Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Apa yang menganggu tidurnya?


"Tatak... mangun..."


Tengah malam, Naina yang masih terlelap nyaman dalam tidurnya harus terbangun sebab mendapatkan gangguan kecil dari putrinya yang terus menepuk wajahnya.


"Zeline... ada apa? Kenapa bangun di jam segini?" Suara Naina terdengar serak. Matanya pun nampak merah menatap pada putrinya yang kini duduk di sampingnya.


"Zel takut ini... inda mau bobo..." suara Zeline mulai terdengar parau. Walau pun masih samar-samar, namun Naina dapat melihat wajah putrinya yang ingin menangis.


Naina pun mendudukkan tubuhnya. Menatap pada putrinya yang benar ingin menangis.


"Hua..." Zeline pun akhirnya menangis. Membuat Naina yang melihatnya mulai panik.


"Zeline... ada apa? Kenapa menangis?" Naina mendekap tubuh putrinya berusaha menenangkannya.


"Takut ini... inda mau bobo..." ucapnya di sela tangisannya.


"Tumben sekali Zel bangun di malam hari seperti ini..." Naina terus mengelus punggung putrinya agar kembali tenang.


"Hua..." Zeline masih terus menangis. Entah apa yang membuatnya menangis tanpa sebab seperti itu.


"Zeline... jangan menangis... ada Kakak Nai di sini... ayo minum dulu..." Naina pun menyerahkan segelas minuman yang biasa ia siapkan di atas nakas pada Zeline.


Cukup lama Naina mencoba menenangkan putrinya yang tiba-tiba saja menangis dan ketakutan itu.


"Bobo lagi ya... Kakak akan memeluk Zeline..." Naina kembali membaringkan tubuh Zeline di atas ranjang lalu memeluknya erat.


Zeline hanya menurut namun tetap menangis. Matanya nampak sudah mulai tertutup dengan isakan kecil yang masih keluar dari bibir mungilnya.


Naina terus berusaha membuat Zeline agar kembali tertidur. Lima belas menit berlalu, isakan dari bibir mungil Zeline pun sudah mulai berkurang. Naina menatap wajah putrinya yang sudah mulai lelap dengan wajah yang masih basah.


"Sebenarnya ada apa dengan Zel? Kenapa tiba-tiba saja dia seperti ini?" Gumam Naina lalu mengecup sayang kening putrinya.


"Tak Niel..." gumaman kecil yang keluar dari mulut mungil Zeline membuat tubuh Naina menegang. Naina menajamkan pendengarannya. Dan lagi-lagi Zeline kembali bergumam dengan kata yang sama. "Tak Niel..." gumamnya lagi dengan suara yang semakin pelan.


Daniel? Naina menatap tak percaya pada wajah putrinya. Apa benar Zeline baru saja memanggil nama ayahnya? Apakah sesuatu hal yang membuat gadis kecilnya itu merasa tidak tenang dalam tidurnya itu penyebabnya adalah Daniel? Ayah kandungnya? Mengingat mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu.


"Dantengna Tak Niel..." Racaunya lagi dengan tangan yang sudah bertengger di pipi Naina.


Naina membiarkan apa yang dilakukan putrinya. Namun hati dan pikirannya semakin tidak tenang setelah mendengar racauan dari bibir mungil gadis kecilnya.


*


Di sebuah kamar yang sangat luas, seorang pria tampan tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya dengan nafas yang naik turun.


"Zeline..." gumamnya menyebutkan satu nama yang mulai mengisi hati dan pemikirannya. "Kenapa aku bisa memimpikan Zeline? Apa anakku baik-baik saja?" Perasaan pria itu tiba-tiba saja tidak tenang. Padahal ia baru saja tidur dua jam yang lalu setelah cukup lama membayangkan setiap pertemuannya dengan Zeline— anak kandungnya. Dan saat ini ia harus kembali terjaga sebab wajah polos Zeline dan berbagai tingkah lucunya masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


"Apa aku begitu ingin berdekatan dengannya sehingga di dalam mimpi pun aku sangat mengharapkan kehadirannya?" Gumam pria itu yang tak lain adalah Daniel.


Daniel pun segera menyambar ponselnya yang ada di atas nakas lalu memperhatikan dengan sendu wajah putrinya yang sedang bermain di teras rumah orang tua Naina yang kini menjadi foto walpaper ponselnya.


***


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Hanya Sekedar menikahi (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)