Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Banyak Tak dateng


Sore itu di ruangan rawat Zeline nampak dipenuhi oleh kedatangan Aga, Sasa, Dimas dan Thoriq yang baru saja pulang dari bekerja.


"Bagaimana keadaan Zel sekarang, Nai?" Tanya Sasa pada Naina.


"Keadaannya sudah mulai membaik. Dan panasnya juga sudah turun. Jika besok keadaannya semakin membaik, sore harinya Zel sudah boleh pulang." Balas Naina tersenyum.


"Syukurlah..." Ucap Sasa, Dimas dan Thoriq hampir berbarengan.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Aga pada Naina setalah melihat makanan di atas meja masih terlihat utuh.


"Aku akan makan sebentar lagi, Kak." Balas Naina yang mengerti arah tatapan Aga.


"Makanlah. Apa kau ingin turut dirawat di rumah sakit seperti Zeline?" Tanya Aga dengan datar namun Naina dapat menangkap rasa perhatian dari kekasihnya itu.


"Kak Aga benar, Nai. Lebih baik kau makan dulu. Lagi pula ada kami di sini yang menjaga Zel selama kau makan." Ucap Sasa.


"Baiklah." Balas Naina tak ingin membantah.


Aga pun berdiri lalu mengambil makanan Naina.


"Kak Aga..." Naina pun tak dapat menghalangi pergerakan Aga karena Aga telah mengambilnya.


"Duduk di sana saja. Aku akan menemanimu makan." Ajak Aga menunjuk pada kursi kosong di sudut ruangan.


Naina mengangguk lalu mengikuti langkah Aga.


"Apa Kakak sudah makan?" Tanya Naina setelah mendaratkan bokongnya di kursi.


"Aku akan makan nanti malam di rumah" Balas Aga yang diangguki paham oleh Naina. "Ayo makanlah." Ucap Aga yang diangguki oleh Naina.


Selama memakan makanannya Naina nampak dibuat begitu canggung sebab Aga terus memperhatikan wajahnya tanpa henti.


"Lihatlah tatapan Aga... Aga terlihat benar-benar mencintai Naina." Bisik Sasa di telinga Dimas.


Dimas mengangguk membenarkan. "Mereka pasangan yang serasi." Balas Dimas yang turut merasa senang melihat hubungan Naina dan Aga.


"Kau benar. Aku sangat ingin memiliki pasangan seperti Aga. Sudah kaya, tampan, perhatian pula." Ucap Sasa.


"Ishh... kau ini bicara apa? Aku tidak ingin denganmu. Bisa-bisa aku selalu naik darah jika menjadi pasanganmu nantinya." Ucap Sasa mendelik. Bagaimana tidak, kesehariannya dan Dimas selalu saja diwarnai keributan.


Dimas yang mendengarkan jawaban Sasa sontak menyentil kening Sasa. "Kau belum menjalaninya tapi kau sudah berpikir yang tidak-tidak." Balasnya menggeleng.


"Napa libut sih, Tak?" Ucap Zeline yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Eh..." Sasa dibuat terkejut saat melihat mata Zeline yang sudah terbuka.


"Hai cantik... kau sudah bangun..." Ucap Thoriq yang duduk di samping ranjang Zeline lalu mengelus rambut Zeline.


"Dah... Libut ini... Zel jadi bangun." Ucapnya sambil mengucek kedua matanya.


"Maaf ya cantik..." Sasa merasa bersalah sebab telah membuat Zel terbangun.


"Nda apa Tak... Zel mau minum ini..." Ucapnya.


Sasa pun segera memberikan minum pada Zeline sedangkan Dimas membantu Zeline untuk duduk.


"Tak Nai makan itu... Tak nda makan?" Tanya Zeline dengan polosnya pada Sasa.


"Tidak... Kakak akan makan di rumah nanti." Balas Sasa.


"Emh Tak..." Zeline nampak ragu ingin berbicara.


"Ada apa?" Tanya Sasa merasa bingung.


"Banyak Tatak danteng sini. Zel jadi malu ini..." Ucapnya dengan malu-malu sambil menatap pada wajah Thoriq dan Dimas.


"Oh astaga... kau mengatai mereka berdua ganteng?" Tanya Sasa.


Zeline mengangguk membernarkan. "Danteng semua." Ucapnya lagi dengan mata berkedip-kedip.


***


Lanjut lagi kalau votenya, komen dan likenya banyak ya🥴