Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Ketakutan yang terpendam


"Naina... apa kau yakin akan mengatakan yang sebenarnya pada Aga?" tanya Ibu memastikan kembali ucapan Naina beberapa saat yang lalu.


Naina mengangguk membenarkan. "Nai tidak bisa berlama-lama hidup dalam kebohongan ibu, Bu. Apa pun keputusan Kak Aga nantinya Nai akan menerimanya dengan lapang dada. Lagi pula Nai tidak ingin Kak Aga terlalu dalam mencintai wanita kotor seperti Nai, Bu." Wajah Naina tertunduk. Ia merasa sangat kerdil dengan kenyataan buruk yang pernah menghampirinya.


"Jika kau tidak percaya diri seperti ini, lalu untuk apa sejak awal kau menerima tawaran Aga untuk menjadi kekasihnya, Nai? Jangan membohongi Ibu. Ibu tahu kau tidak benar-benar mencintai Aga bukan? Ibu dapat melihatnya dengan jelas dari sikap dan tatapan matamu, Nai..." Ibu menggenggam tangan Naina. Seolah menguatkan Naina jika dia tak sendiri menghadapi hidup ini. "Ada Ayah, Ibu dan Amara yang selalu mendukung segala keputusanmu. Ibu harap kau dapat berkata dengan jujur." Ucap Ibu sambil mengelus punggung tangan putrinya.


Naina menghela nafasnya yang kian memberat. Rasanya sangat ingin ia mengeluarkan rasa takut yang ia rasakan saat ini dengan memekik sekuat-kuatnya. Hembusan nafasnya kian melambat. Naina menatap pada wanita yang telah melahirkannya. Tatap wanita di depannya saat ini benar-benar tulus. Naina sangat tahu jika Ibu benar-benar menyayanginya walau pun setelah mengetahui kejadian buruk yang menimpanya dan sudah membuat aib untuk keluarganya.


"Ibu..." Naina akhirnya menangis. Sekuat tenaga ia menahan agar suara tangisannya tidak sampai terdengar oleh putri kecilnya yang sedang bermain bersama Ayah dan Amara di luar kamar.


"Katakan Nai... Katakan alasan apa yang membuatmu menerima cinta Aga? Ibu sangat tahu jika kau benar-benar menjaga dirimu agar tidak jatuh pada pria mana pun. Dan Ibu juga tahu jika saat ini kau tidak sepenuhnya memberikan hatimu pada nak Aga." Sebelah tangan Ibu terangkat. Ibu menghapus air mata yang membanjiri wajah putrinya dengan jari jempolnya.


"Itu semua Nai lakukan karena Nai sangat takut jika Ayah kandung Zeline berusaha merebut Zeline dari sisi Nai. Dan Nai sangat takut jika pria itu berniat buruk pada Zeline. Dia tidak mengharapkan kehadiran Zeline yang terlahir dari rahim Nai, Bu... Wanita bodoh dan cupu seperti Nai..."


Naina pun menceritakan apa yang ia dengar dari obrolan Daniel dan ketiga sahabatnya di dalam cafe waktu itu pada ibunya. Air matanya kembali luruh lanta mengingat kejadian menyakitkan itu. Ibu sampai menutup mulutnya. Tak percaya jika Ayah kandung Zeline berniat menggugurkannya bahkan di saat ia belum mengetahui kehadiran Zeline di dalam rahim putrinya.


"Nai sangat takut, Bu... Ketakutan Nai pun semakin bertambah semenjak Nai mengetahui Ayah Zeline adalah pemimpin perusahaan di tempat Nai bekerja." Ucap Naina yang membuat Ibu benar-benar terkejut mendengarnya. Naina pun turut menceritakan saat pertemuan pertama kalinya Daniel dan Zeline. Bagaimana tatapan pria itu pada Zeline dan kejadian terakhir kalinya di acara pertunangan Daniel saat pria itu mencecarnya dengan berbagai tuduhan di kamar mandi.


Ibu menggeleng tak percaya. Air mata Ibu pun turut menetes saat mendengarkan cerita putrinya. Ibu benar-benar tak menyangka jika selama ini Naina menyimpan ketakutannya seorang diri. Ingatan Ibu pun berputar pada kejadian beberapa waktu yang lalu di saat ia dan Zeline bertemu dengan seorang pria yang ibu yakini adalah Ayah kandung Zeline.


"Apakah ayah kandung dari Zeline adalah pria yang menemui Ibu waktu itu dan nama pria itu adalah Daniel?" Tanya Ibu sambil menatap putrinya dengan tatapan iba.


***