
Setelah cukup lama menangis di dalam pelukan Aga, gadis itu pun melepaskan pelukannya. "Apakah wanita ini adalah kakak iparku?" Tanyanya sambil menatap pada Naina.
Aga mengangguk tanpa bersuara.
"Oh Kakak iparku... Kau sangat cantik..." Gadis itu memeluk Naina barang sejenak. "Perkenalkan namaku Agatha. Adik kesayangannya Kak Aga." Ucapnya dengan riang.
"Perkenalkan namaku Naina." Ucap Naina sambil tersenyum.
Agatha tersenyum. "Aku tidak menyangka jika Kakakku sangat pintar memilih pasangan. Kau sangat cantik dan kelihatannya juga baik." Ucap Agatha melebarkan senyumannya.
"Kau terlalu berlebihan..." Ucap Naina begitu sungkan.
"Dia tidak berlebihan. Yang dikatakannya itu benar. Karena kau memang sangat cantik dan juga baik." Timpal Aga.
Blush
Mendengar pujian Aga berhasil membuat rona merah menyembul di kedua pipi Naina.
"Kau sangat lucu sekali..." Agatha dibuat gemas melihat Naina yang malu-malu.
Tap
Tap
Suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka membuat pandangan mereka teralihkan ke sumber suara.
"Aga... Kau sudah datang?" Ucap seorang pria paruh baya yang kini sudah berada dekat dengan mereka. Tatapan pria paruh baya itu terlihat penuh kerinduan pada putra sematawayangnya.
"Papa..." Aga tak kalah menatap pria paruh baya itu dengan tatapan penuh kerinduan.
Perlahan namun pasti, dua pria berbeda generasi itu pun saling berpelukan satu sama lain.
"Papa sangat merindukanmu, nak..." Suara pria paruh baya itu terdengar berat.
"Aku juga sangat merindukan Papa..." Balas Aga sambil mengelus punggung Papanya.
"Apa wanita ini yang akan kau perkenalkan pada Papa?" Tanya Papa Aga yang diangguki oleh Aga.
Naina pun mendekat pada Papa Aga lalu mengulurkan tangannya. "Nama saya Naina, Paman..." Ucap Naina dengan sopan.
Papa Aga menerima uluran tangan Naina lalu mengangguk. "Ayo duduk dulu." Ajak Papa Aga yang diangguki oleh Aga dan Naina.
*Aku tidak menyangka jika Kak Aga mau memperkenalkanku dengan keluarganya*. Dan aku sungguh tidak menyangka jika Kak Aga bukanlah orang yang sembarangan. Batin Naina sambil mengikuti langkah Aga menuju sofa. Naina pun merasa tidak percaya diri dengan dirinya yang sangat sederhana itu diperkenalkan dengan keluarga Aga yang dapat dipastikan derajatnya sangatlah jauh dengan keluarganya. Namun Naina cukup bersyukur karena ayah dan adik Aga mau menerima kedatangannya dengan baik.
"Kau belum mengganti pakaian kerjamu Aga?" Tanya Papa Andrew.
Aga mengangguk. "Aku akan mengganti pakaianku lebih dulu." Aga bangkit dari duduknya. "Agatha... Tolong temani Naina di sini." Ucap Aga pada Agatha yang diangguki oleh Agatha dengan cepat.
"Apa Bibi Hasna jadi datang ke sini Pa?" Tanya Agatha pada Papa Andrew.
"Mereka sedang dalam perjalanan ke sini." Balas Papa Andrew yang diangguki paham oleh Agatha. "Papa ke belakang dulu untuk menemui pelayan. Kau temanilah Kakak iparmu di sini dulu sambil menunggu kedatangan Bibi Hasna." Ucap Papa Andrew kemudian bangkit dari duduknya.
Setelah kepergian Papa Andrew, Agatha pun mulai mendekatkan tubuhnya pada Naina. "Apa kau tahu, Kak, kalau aku sangat senang karena kehadiran Kakak membuat Kak Aga mau kembali ke rumah ini." Ucap Agatha dengan nada sendu pada Naina.
"Memangnya sebelumnya Kak Aga tidak tinggal di rumah ini?" Tanya Naina yang sejak tadi bertanya-tanya dengan apa yang didengarnya.
Agatha mengangguk lemah. "Kak Aga lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri setelah kepergian Mama." Agatha pun mulai menceritakan kisah sedih keluarganya setelah kepergian Mamanya beberapa tahun yang lalu.
Hingga beberapa menit berlalu bercerita, pembicaraan mereka pun terhenti saat mendengar suara salam dari depan rumahnya. "Sepertinya itu Bibi Hasna." Agatha segera beranjak dari duduknya.
Naina pun ikut beranjak.
"Bibi Hasna..." Agatha berucap begitu keras dan riangnya saat melihat kedatangan wanita paruh baya yang kini berjalan ke arah mereka.
Namun berbeda hal dengan Naina yang nampak dibuat begitu terkejut melihat siapakah gerangan pria yang kini berada di belakang wanita paruh baya itu.
***
Vote, komen dan likenya dulu yuk baru lanjut😮💨