki hubungan yang sangat baik dengan ayahnya semasa hidup, mengenai uang sekolah yang disokong oleh Keluarga Widjaja selama ini...


    Keluarga Widjaja yang memberikannya secara suka rela, dia tidak pernah memintanya, lagi pula dirinya tidak serendah itu, memangnya dia barang dagangan?


    Wanda tidak pernah berniat untuk menyerahkan dirinya pada Thomas setelah lulus hanya karena Keluarga Widjaja membayarkan uang kuliahnya selama ini.


    Sebagai wanita modern di abad 21 ini, perjodohan? Benar-benar tidak masuk akal!


    "Begini, dia sama sekali tidak tahu hubungan kita, jadi kamu mengerti maksudku bukan?"


    "Ternyata, selama ini kamu memandang rendah diriku." suara Thomas terdengar gemetar.


    Wanda langsung mengabaikannya dan langsung berbalik, berseru ke arah Tuan Chandra itu dengan suara yang begitu manis, lalu naik ke mobil Ferrari.


    "Bruummm...!" Ferrari melaju pergi, bahkan calon istrinya juga ikut dibawa pergi.


    Thomas berdiri di sana, berusaha menerima kenyataan yang begitu pahit ini.


    Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana, tiba-tiba ponselnya berdering.


    Thomas mengeluarkan ponselnya dengan kaku, lalu menekan tombol jawab.


    "Siapa?"


    Siapa yang menyangka kalimat pertama dari seberang sana adalah, "Cu, aku adalah kakekmu!"


    Tiba-tiba mendengar ini, siapa yang tidak bingung.


    Perasaan terhina juga amarah, ditambah lagi dengan telepon yang kurang ajar ini.


    Bagaikan badai yang memporak-porandakan pertahanan Thomas, membuatnya langsung mengamuk.


    "Cucu palamu! Brengsek kalian!"


    Dia melempar ponselnya sampai hancur berkeping-keping, lalu pergi dengan motornya.


    Thomas sama sekali tidak tahu, sebenarnya yang meneleponnya bukanlah orang iseng yang sedang mengerjainya.


    Melainkan seorang pak tua yang mengenakan pakaian rapi dengan tongkat kayu jati.


    Pada saat ini, pak tua ini sedang duduk di sebuah sofa kulit mahal yang ada di ruang tamu megah dengan wajah bingung.