Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Suka menghilang


Zeline menjatuhkan wajahnya di pundak Daniel. "Ayo blangkat." Pintanya tak ingin mengundur waktu untuk berenang.


Daniel melebarkan senyumannya walau sebelah sudut bibirnya terasa sakit. "Ayo." Balasnya lalu berjalan masuk ke dalam villa.


Saat sudah berada di luar villa, Daniel mengedarkan pandangannya mencari letak sendal Zeline.


"Cali apa Tak?" Tanya Zeline yang turut mengikuti arah pandangan Daniel.


"Sendal Zel. Kenapa tidak ada? Apa Zel tidak memakai sendal ke sini tadi?" Tanya Daniel.


Zeline menggelengkan kepalanya. "Pakai kok Tak. Itu sendal Zel!" Tunjuknya pada sendal jepit yang ada di bawah tangga.


Daniel membulatkan kedua matanya. "Zel memakai sendal besar itu berjalan ke sini tadi?" Tanya Daniel.


Kepala Zeline mengangguk. "Pakai itu saja. Sendal Zel inda ketemu tadi." Adunya.


"Astaga..." Daniel berucap lirih. Tidak bisa ia bayangkan betapa lucunya putrinya memakai sendal yang ukurannya jauh lebih besar dari kaki putrinya.


"Bawa itu Tak. Sendal Bibi di villa sana itu. Nanti Bibi cali lagi."


Daniel mengangguk mengiyakan ucapan putrinya lalu mengambil sendal jepit itu lalu menentengnya.


"Dah. Ayo blangkat!" Ucapnya lalu mengeratkan pelukannya di leher Daniel.


Daniel tak dapat menyurutkan senyumannya. Berada sedekat ini dengan putrinya benar-benar membuat perasaanya menghangat.


Papa sangat menyayangimu.


Daniel hanya bisa berucap dalam hati. Saat ini tidak ada sesuatu yang bisa membuat hatinya lebih bahagia selain melihat senyum di wajah putrinya.


*


"Zeline..." wajah Naina nampak cemas saat melihat Zeline yang berada di dalam gendongan Daniel tengah berjalan ke arahnya.


"Kau kemana saja? Kakak sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Naina yang nampak menahan tangisannya.


"Pelgi main tempat Tak Niel saja kok." Balasnya apa adanya.


"Zeline..." Naina menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak habis pikir putrinya pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya untuk kedua kalinya. Bahkan kali ini hampir membuatnya menangis kencang saat terbangun dari tidurnya tidak melihat keberadaan putrinya di sisinya.


"Apa kau tahu Kakak sangat mencemaskanmu?" Tanya Naina dengan suara yang mulai serak.


"Inda tahu Tak. Napa cemas Tak? Zel main tempat Tak Niel saja kok." Balasnya lagi dengan wajah bingung.


Naina menggelengkan kepalanya lalu mengela nafas panjang. Putrinya ini benar-benar sudah berubah setelah kenal dengan ayahnya. Zeline bahkan tak terlihat bersalah telah membuatnya cemas.


Tak lama suara Amara pun terdengar kencang. "Zeline... kau dari mana saja?" Tanya Amara dengan nafas naik turun. Bagaimana tidak, ia baru saja berlari mengelilingi villa mencari keberadaan Zeline.


"Inda kemana-mana Tak. Main tempat Tak Niel saja kok. Kenapa semua olang jdi mencali Zel sih?" Tanyanya dengan wajah bingung.


"Astaga Zeline..." Amara menggeram. Lagi pula kenapa ia tidak berpikir jik Zeline pergi ke villa Daniel tadi. "Setelah ini Kakak akan mengikat kakimu agar kau tidak pergi sesuka hatimu." Ucap Amara merasa gemas dengan sikap keponakannya yang suka menghilang.


"Inda mahu! Ikat kaki Zel inda bisa jalan nanti" Berangnya. Bibirnya nampak maju beberapa centi.


"Ehem." Deheman dari Aga membuat mereka mengalihkan pandangan pada Aga yang kini sudah berada di belakang Daniel.


"Tak Aga..." Zeline melebarkan senyumannya pada Aga hingga wajah dingin Aga berubah sedikit hangat.


"Cali Zel juga ya?" tanyanya dengan mata berkedip-kedip tanpa merasa bersalah telah membuat semua orang panik karenanya.


***


Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi☺️