Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Semoga kau tidak menyadarinya


"Daniel... Semoga kau tidak akan pernah menyadari suatu kemiripan dari wajah Zeline denganmu." Ucap Naina penuh harap sambil mengelus sesuatu kemiripan yang ia maksud.


Malam semakin larut. Namun Naina masih tetap terjaga menjaga malaikat kecilnya yang semakin lelap tertidur di dalam pelukannya.


Ting


Sebuah notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya membuat Naina dengan hati-hati menyambar ponselnya yang ada di atas nakas.


"Kak Aga?" Gumam Naina membaca nama pengirim pesan.


Naina, apa kau sudah tidur?


Sebuah pesan masuk dari Aga berhasil membuat senyuman terbit di kedua sudut bibir Naina. Jemari Naina pun mulai berselancar di atas layar ponselnya membalas pesan Aga.


"Aku baru saja terbangun dari tidurku, Kak. Kenapa Kakak belum tidur?" \~send


Karena aku masih sibuk memikirkanmu.


Deg


Balasan singkat dari Aga berhasil menggertakkan dada Naina. "Apa Kak Aga menggodaku?" Naina nampak tersenyum malu dengan pesan singkat pria dingin yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu.


Apa kau sudah kembali melanjutkan tidurmu?


Pesan dari Aga pun kembali masuk setelah beberapa menit Naina hanya diam sambil menghayati perasaan apa yang kini ia rasakan.


"Belum, Kak."


Tidurlah. Aku juga akan tidur. Tidak baik untuk kesehatanmu jika terlalu lama begadang.


"Baiklah, Kak."


Tidurlah dengan nyenyak. Semoga mimpi indah. Aku mencintaimu.


Balasan pesan terakhir dari Aga benar-benar membuat dada Naina menghangat.


"Maafkan aku, Kak. Jika suatu saat nanti aku mengecewakan Kakak." Naina menghela nafas panjang. Wajahnya yang cerah mendapat ungkapan cinta dari Aga redup begitu saja saat menyadari jika ia masih menyimpan sebuah rahasia besar pada Aga yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu.


"Bolehkah aku bersikap egois? Jika saat waktu itu tiba dan Kakak mengetahui fakta yang sebenarnya dan Kakak akan tetap mau menyayangiku dan Zeline?" Naina menatap pada langit-langit kamarnya. Berdoa dengan penuh harap agar harapan barunya setelah bersama dengan Aga dapat terwujud.


*


"Amara... Kau ingin kemana pagi-pagi begini?" Naina yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dibuat terkejut melihat adiknya yang sudah nampak rapi dengan pakaian bepergiannya.


"Pagi ini Mara ada urusan penting di kampus dengan teman Mara di kampus, Kak. Dan Mara harus berangkat pagi-pagi sekali agar dapat menemuinya. Karena dia adalah orang yang sangat sibuk." Jelas Amara.


"Urusan penting apa? Bukankah kau hanya tinggal wisuda saja?" Naina nampak bingung mendengar penjelasan adiknya.


"Mara akan menjelaskannya kapan-kapan, Kak. Sekarang Mara berangkat dulu!" Amara menyambar tangan Naina lalu segera berlalu dari hadapan Naina.


"Anak itu aneh sekali..." Kepala Naina menggeleng melihat sikap aneh adiknya hari ini.


"Adikmu sudah berangkat, Nai?" Tanya Ibu yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Naina mengangguk. "Amara baru saja berangkat, Bu."


Ibu mengangguk paham. "Ayo sarapan dulu." Ajak Ibu yang diangguki oleh Naina.


Setelah sarapan pagi dan berpamitan pada Ayah dan Ibunya dan tak lupa menitipkan Zeline yang masih tertidur, Naina pun segera berangkat menuju perusahaan Alexander menggunakan motor kesayanyannya.


Saat terjebak macet di lampu merah, Naina yang sejak tadi merasakan seperti ada seseorang yang memperhatikannya pun menolehkan kepalanya ke arah kiri dimana sebuah mobil mewah bewarna hitam berada di samping motornya.


Tak lama memandang pada mobil yang berada di sampingnya, Naina dibuat terkejut saat kaca jendela mobil perlahan diturunkan dan Naina dapat melihat dengan jelas siapakah sosok yang sejak tadi memperhatikannya.


***


Komen, vote dan likenye dulu baru lanjut lagi deh.