Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Perlakuan mengejutkan Aga


"Ehm." Deheman dari Aga yang sudah kembali bergabung bersama mereka membuat percakapan mereka pun terhenti.


"Aga..." Bibi Hasna menyapa Aga dengan tersenyum.


"Apa Bibi sudah lama?" Tanya Aga dengan raut wajah datarnya.


"Bibi baru saja sampai bersama Daniel." Balas Bibi Hasna yang diangguki paham oleh Aga.


"Karena Aga sudah bergabung, ayo kita makan malam lebih dulu karena pelayan sudah selesai menghidangkan makanan di meja makan." Ajak Papa Andrew lalu berdiri.


Bibi Hasna mengangguk lalu ikut berdiri diikuti yang lainnya.


"Ayo kakak ipar." Agatha memegang tangan Naina lalu menuntun Naina menuju meja makan.


"Dimana Queen? Kenapa dia tidak ikut?" Tanya Aga yang berjalan beriringan bersama Daniel menuju meja makan.


"Queen di rumahnya. Dia tidak ikut karena aku memang tidak mengajaknya." Balas Daniel dengan datar.


Aga mengangguk paham. Kedua orang pria berwajah dingin itu tak lagi berbicara hingga mereka sampai di meja makan.


"Kenapa makanmu sedikit sekali, Kak?" Tanya Agatha dengan suara pelan pada Naina yang duduk di sebelahnya. Agatha membandingkan banyaknya nasi dan lauk pauk di piring Naina dengannya yang berbeda cukup jauh.


"Naina memang makan tidak terlalu banyak sepertimu." Timpal Aga yang mendengar ucapan adiknya.


Daniel yang turut mendengar percakapan mereka pun menatap pada piring Naina yang memang berisi sedikit makanan.


Jelas saja makanannya sedikit. Apa mereka tidak bisa melihat tubuhnya itu sangat kecil dan porsi makanan itu sudah cocok untuk kebutuhan tubuhnya. Batin Daniel.


Makan malam itu pun berlangsung dalam keheningan. Namun saat makan malam itu berlangsung, Naina sama sekali merasa tidak tenang sebab Daniel selalu memperhatikannya dengan diam-diam.


Dua puluh menit berlalu, acara makan malam itu pun selesai. Setelah anggota keluarganya kembali duduk di ruang tamu, Aga pun meminta izin pada Papa Andrew dan Bibi Hasna untuk mengajak Naina duduk di luar sebentar.


"Ada apa Kakak mengajakku kemari?" Tanya Naina setelah mendaratkan tubuhnya di kursi taman samping rumah Aga.


"Maaf jika selama ini aku menyembunyikan identitasku kepadamu." Ucap Aga sambil menatap lekat pada wajah kekasihnya.


Naina terdiam. Jujur saja kebenaran tentang hidup Aga benar-benar membuatnya terkejut. Dan Naina pun sudah mendapatkan jawaban tentang apa yang mengganggu pemikirannya selama ini. Tentang Aga yang memakai mobil mewah saat menjemputnya dan para pria berbaju hitam yang terkadang datang ke rumahnya atas perintah Aga.


"Jujur saja aku cukup merasa terkejut dengan hal ini. Dan jika masih boleh berkata jujur, aku sungguh merasa kerdil berdekatan dengan Kakak saat ini." Ucap Naina dengan jujur.


Aga mengangkat wajah Naina yang tertunduk agar menatap ke arahnya. "Kau tidak boleh merasakan itu semua. Bagaimana pun juga dengan statusku, tidak ada artinya untuk hubungan kita. Dan kau tetaplah wanita istimewa yang dikirimkan Tuhan untukku. Tidak ada kata status sosial dintara kita. Karena kita semua sama di mata Tuhan dan aku yakin kau tahu itu." Ucap Aga dengan tegas. Sebelah tangannya memegang dagu Naina agar tetap menatap padanya


Naina menatap intens pada wajah Aga. Dapat ia rasakan ketulusan cinta Aga padanya. "Tapi—" Naina yang hendak bersuara pun tak lagi melanjutkan ucapannya sebab bibirnya sudah terbungkam oleh bibir Aga. Naina terbelalak sekaligus terkejut. Tidak percaya atas apa yang dilakukan Aga padanya.


Tak berbeda jauh dengan Naina yang dibuat terkejut atas sikap Aga. Seseorang yang sejak tadi memperhatikan pergerakan mereka pun nampak begitu terkejut dengan rahang mengeras menyaksikan langsung bagaimana lembutnya Aga mencium bibir wanita yang dulu sering dinikmatinya.


***


Lanjut lagi?


Vote


Komen


Likenya dulu?🙂