Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tidak ingin terpisah


Saat keluar dari dalam kamar mandi Naina dibuat bingung karena tidak melihat keberadaan Daniel di dalam kamar. "Ke mana Daniel?" Gumamnya. Naina pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mencari keberadaan Daniel. Melihat pintu kamar putrinya yang terbuka sebagian, membuat Naina segera melangkahkan kakinya ke sana.


Di ambang pintu Naina dibuat tertegun melihat Daniel yang saat ini tengah menenangkan putrinya yang tengah menangis. Daniel terlihat begitu lembut menenangkan Zeline yang berada dalam pelukannya.


"Daniel..." lirih Naina sambil melangkah masuk.


Daniel mengarahkan pandangannya pada Naina namun tidak dengan Zeline yang terlihat semakin mempererat pelukannya di tubuh Daniel.


"Zeline terbangun?" Tanya Naina.


Daniel mengangguk. "Tiba-tiba bangun dan langsung menangis." Terang Daniel.


Naina mengangguk paham. Belum sampai setengah jam putrinya itu tidur namun sudah terbangun. Naina paham jika Zeline belum terlalu nyaman tidur di tempat baru.


"Zeline sayang... ayo sini sama Mama..." Naina mengulurkan kedua tangannya pada Zeline, namun Zeline membalas dengan gelengan kepalanya.


"Tak apa... biar aku saja..." Daniel tersenyum lembut ke arah Naina.


Naina menghela nafas panjang lalu menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.


"Papah... Zel inda mahu bobo sendili sini..." ucap Zeline sambil terisak.


"Tidak, Papa dan Mama akan menemani Zel tidur..." balas Daniel. Saat terbangun dari tidurnya tadi Zeline memang langsung menangis kencang karena merasa ketakuan berada di dalam kamarnya seorang diri.


Cukup lama Daniel berusaha menenangkan putrinya hingga akhirnya Zeline pun sudah tenang dan ingin dilepaskan.


"Mamah napa tinggal Zel sendili sini?" Tanya Zeline dengan wajah yang masih basah.


"Zel inda mahu bobo sendili, Mah..." rengeknya.


"Tidak... Nanti malam Zel akan tdiur dengan Mama dan Papa." Balas Naina.


"Janji Mah..." Zeline mengulurkan jari kelingkingnya pada Naina. Naina tersenyum lalu menautkan jari kelingkingnya di jari putrinya.


Keinginan Zeline yang tidak ingin tidur terpisah dari kedua orang tuanya membuat Daniel harus kembali bersabar untuk menyentuh istrinya. Namun Daniel tidak mempermasalahkannya karena menurutnya kebahagiaan dan keinginan putrinya lah yang lebih penting dari keinginannya.


Setelah tiga hari tinggal di rumah barunya dan Daniel, hari ini Daniel dan Naina pun sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Sesuai kesepakatan di antara mereka, Naina tetap bekerja di perusahaan Daniel hingga divisi Humas mendapatkan pengganti yang cocok untuk mengganti posisi Aga dan untuk dirinya.


"Mamah dan Papah nanti jemput Zel yah di rumah Nenek." Ucap Zeline saat mereka dalam perjalanan mengantar Zeline ke rumah Ayah dan Ibu.


Daniel tersenyum begitu pula dengan Naina. "Tentu saja, Papa dan Mama akan menjemput Zel nanti sore di rumah Nenek." Balas Daniel sambil mengelus kepala putrinya.


Setelah menempuh beberapa menit perjalan, mobil Daniel pun telah sampai di depan rumah orang tua Naina. Karena tidak ingin terlalu lama mengulur waktu, Daniel dan Naina tidak terlalu lama singgah di rumah Ibu dan Ayah dan langsung berpamitan untuk bekerja.


"Daniel... kau yakin ingin pergi bersamaku ke perusahaan?" Tanya Naina dengan ragu.


"Tentu saja. Kau adalah istriku dan sudah seharusnya aku yang mengantarkanmu pergi bekerja." Tutur Daniel.


"Tapi bagaimana dengan pendapat karyawanmu nantinya?"


"Aku tidak memperdulikannya. Dan aku tidak ingin menyembunyikan statusmu dari siapa pun juga." Tekan Daniel.


***