
Tak ingin larut dalam pemikirannya, Amara pun memilih untuk masuk ke dalam ruangan rawat Zeline.
"Amara... Kau sudah sampai?" Tanya Naina pada Amara yang baru saja masuk ke dalam ruangan rawat putrinya. Naina pun memperhatikan baju Amara yang tidak nampak basah. "Kau tidak terlihat seperti orang kehujanan?" Tanya Naina merasa bingung.
"Ya. Karena Mara memakai mantel sejak dari rumah, Kak." Balas Amara. Amara pun meletakkan barang-barang Zeline di sudut ruangan. "Apa Zel belum bangun juga, Kak?" Tanya Amara menatap sedih wajah keponakannya.
"Zel sudah bangun. Dan baru saja kembali tertidur." Balas Naina.
"Kasihan kali dia. Harus merasakan masuk rumah sakit untuk pertama kalinya." Ucap Amara dengan sendu.
Naina mengangguk membenarkan. "Semoga saja esok hari keadaan Zel sudah membaik dan tidak ada penyakit serius yang menimpanya." Ucap Naina penuh harap.
"Semoga saja... Oh iya Kak..." Amara nampak menimbang-nimbang ingin menceritakan apa yang dilihatnya baru saja. Namun melihat wajah Naina yang masih nampak bersedih membuatnya meragu.
Sebaiknya aku tidak dulu menceritakan kejadian tadi pada Kak Naina. Aku tidak tega melihat wajah sedihnya itu dan menambah pemikirannya.
"Ada apa Amara?" Tanya Naina.
"Tidak jadi, Kak. Aku sudah lupa apa yang ingin aku katakan." Kilah Amara sambil menggeruk kepalanya yang tidak gatal.
*
"Tuan Daniel... Apa anda tidak jadi menemui Nona Naina?" Tanya Marko saat bertemu dengan Daniel di ujung lorong rumah sakit.
"Tidak. Untuk saat ini aku tidak ingin membahasnya karena Zeline masih sakit." Balas Daniel dengan singkat tanpa memberitahu alasannya yang sebenarnya.
"Marko. Tolong kau urus segala biaya administrasi putriku dan jangan sampai siapa pun melunasinya." Titah Daniel yang diangguki Marko dengan patuh. Setelah mendapat balasan dari asisten pribadinya, Daniel pun kembali melanjutkan langkahnya keluar dari dalam rumah sakit.
Di dalam mobilnya, Daniel menggenggam erat selembar hasil tes DNA dirinya dan Zeline. Pemikirannya dibuat begitu kacau akan kebenaran yang baru saja terungkap. Daniel menjambak rambutnya frustasi. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Perasaan bahagia, perasaan bersalah dan perasaan terkejut bergabung menjadi satu memenuhi relung hatinya.
"Zeline... Zeline anakku? Dia adalah putriku?" Daniel menggelengkan kepalanya merasa tak percaya. "Aku sudah memiliki anak dan selama empat tahun ini aku tidak menyadarinya!" Daniel mencengkram erat kemudinya lalu menyandarkan kepalanya di sana.
"Ayah macam apa aku ini? Selama empat tahun aku membiarkan begitu saja anakku tumbuh dan berkembang tanpa sosok seorang ayah biologis di sisinya. Bahkan aku tidak ikut andil sama sekali dalam menjaga putriku yang sedang sakit saat ini." Perasaan Daniel semakin dibuat kacau. Hatinya pun dibuat bertanya-tanya."Bukankah aku tidak menginginkan anak dari wanita cupu seperti Naina waktu itu? Lantas kenapa aku merasa begitu bahagia saat mengetahui jika gadis kecil itu adalah putriku?" Tanpa sadar satu tetes air mata terjatuh di wajah pria yang biasanya arogan itu.
"Apakah kehadirannya di dalam mimpiku selama ini adalah sebuah petunjuk jika anakku sangat merindukan kasih sayang dariku sebagai ayah biologisnya?" Daniel dibuat bertanya-tanya. "Selama empat tahun ini anakku hidup dalam kebohongan dengan status aslinya. Dia bahkan menganggap Naina benar-benar sebagai kakak kandungnya bukan ibunya." Gumam Daniel lalu memukul stir tak bersalah di depannya.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)