
"Zeline.. putri Papa..." Daniel memeluk erat tubuh Zeline seakan tak ingin melepaskannya. Air matanya semakin mengalir dengan deras tanpa henti.
Daniel memejamkan kedua matanya. Menikmati hangatnya pelukan putrinya yang kini sudah mengetahui siapakah dirinya yang selama ini sangat ia nantikan.
Cukup lama Daniel dan Zeline berpelukan hingga akhirnta Zeline melerai pelukan mereka. "Papa Niel benal Papa Zel?" Tanya Zeline dengan wajah yang sudah basah.
Daniel mengangguk lalu mencium kening putrinya. "Zel adalah anak Papa."
"Anak Mama Nai juga?" Tanya Zeline dan diangguki oleh Daniel.
"Hua..." Zeline kembali memeluk erat tubuh Daniel. "Kenapa bisa jadi Papa Zel? Papa Niel kan tidak mengandung Zel, Zel tidak ada di dalam pelut Papa Niel." Tanya Zeline di dalam pelukan Daniel.
Daniel terdiam. Ia benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan putrinya yang seperti menjebaknya.
"Zeline... lihat Mama..." Naina memegang pundak Zelin agar menatapnya.
Zeline kembali melerai pelukannya. "Mama Nai?" Ucap Zeline lalu kembali menangis kencang.
Naina mengambil alih tubuh putrinya lalu memeluknya erat. Tangan Naina terulur mengelus lembut rambut putrinya. Naina sangat paham saat ini Zeline masih bingung atas apa yang terjadi.
"Apa Zel senang jika Mama dan Papa Niel adalah orang tua kandung Zel?" Tanya Naina mengalihkan pertanyaan Zeline yang tidak dapat mereka jawab.
Zeline mengangguk. "Mama Nai... inda Tak Nai..." ucap Zeline di dalam pelukan Naina.
Hati Naina kembali menghangat mendengar panggilan Mama yang keluar dari bibir mungil putrinya.
"Kenapa Zel senang?" Tanya Naina. Air matanya kembali mengalir deras.
"Inda tahu. Senang ja. Papa Niel danteng gitu Zel seneng." Jawabnya tanpa beban.
Naina menghela nafas panjang. Entah mengapa putrinya itu sangat mengidolakan sosok Daniel begitu dalam. Naina mengalihkan pandangannya pada Daniel yang kini sedang menghapus air mata yang membasahi pipinya. Jujur saja Naina tidak menyangka jika pria berkuasa seperti Daniel bisa menangis seperti ini.
Untuk saat ini sudah cukup Zeline mengetahui jika aku dan Daniel adalah kedua orang tuanya. Aku harap dengan berjalannya waktu Zel tidak akan bingung lagi atas apa yang dialaminya. Batin Naina penuh harap.
"Mama Nai..." Zeline mengelus pipi Naina saat mobil sudah berhenti di depan rumah.
"Anak Mamah..." Naina tersenyum. Menempelkan telapak tangannya di tangan mungil putrinya.
"Ayo turun." Ajak Daniel dengan lembut.
Naina mengalihkan wajah ke samping lalu mengangguk.
"Papah Niel..." ucap Zeline saat Daniel hendak membuka pintu mobil.
Daniel menolehkan wajahnya pada putrinya yang kini menatapnya. "Ada apa princess?" Tanya Daniel.
"Zel mau ndong." Ucapnya sedikit tidak jelas.
Daniel terdiam beberapa saat mencerna ucapan putrinya lalu mengangguk setelah mengerti. Daniel pun keluar dari dalam mobil lalu memutarinya.
"Ayo gendong sama Papa." Ucap Daniel mengambil tubuh Zeline di pangkuan Naina.
"Papah Niel..." ucap Zeline dengan wajah sendunya. Tangannya terulur mengelus pipi Daniel. "Dantengnya..." ucapnya lalu mengecup pipi Daniel.
Daniel tersenyum. "Mulai saat ini kegantengan Papa hanya untuk Zel." Ucap Daniel lalu membalas mengecup kedua pipi Zeline.
"Untuk Zel saja? Mama Nai inda?" Tanyanya dengan kening mengkerut.
Daniel terdiam. Menatap wajah Naina yang kini menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
***
Yuk berikan vote, gift dan komennya untuk lanjut ke bab berikutnya🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi.