
Langkah kakinya terlihat meragu mendekati meja kerja Daniel. Semakin langkahnya mendeket pada Daniel, makan semakin jelas pula ia dapat melihat wajah yang kini sedang fokus bekerja itu terlihat tampan dari segi mana pun.
"Ini laporan yang anda minta, Tuan." Ucap Naina dengan nada formal setelah berada di depan meja Daniel. Jantungnya berdetak begitu cepat bersaan dengan Daniel yang mulai mengangkat wajahnya menatap kepadanya.
Cukup lama Daniel menatap dengan intens wajah Naina yang kini ada di depannya. Pandangannya kini terisi penuh oleh wanita masa lalunya yang terlihat semakin cantik walau pun tubuhnya tidak terlalu tinggi.
Bagaimana bisa dengan tubuhnya yang kecil ini dia sudah memiliki anak? Aku yakin dulu setiap harinya dia begitu kesusahan menggendong tubuh Zeline. Sedangkan membawa tubuhnya berjalan saja dia cukup ceroboh. Apa lagi membawa Zel bersamanya. Daniel masih larut dalam pemikirannya. Tidak menyadari jika saat ini Naina begitu gugup dipandangan olehnya seperti itu.
Naina pun berdehem untuk membuat Daniel menghentikan tatapan matanya darinya saat merasa kondisi tubuh dan jantungnya berkerja dengan tidak baik berada di dekat Daniel.
"Tuan, kalau begitu saya pamit keluar dulu." Ucap Naina.
Daniel tak menghiraukannya. Pria itu justru mengusap hidungnya dengan jari jempolnya.
"Permisi, Tuan." Naina kembali angkat bicara walau tanpa dihiraukan oleh Daniel. Naina membalikkan tubuhnya. Kakinya pun kembali melangkah hendak keluar dari dalam ruangan Presdir. Namun usahanya itu sia-sia sebab sebuah tangan kini sudah mencekal tangannya membuat Naina membalikkan tubuhnya.
"Tuan apa yang—" ucapn Naina terputus sebab Daniel sudah lebih dulu berbicara.
"Maaf. Anda sepertinya salah bicara. Saya bahkan selalu ada di perusahaan jika sedang dalam jam bekerja." Naina berusaha menjawab walau pun jantungnya tidak bisa diajak bekerja sama saat ini. Tangan Daniel yang kini masih mencekal tangannya membuat Naina dapat merasakan bagaimana lembutnya tangan pria itu bahkan lebih lembut dari tangannya. Tangan kekar yang dulu sering membuatnya melayang dan terbuai akan indahnya dunia.
Daniel nampak menarik tipis bibirnya ke samping. "Kau tidak perlu gugup begitu. Bukankah dulu kita sudah biasa berada di posisi ini bahkan lebih intim?" Daniel merapatkan tubuhnya. Mengikis jarak diantara mereka.
"Apa yang anda lakukan! Dan jangan berbicara omong kosong!" Entah keberanian dari mana, Naina pun berhasil berbicara dengan nada membentak pada pria di depannya. Namun kemudian matanya seketika terpejam saat merasa tak sanggup menatap kedua mata Daniel yang kini tengah menatapnya.
"Aku rasa kau tidak sepikun itu melupakan hari-hari panas kita dulu." Mengelus pinggang Naina lalu naik ke punggungnya. Jemarinya mulai menari dengan lihat di sana.
Tubuh Naina dibuat menegang olehnya. "Apa yang anda lakukan Tuan! Anda sungguh kurang ajar kepada saya!" Naina mencoba memberontak. Namun tubuhnya sudah terkunci oleh Daniel hingga ia tak dapat berkutik.
"Jangan berbicara meninggi seperti itu kepadaku!" Daniel mencengkram pinggang Naina dengan kuat. Tak lama melepaskannya lalu kembali mengelusnya. "Kau terlalu berbicara formal, Naina. Tidak perlu formal begitu karena hanya ada aku dan kau di ruangan ini." Suara Daniel terdengar mulai menurun. Ia dapat merasakan tubuh Naina yang menegang namun sedikit bergetar saat ini. "Aku lebih menyukai suara desahanmu saat berada di bawa kungkunganku dibandingkan suara meninggimu sat ini." Daniel memberanikan tangannya menyingkirkan beberapa helai rambut Naina yang kini menutupi wajahnya.
***
Berikan dukungan vote, komen dan likenya dulu ya baru lanjut🤗