
"Nda tapek kok, ayo Tak lali lagi!" Ajak gadis kecil itu lalu mengangkat kepalanya hingga pria yang tengah menatap aktivitas mereka dapat melihat wajah gadis kecil itu dengan jelas.
"Kalau capek bilang ya." Ucapnya lagi yang diangguki oleh gadis kecil itu. Mereka pun kemudian berlari meninggalkan pria yang masih nampak mematung di tempatnya.
"Daniel..." Tepukan di bahunya membuat lamunan Daniel terhenti.
"Ada apa?" Tanya Daniel dengan datar pada Kevin.
"Kenapa kau berhenti di sini? Ayo lari lagi!" Ajaknya.
Daniel mendengus lalu kembali melanjutkan olah raga paginya.
Kenapa suaranya tidak asing di telingaku. Dan wajah gadis kecil tadi mengingatkanku pada seseorang. Batin Daniel sambil terus berlari menyusuri jalanan taman.
"Duduk dulu, yuk. Kasian itu adik Naina udah capek." Ajak Sasa pada Aga, Dimas dan Thoriq sambil melihat pada Naina yang sedang berlari kecil bersama Zeline ke arah mereka.
"Ayo. Duduk dulu aja. Biar aku beli minum dulu." Ucap Dimas kemudian beranjak pergi.
"Zel sudah capek tuh, Nai. Mending kita duduk dulu di sana." Ajak Sasa pada Naina sambil menunjuk pada kursi bulat yang berada tidak jauh dari mereka.
"Baiklah, ayo." Balas Naina kemudian memegang tangan Zeline untuk mengikutinya.
"Zeline biar aku gendong saja." Ucap Aga saat melihat wajah lelah Zeline.
"Ndong Tak!" Seru Zeline mengulurkan tangannya pada Aga.
Aga tersenyum tipis lalu menggendong tubuh Zeline.
Sasa yang melihat interaksi mereka nampak terbelalak melihat sikap hangat Aga untuk pertama kalinya.
"Dia kesambet setan apa?" Kepala Sasa menggeleng sambil mengikuti langkah Aga menuju kursi.
Sedangkan Naina yang masih terdiam di tempatnya merasakan perasaan hangat di dalam dadanya melihat sikap Aga yang begitu perhatian pada putrinya.
"Naina... Ayo!" Ajak Sasa saat melihat Naina masih mematung.
"Agh, iya." Naina buru-buru melangkah menyusul Aga.
"Buka dulu sepatunya. Takutnya kakinya merah ini." Ucap Aga lalu membuka sepatu Zeline.
"Eh kok bisa merah gini?" Naina nampak khawatir melihat bagian kaki putrinya memerah.
"Tidak usah cemas. Ini disebabkan karena kulit kakinya beradu dengan kulit sepatunya." Ucap Aga menenangkan Naina.
"Hah?" Lagi-lagi Sasa dibuat terperangah dengan tingkah Aga. Apa gunung es sudah mulai mencair? Batin Sasa berteriak.
Tak lama Dimas dan Thoriq pun sudah kembali bergabung bersama mereka.
"Ini minum dulu." Ucap Dimas menyerahkan beberapa botol minuman di depan teman-temannya.
"Terimakasih ya." Ucap Naina lalu membuka penutup botol minuman dan memberikan Zeline minum.
"Kau sudah seperti seorang Ibu yang begitu menyayangi anaknya saja, Nai." Ujar Thoriq yang sejak tadi memperhatikan tingkah Naina.
Naina tertegun. Pandangannya pun tertuju pada Thoriq lalu tersenyum. "Ya. Aku hanya belajar menjadi Ibu yang baik nantinya." Balas Naina dengan bercanda namun tersirat keseriusan di dalamnya.
Thoria tertawa. "Apa kau sudah berniat untuk menikah, hem?" Goda Thoriq sambil menarik sebelah alisnya ke atas.
Naina kembali dibuat tertegun. Memikirkannya saja aku tidak berani. Lagi pula siapa pria yang mau dengan wanita sepertiku? Jawab Naina dalam hati.
Melihat Naina yang terdiam membuat Dimas yang duduk di samping Thoriq langsung menyikut lengan Thoriq.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Semua orang pasti mau menikah, namun waktunya saja yang belum tau kapan." Cetus Sasa mencairkan suasana.
"Sasa benar." Balas Naina lalu tersenyum palsu.
Tak jauh dari mereka berkumpul, empat orang pria bertubuh tinggi nampak memusatkan pandangannya pada pria dan wanita yang terlihat duduk bersebelahan.
"Bukannya itu Kak Aga? Dan wanita yang di sampingnya... Kenapa aku seperti mengenalnya." Ucap Dio yang membuat perhatian mereka semakin tertuju pada Aga dan Naina.
***
Lanjut lagi kalau like, komen dan votenya banyak deh... Komen yuk... Masa enggakk... Biar aku makin smgt ini. Hehe☺