
"Tak Nai itu..." ucap Zeline sambil menunjuk ke arah Naina.
"Naina..." lirih Daniel.
"Zeline..." ucap Naina lagi lalu berjalan mendekat ke arah Zeline dan Daniel.
"Tak Nai, Tak Niel main sini juga loh!" Adu Zeline sambil menunjuk Daniel.
Naina tak langsung merespon ucapan Zeline. Pandangannya kini beralih menatap wajah Daniel yang nampak tegang melihat kedatangannya.
"Kenapa Zel pergi tidak bilang-bilang?" tanya Naina setelah mengalihkan pandangannya dari Daniel.
"Ikut Bibi tadi itu. Bibi bawa es klim masuk sini." Balas Zeline.
"Tapi kenapa tidak berpamitan? Apa Zel tahu Kakak sangat khawatir Zel hilang begitu saja?" Naina menampilkan wajah cemasnya.
Zeline tertunduk. "Maaf Zel Tak Nai. Zel tapek juga jalan tadi." Ucapnya tertunduk takut.
Naina menghela nafas panjang. Tangannya pun terulur mengelus rambut pirang putrinya. "Lain kali jangan begitu lagi oke?" Ucap Naina.
Zeline mengangkat kepalanya. Menatap Naina yang kini sedang tersenyum kepadanya. "Oke." Balasnya pelan.
"Zeline..." Suara Amara pun terdengar cemas saat sudah berada di dekat Zeline. "Kau ini selalu saja menghilang." Ucap Amara menatap cemas pada keponakannya.
Zeline menggaruk kepalanya. Padahal waktu di rumah ia sudah berjanji pada Amara tidak akan hilang dan sekarang ia mengingkarinya.
"Daniel?" Berbeda dengan Naina dan Amara yang lebih dulu memanggil nama Zeline, Aga justru memanggil nama sepupunya sebab terkejut melihat keberadaan Daniel.
"Kak Aga..." Balas Daniel sambil tersenyum tipis.
"Kau di sini juga?" Tanya Aga.
Daniel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sudah berapa lama?" Tanya Aga.
"Sudah hampir dua minggu." Balas Daniel.
"Bukankah seminggu yang lalu kau ada di mansion?" Tanya Aga.
"Aku hanya pulang sehari dan kembali lagi ke sini." Jelas Daniel.
"Tak Aga kenal Tak Niel juga?" Tanya Zeline yang sejak tadi hanya menjadi pendengar percakapan mereka.
Aga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kak Daniel adalah sepupu Kak Aga." Jelas Aga.
"Oh..." Kepala Zeline mengangguk walau tak paham. "Sama dantengnya, ya?" Puji Zeline sambil menatap Aga dan Daniel bergantian.
"Uhuk." Amara hampir saja tersedak mendengar ucapan keponakannya yang suka sembarangan bicara. Namun tak bisa Amara pungkiri jika Daniel dan Aga memang sangatlah tampan.
"Danteng gini Zel suka." Ucapnya lagi malu-malu.
"Zeline, kau ini bicara apa?" Merasa malu dengan ucapan Zeline, Amara pun melototkan kedua matanya pada Zeline.
"Danteng sepelti Tak Mala bilang ini." Ucap Zeline tanpa rasa takut dengan pelototan mata Amara.
Amara menggelengkan kepalanya. "Diamlah. Kau selalu sembarangan bicara." Balas Amara lalu menaruh jari telunjuk di bibir agar Zeline tak lagi berbicara.
Naina menggelengkan kepalanya. "Zeline, ayo sini sama Kakak. Kak Daniel keberatan itu memangku Zel." Ucap Naina lalu mengulurkan kedua tangannya pada Zeline.
Zeline menggelengkan kepalanya. "Inda mahu. Zel sama Tak Niel aja main sini." Tolak Zeline.
"Zeline..." ucap Naina tertahan.
"Indah mahu, Tak... Main sama Tak Niel aja sini." Zeline pun membenamkan tubuhnya di dada bidang Daniel.
Naina menghela nafas panjang. Jika dipaksakan putrinya itu pasti akan menangis.
Dari tempatnya berdiri, Aga memperhatikan interaksi Naina, Daniel dan Zeline dengan pandangan tak terbaca.
"Ehem..." Deheman Aga berhasil membuat Naina dan Daniel menatap ke arah Aga yang saat ini menatap dingin pada mereka.
"Daniel, aku lihat kau dan Zeline sangat akrab. Sejak kapan kau dan Zeline berkenalan?" tanya Aga dengan tatapan yang semakin dingin pada Daniel.
***
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi.
Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗