Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Janji untuk Zeline


"Papah..." Zeline berlari keluar dari rumahnya. Senyuman di wajah cantiknya kian melebar saat melihat sosok yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. "Papah danteng dah datang ini!" Seru Zeline sambil melompat-lompat.


Daniel tak kuasa menahan lengkungan bibirnya saat melihat riangnya putrinya. Tubuhnya pun berjongkok lalu merentangkan kedua tangannya. Dan seolah mengerti maksud Papanya, Zeline pun segera berlari ke arah Daniel lalu masuk ke dalam pelukannya.


"Papah!" Zeline mengecup kedua pipi Daniel secara bergantian.


"Putri Papa." Daniel membalas ciuman Zeline di kedua pipi bulatnya. Daniel pun berdiri sambil menggendong Zeline. "Apa anak Papa baru bangun tidur?" Tanya Daniel memperhatikan wajah bantal putrinya dan baju tidur yang dikenakan putrinya.


Kepala Zeline mengangguk. "Balu ja bangun ini." Balasnya lalu menjatuhkan wajahnya di bahu Daniel.


Daniel mengelus rambut pirang putrinya lalu melangkah ke arah rumah.


"Daniel..." Ibu tersenyum saat Daniel sudah berada di dekatnya.


Daniel membalas senyuman Ibu lalu mengulurkan tangan kanannya yang bebas untuk menyalimi Ibu.


"Apa kau tidak berangkat bekerja?" Tanya Ibu memperhatikan penampilan Daniel yang tidak mengenakan setelan jas dan celana kain.


"Tidak. Saya tidak masuk kerja hari ini, Bu. Saya baru saja pulang dari luar kota." Terang Daniel.


"Apa? Kau baru pulang dari luar kota dan langsung datang ke sini?"


Daniel mengangguk membenarkan. "Saya sudah janji dengan Zeline dan saya tidak mungkin mengingkarinya." Balas Daniel dengan tulus.


Ibu tersenyum melihat ketulusan dari ucapan Daniel. Sedangkan Naina yang berdiri di belakang Ibu nampak tertegun. Entah mengapa hatinya terasa menghangat setelah mendengar ucapan dari Daniel.


"Papah... jadi main sama Nenek kan Pah?" Tanya Zeline menagih janji Daniel.


"Iya jadi. Tapi setelah putri Papa mandi dulu ya." Ucap Daniel sambil mengelus lembut rambut putrinya.


"Ya Pah!" Balasnya begitu senang.


Tin


Tin


"Apa kau akan berangkat bekerja dengan Aga?" Tanya Ibu pada Naina.


Naina mengangguk. "Kalau begitu Nai ambil tas dulu ke kamar, Bu." Ucapnya yang diangguki oleh Ibu.


"Daniel. Kau di sini juga?" Tanya Aga saat sudah berada di depan Daniel.


Daniel mengangguk. "Aku sudah berjanji pada Zeline untuk datang pagi ini ke rumah." Terang Daniel.


"Bukankah kau baru saja kembali dari luar kota?" Aga menatap penampilan Daniel dari atas sampai bawah.


Daniel mengangguk membenarkan.


Helaan nafas Aga terdengar kasar. "Kenapa kau tidak istirahat lebih dulu baru datang ke sini?" Aga menunjukkan sisi perhatiannya.


"Karena aku sudah berjanji pada Zeline untuk datang." Tekan Daniel.


Pandangan Aga beralih pada Zeline yang nampak menempel bagai bayi koala di tubuh Daniel.


"Zeline... mau pergi sama Papa, ya?" Tangan Aga terulur mengelus rambut Zeline.


Zeline menolehkan wajahnya ke belakang. "Ya, Om. Mau pelgi main sama Papa ini. Seneng Zel tuh. Mau beli boneka juga loh sama Papah. Tapi jangan bilang Mamah ya. Malah itu nanti." Ucap Zeline dengan pelan agar Naina tak mendengarnya.


"Kak Aga, ayo berangkat." Ucap Naina mengalihkan tatapan Aga dari Zeline.


"Ayo." Balas Aga.


"Ibu, Nai berangkat dulu." Pamit Naina menyalimi Ibu. Naina pun dengan ragu mendekat kepada Zeline yang berada di gendongan Daniel. "Zeline... Mama pergi dulu." Ucapnya dengan gugup lalu mengecup pipi Zeline.


"Papa inda cium juga ini Ma?" Tanya Zeline dengan tatapan polosnya.


***


Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasih🤍🤍