Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Berat melepaskannya


"Hai Jel..." sapa Farhan dengan tersenyum jenaka.


"Jel?" Zeline berkacak pinggang.


"Jelin..." timpal Fahri yang turut tersenyum jenaka pada Zeline.


"Papah..." Zeline mulai merengek pada Daniel.


Daniel menggelengkan kepalanya menatap kedua keponakannya. "Bukankah sudah Paman katakan syarat wajib kalian bisa ikut?" Ucap Daniel dengan tegas.


Farhan dan Fahri seketika memasang wajah seriusnya. "Kami ingat Paman." Balas mereka hampir bersamaan.


"Bagus. Kalau begitu jangan lagi menggoda adik kalian." Ucap Daniel dan diangguki Farhan dan Fahri.


"Lasain itu..." Zeline tertawa sambil menjulurkan lidahnya pada Farhan dan Fahri. "Papah..." Zeline mengulurkan kedua tangannya pada Daniel meminta digendong. Paham dengan keinginan putrinya, Daniel segera mengangkat Zeline dan menggendongnya.


"Daniel, kau sudah datang?" Ucap Naina saat sudah berada di teras rumah.


Daniel menatap wajah polos Naina yang tidak dipolesi make up namun entah mengapa terlihat sangat cantik di matanya. "Aku baru saja sampai." Balas Daniel kemudia.


Naina mengangguk paham. "Apa kau ingin langsung membawa Zel pergi?" Naina memasang wajah keberatannya.


"Ya, agar tidak terlalu malam sampai di rumahku nantinya."


"Emh..." Naina menatap Zeline yang nampak tak keberatan meninggalkannya. "Zeline... jangan nakal di rumah Papah nanti dan jangan pergi tanpa izin." Pesan Naina sambil mengelus rambut Zeline.


Zeline menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Zel akan jadi anak baik Mah." Balas Zeline.


"Apa kau keberatan aku membawa Zeline?" Tanya Daniel yang dapat menangkap kesedihan Naina.


"Ti-tidak. Tapi jangan terlalu lama membawa Zeline jauh dariku." Ucap Naina.


Daniel tersenyum lalu mengangguk. "Aku hanya membawanya tidur semalam di rumahku bukan satu minggu." Kelakar Daniel.


Naina tersenyum kaku.


"Apa Ayah dan Ibu tidak ada?" Tanya Daniel sambil menatap ke dalam rumah.


Naina menggeleng. "Ibu dan Ayah sedang berada di rumah tetangga."


"Oh..."


"Apa kau ingin masuk dulu?" Tawar Naina.


Daniel menggeleng. "Aku langsung pulang saja. Sepertinya cuaca juga sedikit buruk." Ucap Daniel sambil mengarahkan pandangannya pada langit.


"Baiklah kalau begitu."


"Mamah... Zel pelgi bobo tempat Papah dulu yah... Mamah inda mau ikut ini?"


"Tidak... Mama di rumah saja..." Naina mengelus kepala Zeline.


"Ya deh. Dadah Mamah, kasian Mama bobo sendili itu malam ni." Zeline tertawa kecil dengan polosnya.


"Kau ini..." Naina mengelus gemas rambut putrinya.


Setelah cukup berpamitan, Daniel pun akhirnya membawa Zeline masuk ke dalam mobilnya.


"Zeline... apa kau tidak ingin duduk di belakang saja?" Tawar Farhan yang baru duduk di kursi belakang.


"Inda. Zel sini ja dekat Papah." Tolak Zeline.


"Inda?" Farhan dan Fahri tertawa kecil. "Maksudmu tidak?" Ledek Fahri.


"Papah..." Zeline mulai merengek pada Daniel.


"Farhan... Fahri..." Daniel menekan ucapannya.


Farhan dan Fahri pun seketika menghentikan tawa mereka dan tak lagi berniat menggoda Zeline.


Daniel segera melajukan mobilnya saat merasa ponakan dan putrinya sudah tenang duduk di posisi masing-masing. Selama dalam perjalanan menuju rumahnya Zeline selalu bertanya tentang apa saja yang dilihatnya dan membuatnya penasaran.


Empat puluh lima menit berlalu, akhirnya mobil yang dikendarai Daniel pun sampai di rumahnya.


"Ini rumah Papah?" Tanya Zeline sambil menatap mewahnya rumah di depannya.


"Tidak... ini rumah Nenek dan Kakek." Balas Daniel.


"Rumah Papah juga ini." Protes Zeline.


Daniel mengangguk saja lalu menggendong Zeline masuk ke dalam rumahnya.


"Kenapa lumah Papah besal sekali?" tanya Zeline dengan polosnya.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️