Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Bos Levian Group


Begitu telepon berdering, Thomas, Luna, juga Dimas langsung melihat ke arah manager restoran.


Tidak ada yang perlu Thomas bicarakan terhadap Keluarga Martin. Dan Wandalah yang mengingatkannya tentang ini, dunia mereka memang berbeda. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak perlu mempedulikan apa yang dipikirkan keluarga ini.


Manager restoran tersenyum merendahkan dan melirik ke arah Thomas juga Dimas, "Kenapa? Jangan bilang kalian mengira telepon ini untukku!"


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Namun, tidak mungkin tidak mengangkat telepon. Manager restoran tidak mengangkat teleponnya, namun seorang resepsionis yang mengangkatnya.


"Halo, baik." Resepsionis menoleh dan berkata dengan ekspresi yang sedikit aneh, "Manager, untuk Anda."


Manager restoran tercengang, lalu mengulurkan tangannya untuk menerima telepon. Detik berikutnya, ekspresinya terlihat tercengang dan terlihat sangat terkejut.


"Hm, hm, baik, iya, baik, iya..."


Anggota Keluarga Ningrat dan Ivan tentu menyadari ada yang berbeda dengan sikap manager restoran. Yang pertama kali muncul dalam pikiran mereka adalah tidak mungkin!


Thomas punya uang untuk memesan ruang VVIP saja sudah sangat di luar dugaan mereka. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi, hanya sebuah telepon singkat sudah bisa membuat sikap manager restoran berubah begitu drastis?!


Tidak! Tidak mungkin! Mungkin hanya kebetulan, kebetulan ada telepon masuk, dan kebetulan telepon yang datang untuk memarahi manager restoran! Pasti seperti ini, tidak salah lagi!


Dan ketika telepon ditutup, semua pikiran mereka langsung buyar.


Punggung manager restoran bagaikan patah dan langsung membungkuk 90 derajat. Dia bagaikan seekor anjing jinak yang berlari ke hadapan Thomas.


Dia mengusap keringat dingin di keningnya sambil meminta maaf berkali-kali, "Maafkan kelancangan saya, saya sudah lancang sekali, Anda... bisa ikut dengan saya sekarang, saya akan mengantarkan Anda ke ruang VVIP Anda!"


Dimas mengangguk dan langsung membuat gerakan mempersilakan.


Thomas cukup terkejut dengan sikap ini. Dari kondisi ini, sepertinya Thomas sudah salah besar dalam menilai kemampuan kakeknya ini.


Dia sudah memutuskan, begitu tiba di ruangan, dia harus bertanya pada Dimas sampai jelas, sebenarnya sehebat apa sosok Chandi Levian ini.


Melihat Thomas pergi begitu saja, Wanda memeluk lengan Ivan dan berkata dengan sangat kesal, "Tuan Chandra, ayo cepat pikirkan cara lain!"


Meskipun dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun dipermalukan di hadapan Thomas seperti ini membuat Wanda merasa sangat kesal!


Ivan juga merasa sangat kesal, dia langsung menepis tangan Wanda dan menelepon sebuah nomor, dia menyuruh orang untuk memeriksa status Thomas.


Martin melihat setiap gerak-gerik Ivan dengan jelas, namun tidak mengatakan apa pun.


Restoran Tasty adalah sebuah restoran mewah yang dikelilingi oleh jendela kaca setinggi 30 lantai.


Rombongan Thomas naik lift menuju ke lantai 30.


Makan di sini bisa melihat setiap sudut Kota Jakarta dari setiap sudut, bahkan di atasnya ada atas kaca berbentuk bulat.


Di lantai 30 ada 4 ruangan, dan salah satu ruangan terbesar adalah ruangan ini.


Namun, ruangan ini memiliki sebuah peraturan yaitu tidak dibuka pada siang hari, dan baru bisa dipesan di jam 6 sore sampai jam 6.30 sore, sehingga semua orang berebut memesannya. Hanya dengan cara seperti ini baru bisa membuat orang merasa bangga bisa makan di ruangan ini. Dan Thomas juga kebetulan menelepon nomor hotline restoran dan berhasil memesan ruangan ini.


Begitu tiba di ruangan, Luna langsung menutup mulutnya dengan wajah yang begitu terkejut, seolah-olah takut dia akan menjerit.


Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan hati-hati, "Kak, berapa harga ruangan ini?"


Thomas tidak bisa menjawab, karena dia juga tidak tahu harganya. Ketika dia memesan lewat hotline, dia tidak bertanya dan customer service juga tidak memberitahu.


Pada saat ini, Dimas berkata sambil tersenyum, "Luna, kamu tenang saja, hari ini kita bisa makan gratis tanpa perlu membayar sepeser pun."


"Apa? Bagaimana bisa ada hal seenak ini?" Luna benar-benar dibuat sangat terkejut.


Thomas juga memasang wajah tidak percaya, sebelum dia memutuskan untuk datang ke sini, dia sudah menyiapkan diri untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit, siapa yang menyangka akan mendapatkan keuntungan seperti ini.


"Oh my God! Tidak bisa! Aku harus melihatnya dulu!" Setelah Luna mengatakannya, dia segera menjauh dengan heboh.


Ruangan ini memiliki luas ratusan meter persegi, ada lapangan golf mini, kolam renang, meja pingpong, bowling, juga berbagai macam hiburan lainnya, dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk habis dilihat oleh Luna.


Thomas sama sekali tidak berminat, dia segera duduk dan bertanya pada Dimas, "Dimas, kakekku itu orang yang seperti apa? Cepat ceritakan dengan jujur."


Dia sungguh sangat penasaran terhadap hal ini, pak tua yang terlihat begitu bodoh, ternyata adalah seorang pak tua yang super duper kaya.


"Tuan besar?" Dimas mengerjapkan matanya dengan penuh rahasia.


"Tuan besar... punya beberapa status, salah satunya, seharusnya kamu tahu..." Bicara sampai di sini, Dimas mendekatkan tubuhnya, "Direktur Levian Group..."


Thomas langsung membelalakkan matanya. Otaknya mendadak tidak bisa bekerja dengan sewajarnya.


Meskipun... Meskipun dia berusaha berpikir keras. Dia hanya menyangka kakeknya adalah seorang pak tua kaya yang kekayaannya biasa saja. Namun, kenyataan ini sungguh jauh sekali dari bayangannya!


Direktur Levian Group? Itu termasuk dalam konglomerat teratas dunia! Di bawah Levian Group, ada banyak anak perusahaan dari berbagai bidang di seluruh dunia! Bisa dikatakan ada miliaran orang yang begitu bangun tidur langsung menuju perusahaan ini untuk bekerja!


Bisa-bisanya dia adalah cucu Direktur Levian Group?


Tidak heran Thomas tidak tahu. Sebenarnya, salah satu status Chandi Levian hanya diketahui oleh sedikit orang. Dan orang-orang yang mengetahuinya hanya orang-orang hebat yang hanya dengan menghentakkan kaki dan bersin saja sudah bisa menggerakkan dunia.


"Tuan muda, mau kemana?"


"Aku... mau ke toilet sebentar." Thomas bangkit berdiri dan berjalan ke toilet.


Informasi yang disampaikan Dimas tadi sungguh membuatnya terguncang, bahkan membuatnya hampir mengompol karena terkejut.


Apa artinya uang 20 miliar? Dibandingkan dengan Levian Group, bahkan seujung rambut saja tidak sebanding. Tiba-tiba Thomas merasa kakeknya ini terlalu pelit.


Setelah buang air kecil dan mencuci mukanya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Chandi diam-diam.


"Halo! Cucuku!" tetap dengan suara rentanya yang begitu berat.


"Yakin aku ini cucumu?"


"Yakin, tidak salah lagi!" Di balik telepon sana Chandi menepuk dadanya dengan keras.


"Benarkah?"


"Tentu saja benar... Eh tunggu, kamu menelepon selarut ini hanya untuk menanyakan ini pada Kakek?" Thomas akhirnya merasa lega.


"Sungguh tidak disangka kamu bisa menyembunyikannya dengan begitu baik, ternyata kamu adalah Bos Levian Group?"


"Ehem..." Chandi berdehem sejenak lalu menghela nafas panjang, "Uhm, sepertinya aku tidak bisa menutupi siapa diriku yang sebenarnya darimu lagi..."


Thomas begitu gemas dan berkata, "Kamu begitu kaya, namun hanya memberikanku uang 20 miliar?"


"Loh, itu... kurang menurutmu?"


"Menurutmu?"


"Tidak cukup?"


"Bukan, karena aku punya bagian di Levian Group, kalau begitu aku merasa uangku harus kusimpan dengan baik di kantungku sendiri, itu akan lebih aman."


Chandi, "......"


"Tuutt... Tuuutt.."


Ruang VVIP 2 lantai 30. Sebuah meja bundar besar dikelilingi oleh 15 orang tamu. Termasuk Ivan dan ketiga anggota keluarga Ningrat. Dan suasananya terasa begitu tegang.


Yang duduk di sana selain Keluarga Ningrat, masih ada rekan bisnis Bright Property. Di antara mereka, ada tiga orang pria kekar dengan tato di lengan. Meskipun ekspresi wajahnya datar, namun samar-samar terasa aura yang begitu menakutkan. Mereka sudah tahu kalau Tuan Chandra merasa tidak senang.


Tiba-tiba, ponsel Ivan berdering memecah keheningan. Dia mengangkat ponselnya dan menekan tombol jawab.


"Hm? Yakin tidak salah? Baiklah, aku mengerti."


Ivan tersenyum dingin, dia baru saja menyelidiki siapa Thomas Widjaja ini, dia adalah orang yang sangat teliti sehingga tidak sepenuhnya percaya apa yang dikatakan oleh orang Keluarga Ningrat ini. Namun sekarang dia sangat yakin kalau Thomas hanya seorang pria miskin.


Hanya Tuhan yang tahu dia mendapatkan uang ini dari mana. Dia juga tidak ingin tahu apa hubungan di antara Thomas dan pemilik Restoran Tasty ini.


Tidak punya latar belakang juga backing. Bisa apa kalau sampai diganggu? Mungkinkah akan ada yang membela Thomas setelahnya?


Itu juga tidak mengapa, siapa yang berani menyinggung Tuan muda Keluarga Chandra di Jakarta ini, paling-paling hanya mengganti rugi dan meminta maaf saja.


Namun sebelum itu, dia harus membuat Thomas tahu, apa itu di atas langit masih ada langit!