
"Ibu... ada apa denganmu?" Tanya Ayah saat melihat istrinya hanya termenung sejak tadi masuk ke dalam kamar. "Bu..." Ayah pun menepuk bahu istrinya karena Ibu hanya diam saja.
"Eh. Ayah? Ada apa?" Tanya Ibu.
"Ada apa? Kenapa Ibu terlihat memikirkan sesuatu?" Tanya Ayah dengan wajah serius.
"Ibu hanya sedang memikirkan Nai, Ayah." Balas Ibu dengan jujur.
"Memikirkan Nai? Memangnya ada apa?" Tanya Ayah merasa bingung.
"Ayah... bukankah sudah terlalu lama kita sangat menantikan jawaban dari Naina siapakah Ayah kandung dari Zeline?" Ibu memiringkan tubuhnya. Menatap suaminya dengan tatapan serius.
"Kenapa Ibu berbicara seperti itu? Bukankah kita sudah sepakat tidak akan membahasnya sampai Naina siap dan Naina sendiri yang akan menyampaikannya langsung pada kita."
"Tapi Ibu rasa Ibu sudah menemukan jawaban atas apa yang ingin kita ketahui itu, Ayah."
"Maksud Ibu?" Ayah menatap istrinya bingung.
"Tadi sore, di saat Ibu sedang membeli martabak dengan Zeline, ada seorang pria yang tiba-tiba saja menghampiri kami."
"Lalu?"
"Pria itu mengaku adalah teman kerja dari Naina. Namun dari penampilannya, Ibu rasa dia bukanlah hanya sekedar karyawan biasa seperti Naina. Namun Ibu pura-pura mempercayainya saja."
Ibu menarik nafas panjang. Ayah pun masih setia menunggu kelanjutan ucapan istrinya.
"Pria itu berkata jika dia hanya ingin menemui Zeline karena tidak sengaja melihat Zeline saat dia melintas. Dari tatapan matanya pada Zeline, Ibu dapat melihat dan merasakan jika dia sangat menyayangi Zeline."
"Pria itu tidak memiliki kemiripan di wajah dengan Zeline." Ucapan Ibu seolah mengerti tebakan Ayah.
"Lalu kenapa Ibu terlihat sangat memikirkannya?"
"Mereka memang tidak memiliki kemiripan di wajah karena wajah Zel sangat mirip dengan wajah Naina. Namun... Ayah tidak melupakan bukan, jika ada satu yang berbeda dari mereka?"
Ayah mengangguk. Satu hal yang tidak mirip dengan keluarganya memang membuat hati Ayah dan Ibu tidak tenang selama ini.
"Dan yang tidak mirip diantara Nai dan Zeline ada di pria itu." Ucap Ibu yang membuat Ayah benar-benar terkejut.
"A-apa?" Kepal Ayah dibuat menggeleng.
"Warna mata mereka sangat mirip. Dan tatapan Zel juga sama seperti tatapan pria itu saat melihat Zel dengan penuh kasih sayang. Ibu tidak bisa berkata dengan yakin jika dia adalah ayah kandung dari Zel. Namun hati Ibu tak dapat menyangkalnya. Mata mereka benar-benar mirip. Dan baru pria itu yang baru Ibu temui memiliki warna mata yang sama dengan warna mata Zel."
"Apa benar dia adalah Ayah kandung Zel?" Wajah Ayah terlihat marah. Kedua tangannya pun mulai mengepal. "Apakah dia adalah pria yang sudah merusak masa depan putri kita Ibu?" Nada suara Ayah semakin berat. Ibu dapat merasakan kemarahan suaminya saat ini.
"Ayah... tenanglah..." Ibu mengelus lengan suaminya. "Ibu tidak bisa memastikannya jika bukan Naina yang mengungkapkan kebenarannya. Bisa jadi dugaan Ibu salah." Ucap Ibu kemudian.
Ibu dan Ayah pun terdiam sesaat dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Sampai saat ini Ibu juga masih bertanya-tanya bagaimana mungkin putri kita yang lugu dan polos seperti Naina bisa menjalin hubungan dengan seorang pria hingga menghasilkan Zeline di dunia ini." Ibu kembali angkat bicara setelah cukup lama terdiam.
***
Lanjut? Berikan vote, komen dan likenya dulu ya😉