Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Sebuah petunjuk kebenaran


Daniel menatap layar ponsel lamanya yang baru saja ia ambil dari dalam lemari pakaiannya dengan tatapan yang tak terbaca. Ratusan foto saat ia masih kuliah di dalam negeri dulu masih tersimpan di penyimpanan internalnya.


Jemarinya terus menggeser setiap foto yang membuat wajahnya menampilkan ekspresi yang berbeda-beda. Daniel menarik bibir ke samping saat melihat videonya dan ketiga sahabatnya sedang bertanding di acara kampus menjadi pusat perhatian para wanita yang memang menjadikan mereka sebagai idola terlebih dirinya.


Hingga beberapa saat usapan jari jempolnya terhenti saat sebuah foto yang menampilkan wajah tampannya dan seorang wanita berkaca mata tebal membuat pandangannya kini terisi penuh dengan foto itu.


"Naina..." Daniel tersenyum sinis saat menyebutkan nama wanita yang berada di sebelah fotonya itu. Hanya satu buah foto yang masih ia simpan saat Naina menginap di apartemennya setelah mereka melakukan percintaan yang cukup panjang waktu itu.


"Wanita lugu dan polos seperti dirimu berani-beraninya mengabaikan pesanku begitu saja." Wajah Daniel berubah dingin saat mengatakannya. Ingatan-ingatan masa lalu tentang malam panasnya dan Naina mulai memenuhi benaknya.


Daniel mematikan layar ponsel lamanya. Meletakkan kembali ponsel itu ke dalam lemari dan menguncinya rapat. Seakan Daniel sangat takut jika seseorang berniat mengambil ponselnya dan mencuri pandang isi dalam ponselnya.


"Kau tidak akan bisa lari dariku, Naina." Gumam Daniel entah dengan maksud apa.


*


Tengah malam Naina nampak terjaga dari mimpi buruknya. Nafasnya terdengar tersengal-sengal. Keringat dingin pun terlihat membasahi pelipisnya. Zeline yang merasakan pergerakan Naina pun ikut terbangun. Mata putri kecil Naina itu nampak merah sambil menatap pada Ibu yang ia ketahui adalah kakaknya.


"Tak... Napa mangun, Tak?" Tanya Zeline sambil mengucek kedua matanya yang berat.


"Daniel..." Satu nama yang membuat mimpinya menjadi buruk itu pun keluar dari bibir mungil Naina. Naina masih terlihat diam di posisinya tanpa mendengarkan pertanyaan Zeline putrinya.


"Tak..." Suara Zeline kembali terdengar. Wajah Zeline nampak bingung melihat kakaknya yang hanya diam sambil menatap lurus ke depan. "Tak..." Lagi-lagi Zeline berusaha menyadarkan Naina dengan mengguncang lengan kecil Naina.


"Zeline... Ada apa? Kenapa Zel bangun?" Tanya Naina sedikit terkejut melihat kedua mata putrinya sudah terbuka bahkan kini sudah duduk di sebelahnya. Akibat memikirkan sosok yang ada di dalam mimpinya membuat Naina tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


"Maafkan Kakak, Zel..." Naina segera menghidupkan lampu kamarnya hingga Ia dapat melihat wajah putrinya dengan jelas. "Masih ngantuk, kan? Ayo tidur lagi." Ucap Naina sambil mengelus kepala Zeline.


"Nanti Tak nda mangun lagi?" Tanya Zeline memastikan.


Naina menggeleng. "Kakak akan tidur dan bangun jika sudah pagi." Balas Naina menenangkan putrinya. "Ayo tidur lagi." Dengan lembut Naina pun membaringkan tubuh Zeline di atas ranjang.


"Peluk, Tak..." Pinta Zeline sambil mendekatkan tubuhnya pada Naina.


"Iya... Ayo..." Ucap Naina lalu memeluk erat putrinya.


Setelah Zeline kembali terlelap, ingatan Naina pun kembali pada mimpi buruknya tadi. Wajah Naina seketika menegang karena melupakan sesuatu yang menjadi petunjuk siapakah Zeline yang sebenarnya.


****


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺