
Di malam yang sama namun dengan suasana berbeda, Naina terlihat mengembangkan senyumannya saat Aga datang membawakan secangkir teh hangat untuknya.
"Kak Aga, terimakasih." Ucap Naina menerima teh dari tangan Aga.
Aga tersenyum. "Minumlah. Cuaca malam ini sangat dingin." Titah Aga.
Naina menurutinya. "Teh buatan Kakak selalu enak." Puji Naina. Meletakkan kembali gelas di tangannya di atas wadahnya.
"Kau terlalu berlebihan. Aku hanya membuatkan teh hangat tapi kau sudah sesenang ini." Aga melebarkan senyumannya. Mengelus lembut poni Naina yang nampak hampir menutupi wajahnya.
"Walau pun hanya secangkir teh, namun aku tidak berbohong jika teh buatan Kakak sangat enak." Puji Naina lagi.
"Terimakasih. Lain kali jangan memujiku karena pujian itu seharusnya tertuju padamu." Balas Aga.
"Kepadaku? Memangnya aku melakukan apa?" Tanya Naina.
"Kau sudah membuatku dapat tersenyum setiap harinya. Aku selalu berterimakasih padamu untuk itu." Jelas Aga.
Naina melebarkan senyumannya. "Kakak terlalu berlebihan." Balasnya menirukan ucapan Aga.
"Aku hanya berlebihan jika itu tentangmu."
Naina tersenyum. Namun dalam hatinya ada perasaan bersalah yang semakin menghimpit dadanya.
Suasana di taman samping rumah Aga malam itu Aga dan Naina lewati dengan bercerita satu sama lain.
"Jadi kapan kau akan mengakui status alsimu di depan Zeline?" Tanya Aga.
Naina terdiam. Senyuman di wajahnya perlahan luntur setelah mendengarkan pertanyaan Aga.
"Aku belum dapat memastikannya, Kak. Namun aku akan mengatakannya secepatnya." Balas Naina.
"Walau pun berat, namun kau harus tetap mengatakannya sebelum terlambat." Pesan Aga.
Naina mengangguk paham.
"Naina..." Aga memegang salah satu pundak Naina hingga Naina memiringkan tubuhnya dan menatap ke padanya.
"Apa kau sudah bertemu dengan ayah dari anakmu?" Tanya Aga.
Naina tersentak. Mengingat ia belum memberitahukan siapakah jati ayah kandung dari Zeline pada Aga membuat Naina merasa awas.
Naina mengangguk walau tak yakin. "Aku sudah bertemu dengannya beberapa minggu belakangan ini, Kak." Balas Naina tak seutuhnya berbohong. Karena pada kenyataannya ia memang bertemu dan berbicara dengan Daniel dalam waktu beberapa minggu belakangan ini.
Kali ini Aga yang dibuat terdiam. Pandangannya menatap penuh wajah Naina yang terlihat sendu. "Apa pria itu mau bertanggung jawab atas Zeline?" Aga berucap pelan. Namun pandangannya tak putus dari wajah Naina.
Naina menganggukkan kepalanya. "Bertanggung jawab atas Zeline bukan pada diriku." jelas Naina tak ingin Aga salah paham.
Aga mengangguk paham. "Zeline masih bisa mendapatkan kasih sayang dariku walau hanya sebagai ayah sambungnya." Ucap Aga.
Naina kembali tertegun. Dapat ia lihat jika Aga benar-benar menyayangi putrinya walau Aga tahu jika Zeline adalah anak dari hasil masa lalunya.
"Untuk lamaran Kakak waktu itu..." Naina meragu untuk mengucapkannya. Sungguh ia belum benar-benar siap menjawab lamaran Aga.
"Tidak perlu menjawabnya jika kau belum siap. Aku masih tetap menunggumu sampai kau benar-benar yakin dengan keputusanmu." Ucap Aga. Membelai lembut rambut Naina yang tergerai.
Bukannya tersenyum, wajah Naina justru terlihat bersalah.
"Bagaimana kalau minggu besok kita ajak Zeline pergi liburan? Sepertinya akan menyenangkan membawa Zeline bermain di kota B. Kebetulan di sana ada Villa milik keluargaku dan kita bisa memakainya selama berada di sana." Ucap Aga mengalihkan kesedihan yang nampak jelas tercetak di wajah Naina.
"Minggu besok?" Tanya Naina memastikan.
Aga mengangguk. "Kau juga bisa membawa adikmu ikut pergi dengan kita."
***
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku,
^ Bukan Sekedar Menikahi ^
Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗