
Saat sudah sampai di depan ruang rawat Zeline, langkah Daniel tiba-tiba saja meragu untuk masuk ke dalam ruangan. Jiwanya yang biasanya pantang takut dengan apa saja yang ada di depannya termasuk lawan bisnisnya kini dibuat lemah saat ingin memasuki ruang rawat putrinya.
Tak ingin mengulur waktu, Daniel pun membuka pintu ruangan dengan pelan agar tak menimbulkan suara. Namun saat mendengar suara Naina yang sedang berbicara di dalam ruangan membuat Daniel menahan ganggang pintu agar tak terbuka lebar.
"Apa kepalanya masih sakit?" Tanya Naina mengelus rambut putrinya dengan sayang. Beberapa saat yang lalu Zeline sudah terbangun dari tidurnya dan langsung menangis saat merasakan sakit pada tubuhnya.
"Atit ini, Tak... Hua..." Zeline semakin menangis dengan kencang.
Naina pun mencoba menenangkan putrinya dengan memeluknya. "Sini Kakak pijat kepalanya. Sebentar lagi enggak sakit lagi kok." Naina memijat kepala putrinya dengan pelan.
Tangisan Zeline pun perlahan menyurut. "Bobo sini, Tak." Ucapnya menunjuk ranjangnya dengan air mata yang masih mengalir.
"Gak muat ini kalau Kakak ikut tidur. Kakak di sini saja ya." Ucap Naina yang dibalas Zeline dengan menggelengkan kepalanya.
"Bobo sini, Tak..." Pintanya lagi dengan menahan tangisannya.
Tak ingin putrinya terus menangis, Naina pun menuruti keinginan putrinya. Dengan hati-hati Naina ikut berbaring di atas ranjang lalu memeluk putrinya.
"Panasnya sudah turun. Semoga besok Zel sudah pulih ya." Ucap Naina lalu mengecup kening putrinya.
"Tak Mala mana? Apa nda sini juga Tak?" Tanya Zeline yang sudah mulai tenang.
"Kak Mara tadi pulang dulu ke rumah untuk mengambil keperluan Zel selama di rumah sakit. Dan sekarang masih terjebak hujan di jalan. Sebentar lagi Kak Mara juga sudah sampai di sini." Jelas Naina.
"Apa Tak Nai mau pulang juga setelah Kak Mala sampai sini?" tanya Zeline dengan mata berkaca-kaca.
Naina menggeleng. "Tentu saja tidak. Kakak akan menemani Zel di sini dan tidak akan meninggalkan Zel." Ucap Naina menenangkan putrinya.
"Sayang, Tak..." Zeline memeluk tubuh Naina yang Naina tersenyum karenanya.
"Sudah... tapi Ibu dan Ayah baru bisa kembali dua hari lagi." Balas Naina.
Zeline mengangguk dan tak lagi bersuara. Melihat itu Naina pun mengelus sayang punggung putrinya agar kembali tertidur.
"Bobo lagi ya... semoga saja setelah bangun tidur sakitnya sudah hilang." Ucap Naina yang diangguki Zeline dengan pelan.
Cukup lama Naina menidurkan Zeline kembali, setelah merasa Zeline kembali tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka, Naina pun mengecup sayang kening putrinya lalu dengan hati-hati turun dari ranjang.
Daniel yang sejak tadi memperhatikan interaksi Naina dan Zeline nampak terdiam di ambang pintu dengan perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Daniel pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan dan memilih pergi meninggalkan ruang rawat Zeline.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Amara yang sudah sampai di rumah sakit itu nampak memperhatikan gerak-gerik Daniel.
"Siapa pria itu? Kenapa dia seperti seorang pencuri saja mengintip selama itu di ruangan Zeline?" Gumam Amara sedikit curiga. "Tapi dari penampilannya tidak mungkin dia seorang pencuri. Dia terlihat sangat gagah dan berwibawa walau aku melihatnya dari belakang saja." Gumam Amara merasa bingung.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)