Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Takut mereka akan kecewa


"Kak Aga..." Naina menatap wajah Aga dengan intens. Bibirnya sedikit terbuka dan masih basah oleh perlakuan Aga.


"Maafkan aku..." Aga mengelap bibir Naina yang basah dengan jemarinya. "Jangan lagi berbicara yang akan memberatkan hati dan pikiranmu." Tutur Aga dengan lembut.


Naina terdiam tanpa menjawab ucapan Aga. Hati dan pikirannya dibuat kacau akibat perlakuan Aga baru saja.


*Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang hatiku rasakan saat ini. Namun aku harus mengungkapkan kebenaran tentang statusku saat ini sebelum Kak Aga berharap terlalu jauh padaku. *Batin Naina.


"Naina... apa kau marah?" Tanya Aga karena Naina hanya diam saja.


Naina menggeleng. "Kak Aga... Sebenarnya ada satu hal penting yang ingin aku katakan kepada Kakak." Ucap Naina setelah membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan kebenarannya pada Aga.


"Kau ingin bebicara apa?" Tanya Aga menatap intens wajah Naina.


"Sebenarnya aku—"


"Kak Aga... Kak Naina..." Suara Agatha yang terdengar mendekat ke arah mereka membuat ucapan Naina terhenti.


"Ada apa Agatha?" Tanya Aga pada adiknya.


"Tante Hasna dan Kak Daniel ingin pulang. Mereka ingin berpamitan pada Kakak dan Kakak Ipar." Jelas Agatha.


"Baiklah." Aga berdiri dari duduknya. "Kita bisa menlanjutkan ceritanya lain hari. Ayo." Ajak Aga membantu Naina untuk berdiri.


"Tapi..." Naina yang hendak protes pun menghentikan niatnya kerena Aga sudah menggenggam tangannya lalu berjalan.


*Kak Aga... Aku belum selesai berbicara... *Naina membatin. Niatnya yang sudah terkumpul itu terpaksa pupus sudah karena Aga lebih memilih menemui Bibi Hasna dan Daniel.


"Aga... Bibi pamit pulang dulu. Lain kali Bibi akan kembali mengunjungimu ke sini." Ucap Bibi Hasna sambil mengelus lengan Aga.


Aga mengangguk. "Terimakasih sudah datang, Bibi." Balas Aga.


Aga yang mendengarkannya langsung mengangguk. "Aku akan menjaga wanita titipan Tuhan ini dengan baik, Bibi." Ucap Aga dengan serius.


Bibi Hasna tersenyum. "Kau memang pria yang bisa diandalkan." Bibi Hasna memeluk keponakannya barang sejenak. Pandangannya pun beralih pada Naina. "Bibi senang karena Aga memilihmu. Karena Bibi bisa merasakan jika kau adalah wanita yang tepat untuk mendampingi keponakan Bibi dalam menjalani kehidupannya untuk selanjutnya." Ucap Bibi Hasna dengan tulus. Bibi Hasna pun memeluk Naina cukup lama.


Mendapatkan pelukan dari Bibi Hasna membuat dada Naina terasa menghangat.


*Bibi... Kau wanita yang tulus dan baik... Suatu saat nanti Zel pasti akan bangga memiliki nenek sepertimu. Namun aku tidak bisa menjamin denganmu yang mungkin akan kecewa atas kehadiran Zeline yang lahir dari rahimku. *Naina mulai berkaca-kaca dalam pelukan Bibi Hasna.


Daniel menatap dengan pandangan penuh arti pada Mama dan mantan kekasihnya yang sedang berpelukan itu.


Setelah cukup lama berpelukan, Mama Hasna pun melepaskan pelukannya. "Bibi pulang dulu. Lain kali Bibi harap kau bisa berkunjung ke rumah Bibi bersama Aga." Ucap Bibi Hasna penuh harap.


Naina mengangguk dengan ragu.


*Kenapa aku harus berada disekitar keluarga Daniel. *


Di satu sisi ia sangat senang mendapatkan perlakuan baik dari keluarga Aga dan Daniel, namun di satu sisi lain Naina menyimpan rasa takut jika suatu saat nanti kedua keluarga itu kecewa akan dirinya yang sudah memiliki seorang anak di luar nikah bersama Daniel.


***


Lanjut? Kasih semangat dulu yuk dengan cara


Vote


Like


Dan komennya😮‍💨