
Aga pun telah kembali dengan segelas air putih di tangannya. Walau pun kecewa, namun Aga tetap mementingkan keadaan kekasihnya yang nampak tertekan saat ini.
"Ayo diminum dulu." Ucap Aga sambil menyerahkan segelas air putih ke hadapan Naina.
Naina menerimanya. Meneguk sedikit air minum yang diberikan Aga. Aga menjatuhkan bokongnya di samping Naina. Menatap lurus ke depan dengan tatapan tak terbaca.
Aga menolehkan wajahnya ke samping. Menatap pada wajah Naina yang kini tertunduk. "Apa kau sudah lebih tenang?" Tanya Aga dengan lembut.
Naina mengangkat wajahnya. "Kak Aga, aku—"
"Bisakah kita untuk berbicara lebih tenang?" Pungkas Aga sambil mengelus rambut Naina untuk menenangkannya.
Naina mengangguk. Hatinya sedikit lega mendengar ucapan Aga.
"Apa kau benar tidak ingin mengatakan siapa pria yang telah merusakmu?" Tanya Aga dengan lembut. Namun sebelah tangannya yang bebas terkepal erat membayangkan siapakah pria yang telah merenggut kehormatan kekasihnya.
Naina menggeleng lemah. "Maafkan aku, Kak. Maaf untuk saat ini aku tidak bisa mengatakannya." Lirihnya. Lagi pula Naina tidak ingin Aga mengetahui fakta besar jika sepupunya lah yang merenggut kehormatannya. Naina sungguh tidak ingin merusak hubungan keluarga diantara mereka karena dirinya.
Aga membuang nafasnya kasar di udara. "Aku tak akan memaksamu mengatakannya sampai kau siap." Ucap Aga berusaha tenang. Ingatan Aga pun tertuju pada perkataan Naina yang mengatakan jika ia sudah memiliki seorang anak. "Apakah benar jika kau sudah memiliki seorang anak dari pria itu?" Tanya Aga dengan menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Kenyataan apa lagi ini yang harus ia ketahui? Rasanya ia benar-benar tidak percaya.
"Benar. Aku sudah memiliki seorang putri dari hasil perbuatan dosaku di masa lalu." Balas Naina dengan wajah sendu. Mengingat putri kecilnya di rumah membuat Naina tak dapat menahan laju air matanya.
"Putri? Lalu dimana dia?" Aga memegang kedua bahu Naina. Menghadapkan tubuh wanita itu ke arahnya.
"Dia selalu ada di rumah kedua orang tuaku." Balas Naina.
"Selalu ada di rumah orang tuamu? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Kening Aga mengkerut.
Tubuh Aga menegang. Entah mengapa pemikirannya langsung tertuju pada sosok kecil yang selalu membuatnya tak dapat menahan senyumannya saat melihatnya.
"Apakah dia—" Aga berusaha menebak. Namun ucapannya terputus karena Naina ucapan Naina.
"Kakak benar. Zeline. Zeline adalah anak kandungku. Dan dia bukanlah adikku." Ucap Naina lalu kembali tertunduk.
Pegangan tangan Aga di bahunya perlahan melemah. Tangan Aga terjatuh begitu saja. Aga mengusap kasar wajahnya. Kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya saat merasa dadanya kian sesak.
"Zeline anakku. Anak yang lahir dari rahim wanita bodoh seperti diriku. Tapi putri kecilku tidak bersalah karena ia lahir bukan dari ikatan sebuah pernikahan. Dia hanyalah korban dari kesalahan di masa laluku yang kejam." Naina memeluk tubuhnya seakan-akan sedang memeluk putri kecilnya yang mungkin saat ini sudah tertidur di rumah.
"Maafkan aku yang terlalu buruk untuk pria seperti Kakak. Dan bukan hanya kepada Kakak, aku juga Ibu yang buruk untuk anak kandungku Zeline. Bahkan aku sangat pengecut karena sampai saat ini tidak berani memberitahukan status asli Zeline jika dia adalah anakku, bukan adikku. Aku benar-benar berdosa."
***
Jangan lupa berikan dukungan dengan cara gift, vote, like dan komennya yah.
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)