Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Jangan memancingku


Dari jarak yang tidak begitu jauh. Kevin memperhatikan interaksi antara Daniel dan Zeline yang terlihat akrab walau pun mereka baru beberapa kali saja bertemu.


"Apa dugaan Mami itu benar?" Gumam Kevin. Memikirkan kembali kejadian demi kejadian yang telah terjadi di hidup Daniel hingga taruhan mereka itu pun terjadi. "Apa mungkin?" Kevin masih terus bertanya-tanya.


Kevin lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah Amara yang sedang memainkan ponselnya tak jauh dari Daniel dan Zeline yang sedang asyik dengan dunia mereka.


"Boleh aku ikut duduk?" Tanya Kevin yang berhasil membuat Amara menghentikan pandangannya dari layar ponselnya.


"Duduk saja, Kak." Amara menggeser tubuhnya. Memberi ruang pada Kevin untuk duduk.


"Kau adiknya Naina?" Tanya Kevin menatap pada wajah Amara yang oval terlihat sedikit tidak mirip dengan Naina yang berwajah bulat.


"Ya. Aku adiknya Kak Naina." Balas Amara.


Kevin mengangguk.


"Apa Kakak mengenal Kakakku?" Tanya Amara yang diangguki oleh Kevin.


Mendengar jawaban Kevin membuat Amara terdiam. Wajahnya nampak berubah seperti memikirkan sesuatu.


"Dia adikmu?" Tanya Kevin menatap pada Zeline.


Wajah Amara sedikit tegang. Namun sebisa mungkin ia menormalkan ekspresinya.


"Ya. Adikku dan adik Kak Naina." Balas Amara menekan setiap kata-katanya.


"Ohh..." Kevin mengangguk dua kali. Pandangannya kini kembali beralih pada Zeline. "Tapi adikmu tidak mirip denganmu." Ucapnya memancing di air jernih.


Amara nampak mengepalkan tangannya. Entah mengapa ia merasa pembicaraan mereka seperti sebuah introgasi. "Zeline lebih mirip Ayah dan Kakakku. Sedangkan aku lebih mirip Ibuku." Balas Amara semakin mengeratkan kepalan tangannya.


"Ohh." Kevin kembali mengangguk. "Aku rasa jarak umur kalian dan dia terpaut cukup jauh." Pancingannya semakin keruh.


Amara menatap sinis Kevin. Seolah tak suka dengan pancingan pria itu. "Karena aku yang meminta adik kepada Ibu hingga Ibu dan Ayah bersepakat untuk memberikan adik pada kami." Ucapnya tenang tanpa gagap. Seolah jawaban itu sudah ia persiapkan dengan matang-matang ketika diperlukan seperti saat ini.


"Zel... ayo kita pulang. Sebentar lagi Ayah dan Ibu pasti pulang." Ajak Amara pada Zeline yang masih terlihat tertawa-tawa.


"Ibu pulang Tak?" Tanya Zeline yang diangguki oleh Amara.


"Ibu bawa jajan untuk Zel itu. Ayo pulang. Nanti jajannya keburu tidak enak." Ucap Amara.


"Ya Tak." Zeline mengatur posisi untuk turun. Melihat itu Daniel pun dengan segera membantu gadis itu untuk turun.


"Terimakasih telah menemani Zeline bermain, Kak. Kami pamit pulang dulu." Ucap Amara setelah menggendong Zeline.


Daniel mengangguk tanpa bersuara.


Setelah mendapatkan respon dari Daniel, Amara pun buru-buru melangkah tanpa bersuara pada Kevin.


Sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik nantinya. Kevin menarik bibir ke samping saat merasa mendapatkan sesuatu petunjuk atas apa yang ada dipemikirannya sejak tadi.


Sedangkan di atas motornya, Amara nampak duduk tidak tenang sambil memegang tangan mungil Zeline yang kini melingkar di pinggangnya.


"Jangan tidur di jalan ya, Dek." Perintah Amara yang diangguki oleh Zeline dari belakang.


"Di lampu merah nanti pindah ke depan saja, ya. Kakak takut ini kalau Zel tidur." Ucap Amara lagi sambil melirik di kaca spionnya dimana wajah Zeline terlihat lucu di sana.


"Ya Tak." Zeline menurut.


Amara tersenyum mendengar suara lucu keponakannya. Namun hatinya benar-benar tidak tenang saat ini.


Entah mengapa aku merasa Kakak tadi seperti mengetahui sesuatu tentang Zeline. Batin Amara tak tenang.


***