
"Lebih baik Kakak dan Kak Daniel mengganti pakaian dan istirahat di kamar sambil menunggu Kak Aga dan Zeline kembali. Karena jika gadis centil itu telah kembali dapat dipastikan Kakak tidak bisa istirahat dengan tenang." Ucap Amara.
Naina menghela nafas panjang bersamaan dengan rasa cemasnya yang surut karena mengetahui putrinya tengah bersama Aga. Naina pun membenarkan ucapan Amara jika ia lebih baik istirahat lebih dulu. Terlebih saat ini tubuhnya sudah sangat lelah setelah seharian menjamu tamu. Tapi... Naina pun teringat jika kini ia telah menikah dengan Daniel dan tentu saja Daniel pasti akan ikut tidur di kamar yang sama dengannya.
Pandangan Naina perlahan tertuju pada wajah Daniel yang terlihat tengah menatapnya hingga membuatnya sedikit terkejut. "Da-daniel... apa kau ingin istirahat?" Tanya Naina.
Daniel menganggukkan kepalanya. "Jika kau tidak nyaman, aku bisa istirahat di sini saja." Balas Daniel seolah paham isi pemikiran Naina.
Naina dengan cepat menggeleng. "Tidak, tidak, kau bisa ikut bersamaku untuk tidur di kamarku. Lagi pula kau sekarang adalah suamiku. Sudah sewajarnya kau tidur bersamaku." Ucap Naina tak ingin Daniel salah paham.
Amara dan Agatha seketika tertawa kecil mendengarkan percakapan sepasang suami istri di depannya.
"Naina, Daniel, kenapa belum masuk ke dalam kamar?" Tanya Ibu yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Nai menanyakan keberadaan Zeline dulu, Bu." Balas Naina.
"Oh... Zel masih dibawa pergi oleh Aga. Lebih baik sekarang bawa Daniel masuk ke kamar untuk istirahat sebentar." Tutur Ibu.
Naina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu memberikan tatapan isyarat pada Daniel agar mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Kakakmu dan Kak Daniel sungguh lucu, ya." Agatha tertawa kecil melihat sikap malu-malu sekaligus canggung diantara Naina dan Daniel.
Amara menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Agatha. "Wajar saja mereka sudah lama tidak bersama." Balas Amara.
"Kau benar..." ucap Agatha dengan terus tertawa.
*
Suasana di dalam kamar Naina nampak canggung saat Daniel sudah menutup rapat pintu kamar dan tak lupa menguncinya.
"Kenapa kau mengunci pintunya?" Tanya Naina tanpa berani menatap Daniel yang kini berdiri di depannya.
Naina mengangkat wajahnya hingga kini wajahnya bersitatap dengan Daniel.
"Emh... kau benar. Kalau begitu aku ingin ganti baju lebih dulu." Naina hendak melangkah namun tangan Daniel tiba-tiba memegang lengannya hingga membuat langkahnya terhenti. "A-ada apa?" Tanya Naina sedikit terbata.
"Apa kau masih canggung berada dekat denganku?" Tanya Daniel dengan lembut.
Naina tanpa sadar menganggukkan kepalanya hingga membuat Daniel tersenyum tipis.
"Jika kau masih canggung kau bisa mengurangi rasa canggungmu dengan cara sering berinteraksi denganku." Tutur Daniel.
Naina tertunduk. Ia sungguh merasa tak enak hati pada Daniel yang sudah memperlihatkan ketulusannya pdanya. "Maafkan aku... aku belum terbiasa dengan keberadaanmu di dekatku kembali." Balas Naina dengan jujur.
Daniel tersenyum. Ia tak merasa sakit hati mendengar jawaban istrinya. "Aku mengerti. Aku harap dengan berjalannya wakyu kau tak lagi canggung ketika berada di dekatku." Tangan Daniel terulur mengusap punggung Naina hingga membuat darah Naina berdesir.
"Da-daniel..." Naina semakin dibuat gugup dengan usap tangan Daniel di punggungnya.
"Masuklah ke kamar mandi dan ganti bajumu. Aku akan menunggu di sini." Daniel menghentikan usapannya di punggung Naina berganti dengan usapan jari jempolnya di kening Naina.
"Da-daniel..."
***
Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).
Terimakasih☺️