
Malam bertaburan bintang malam ini menemani Aga dan Naina yang sedang menikmati acara makan malam romantis mereka di salah satu Cafe yang dulunya menjadi tempat ungkapan cinta Aga pada Naina untuk pertama kalinya.
"Tempat ini tidak pernah berubah. Tetap cantik dan membuat hati nyaman." Ucap Naina dengan tersenyum sambil menatap indahnya pemandangan kota dari tempat ia berada.
Aga yang duduk berhadapan dengan Naina pun turut tersenyum. "Jika kau menyukainya, kita bisa terus datang ke tempat ini setiap harinya."
Naina dengan cepat menggeleng. "Tidak perlu, Kak. Aku menyukainya bukan berarti kita harus pergi ke tempat ini setiap hari. Lagi pula makan di tempat seperti ini pasti sangat mahal." Ucap Naina sedikit pelan di akhir kalimatnya.
Aga hampir saja tertawa melihat ekspresi Naina yang sangat lucu saat mengatakan mahal. "Jika kau ingin aku tidak masalah." Lagi pula hanya untuk makan di tempat seperti ini bukanlah hal besar untuk Aga.
"Tidak. Tidak perlu Kak." Naina dengan cepat menggelengkan kepalanya. Menolak keras tawaran Aga.
"Baiklah. Satu kali seminggu saja kalau begitu. Dan jika kau merasa bosan, aku akan mengajakmu ke tempat yang tak kalah indah dari ini."
"Terserah Kakak saja." Ucap Naina menurut.
Kedatangan pelayan yang membawakan hidangan makan malam pun memutuskan percakapan singkat antara mereka.
"Ayo makan dulu." Ajak Aga yang diangguki oleh Naina.
Setelah dua puluh menit menikmati makan malam dalam keheningan, Aga pun mengajak Naina untuk bangkit dan menuntun Naina menuju ujung rooftop.
"Jika dari sini pemandangannya terlihat semakin indah bukan?" Tanya Aga yang saat ini berdiri di belakang Naina.
Naina mengangguk tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Aga. "Sangat indah..." Gumamnya sambil menutup mata. Menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya.
"Namun keindahannya tidak seindah wajahmu, Naina..." Ucap Aga dengan lembut hingga membuat Naina membuka kedua kelopak matanya.
"Apa maksud ucapanmu, Kak?" Tanya Naina sedikit terkejut.
Aga menghela nafas panjang lalu menatap pada langit. "Mamaku sudah berada di atas sana saat ini."
Naina mengikuti arah pandangan Aga. "Kakak..." Naina tertegun saat menyadari maksud ucapan Aga.
"Ya. Mamaku telah pergi meninggalkanku sejak tujuh tahun yang lalu." Kedua mata Aga nampak berembun saat menyebutkan kenyataan yang sangat sulit ia terima hingga saat ini.
"Tujuh tahun yang lalu, menjadi hari yang paling menyakitkan di dalam hidupku. Hari yang menjadi terakhir kalinya aku melihat wajah teduh dan damai yang selalu menemani hari-hariku selama dua puluh dua tahun aku hidup di dunia."
"Kecelakaan maut yang menimpa Mama dan Papaku waktu itu merenggut nyawa Mama dari kehidupanku yang saat itu tengah menunggu kehadirannya di acara wisudaku. Hari yang aku kira menjadi hari membahagiakan di dalam hidupku karena telah mewujudkan harapan Mama untuk menjadi wisudawan terbaik ternyata menjadi hari yang paling menyakitkan karena di hari yang bersamaan aku harus kehilangan sosok wanita yang paling berharga di dalam hidupku."
Naina begitu tertegun. Sosok Aga yang ia lihat selama ini selalu dingin dan pendiam itu kini menunjukkan sisi kelemahannya saat menceritakan sosok wanita yang paling berharga di dalam hidupnya. Bahkan saat ini Naina dapat melihat cairan bening itu hampir terjatuh di kedua pelupuk mata Aga.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺