
"Tak Nai ini?" Ucap Zeline sambil mengelus foto Naina.
Naina mengangguk. "Perut Mama terlihat buncit bukan?" Tanya Naina yang diangguki oleh Zeline. "Di dalam perut buncit Mama ini, ada Zeline di dalamnya." Meletakkan jari mungil Zeline di foto perutnya.
"Ada Zel? Zel masuk pelut Tak Nai ini!" Kening Zeline mengkerut.
"Sebelum Zel ada di dunia, Zel lebih dulu ada di perut Mama..."
Zeline mengangkat kepalanya. Menatap wajah Naina dengan wajah polosnya yang nampak bingung. "Inda boleh nangis..." ucapnya sambil menghapus air mata di wajah Naina dengan tangan mungilnya.
Naina tersenyum. Tangannya menggeser layar ponselnya hingga kini menunjukkan foto saat ia berada di ruang persalinan dan Foto Zeline saat sudah lahir ke dunia.
"Zel lihat ini? Bayi kecil ini adalah Zel yang baru lahir ke dunia. Dan Mamalah yang melahirkan Zel ke dunia ini..." Naina semakin tak dapat menahan laju air matanya. Mengingat bagaimana dulu dirinya dengan susah payah melahirkan Zeline tanpa sosok Daniel di sampingnya membuat dadanya sesak.
"Naina..." lirih Daniel dengan mata berkaca-kaca. Tak berbeda dengan Naina, dada Daniel pun kian sesak saat membayangkan betapa susahnya sosok mungil yang ada di foto itu melahirkan anaknya ke dunia.
Maafkan aku Naina... Ucap Daniel dalam hati.
"Inda Ibu yang lahilkan Zel?" Tanya Zeline. Wajahnya masih nampak bingung.
Naina menggeleng. "Bukan... Mama yang melahirkan Zel ke dunia ini..." Naina memeluk erat tubuh Zeline. Menumpahkan rasa sakitnya selama ini di dalam pelukan putrinya.
"Hua...." melihat Naina yang menangis membuat Zeline ikut menangis. "Zel inda dali dalam pelut Ibu.... Zel dali pelut Tak Nai." Zeline membalas pelukan Naina dengan erat.
Daniel turut meneteskan air matanya. Rasa bersalah semakin menghimpit dadanya. Tangan Daniel dengan ragu terulur mengelus punggung Naina untuk menenangkannya.
Naina melepaskan pelukannya. Menatap wajah putrinya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan Mama selama ini tidak jujur kepada Zel... Zeline adalah anak Mama, bukan anak Ibu..." ucap Naina dengan sedikit tergagap.
"Zel bukan anak ibu? Anak Tak Nai?" Tanya Zeline.
Naina mengangguk. "Mulai sekarang Zel memanggil Ibu dan Ayah dengan sebutan Nenek dan Kakek. Bukan lagi Ibu dan Ayah." Ucap Naina dengan lembut.
"Tak Mala?" Tanya Zeline mengingat Amara.
"Nty Mala?" Ulang Zeline yang diangguki Naina.
"Tak Nai? Mama Nai?" Tanya Zeline dengan air mata mengalir di pipinya.
Anggukan kepala Naina melemah. "Mama... bukan Kakak." Ucap Naina mengelus lembut rambut putrinya.
"Mamah..." Zeline memeluk erat tubuh Naina. Walau pun belum begitu paham atas apa yang terjadi, namun Zeline cukup paham jika ia lahir dari dalam rahim Naina bukanlah dari rahim Ibu yang kini ia sebut dengan Nenek.
Naina dan Zeline pun semakin larut dalam tangisan mereka.
Terimakasih Tuhan... akhirnya anakku memanggilku dengan sebutan Mama... Ucap Naina dalam hati sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Zeline.
"Mamah..." Ucap Zeline setelah pelukan mereka terlepas. Tangan mungilnya kembali terulur menghapus air mata di pipi Naina. "Apa Zel inda punya Papah?" Tanya Zeline.
Naina menggeleng. "Zel memiliki Mamah dan juga Papah..." balas Naina dengan tersenyum.
"Punya Papah juga? Mana Papah Zel?" Tanya Zeline.
Naina mengarahkan wajahnya ke arah Daniel hingga Zeline pun turut mengikuti arah pandangan Naina.
"Kak Daniel adalah Papa Zeline..." ucap Naina dengan bibir bergetar.
"Papah Niel?" Ucap Zeline pada Daniel yang diangguki oleh Daniel. "Papah Niel... hua...." Zeline menghambur ke dalam pelukan Daniel hingga membuat Daniel tak dapat lagi menahan tangisannya agar tidak keluar.
***
Lanjut lagi?🥲
Berikat vote, gift dan komen terbaik untuk kelurga kecil Daniel dan Naina dulu yuk🥲