Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Menerimamu apa adanya


"Ku mohon jangan lagi menangis." Aga memeluk tubuh Naina. Hatinya turut merasakan kesedihan yang Naina rasakan saat ini.


"Jika Kakak ingin memutuskan hubungan ini sekarang juga, aku tak masalah. Karena sejak awal aku memang tidak pantas menjadi kekasih dari pria sebaik Kakak." Ucap Naina sedikit terbata.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Dan berhentilah mengatakan jika aku akan meninggalkanmu karena aku tidak akan melepaskanmu hanya karena keadaan masa lalumu. Aku mengenalmu setelah cerita masa lalumu usai. Dan aku menerimamu apa adanya dirimu saat ini. Aku sangat mencintaimu, Naina. Dan aku juga menyayangi Zeline. Aku akan belajar menerima keadaan ini dan begitu pula aku harapkan kepadamu." Aga semakin mengeratkan pelukannya pada Naina. Seolah mengatakan jika perasaannya saat ini baik-baik saja walau pun ia merasa kecewa dan sangat terkejut.


Naina membalas pelukan Aga yang membuat hatinya semakin tenang. Ia sangat beruntung mendapatkan pria seperti Aga yang mau menerima kekurangannya yang begitu buruk.


Cukup lama Aga kembali menenangkan Naina yang masih terus menangis. Jarum jam pun terus beputar ke arah kanan. Sudah saatnya ia mengantarkan Naina kembali ke rumahnya. Walau pun pembahasan mereka belum selesai sepenuhnya, namun Aga tak memaksakan Naina harus menjawab segala pertanyaannya untuk saat ini.


"Sudah saatnya kau pulang. Ayo berdiri. Aku akan mengantarkanmu pulang" Ajak Aga lalu menghapus air mata di wajah Naina.


Naina mengangguk tanpa bersuara. Kakinya pun melangkah pelan mengikuti langkah Aga. Aga terus berjalan keluar dari dalam rumahnya dengan tatapan lurus ke depan dan sebelah tangannya memegang erat tangan Naina.


Perjalanan menuju rumah naina pun mereka lewati tanpa adanya pembicaraan di dalam mobil. Hingga beberapa menit berlalu, mobil pun telah sampa di depan rumah orang tua Naina.


"Naina... untuk pertanyaanku yang tadi di taman, aku akan menunggumu menjawabnya sampai perasaanmu benar-benar tenang dan yakin. Dan harap kau tidak lagi memikirkan hal yang membuat hatimu semakin terluka. Dan satu yang harus kau ingat, jika aku tidak akan melepaskan permata yang sudah ada di depan mataku. Kau adalah bintang hatiku, dan aku akan selalu menyayangi dan mencintaimu apapun keadaanmu." Ucap Aga. Tangan Aga pun terulur mengelus rambut panjang Naina.


"Keluarlah. Aku akan mengabarimu jika sudah sampai di rumah." Ucap Aga lalu mengecup kening Naina.


Naina mengangguk. "Terimakasih untuk segala kebaikan Kakak. Aku keluar dulu." Pamit Naina yang diangguki oleh Aga. Naina pun keluar dari dalam mobil Aga dengan langkah lesu.


"Naina. Kau sudah pulang?" Ibu yang sejak tadi menunggu kepulangan putrinya di ruang tamu memasang wajah khawatir saat melihat wajah sembab putrinya.


"I-ibu..." melihat wajah wanita yang telah melahirkannya, membuat air mata Naina pun kembali luruh.


"Naina..." Ibu berdiri lalu mendekat ke arah Naina yang masih berdiri di depan pintu.


Naina pun buru-buru menghambur ke dalam pelukan ibunya dan menumpahkan sesak di dadanya.


"Hust... jangan menangis." Bak seperti anak kecil, ibu pun terus menenangi putrinya.


Naina menghapus air matanya lalu menatap sendu pada wajah ibunya.


"Kita masuk ke dalam kamarmu saja, ya." Ajak Ibu yang diangguki oleh Naina.


"Kakak... kenapa Kakak menangis?" Amara yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dibuat terkejut melihat Naina yang nampak menangis dalam diam.


***